Etalase

Kesombongan Tersembunyi Ataukah Ketakutan?

catrawarta.com — Beberapa seniman menganggap keheningan sebagai kasta tertinggi. Bagi mereka, ini adalah puncak proses kreatif sekaligus pencapaian spiritual. Maknanya bukan sekadar...

Karya “Hyperabstract-15042025” (Dok. Penulis)

catrawarta.comBeberapa seniman menganggap keheningan sebagai kasta tertinggi. Bagi mereka, ini adalah puncak proses kreatif sekaligus pencapaian spiritual. Maknanya bukan sekadar sepi, tapi penarikan diri dari dunia.

Narasi ini sering muncul dalam teks-teks reflektif yang sok tenang. Isinya terasa bijak, tapi sebenarnya angkuh dan sulit disentuh. Seolah perupa yang “sah” hanyalah mereka yang mengunci rapat pintu studio. Di sini, keheningan dipuja sebagai segel kemurnian. Ia dianggap steril dari “polusi” opini atau perdebatan luar. 

Padahal, di balik selimut ketenangan yang terkesan agung itu, sedang merayap sebentuk kesombongan. Keheningan ini sering kali hanyalah topeng untuk menutup diri dari dunia yang nyata.

Pemujaan berlebihan terhadap “sunyi” ini sering kali cuma jadi tameng untuk menghindar dari kritik publik. Muncul kesan bahwa karya seni itu suci dan tidak boleh dikotori oleh hiruk-pikuk teori atau perdebatan. Padahal, jika kita tengok sejarah seni rupa dunia, jantungnya justru berdegup lewat kegaduhan gagasan yang saling bentrok.

Tanpa gesekan pendapat, seni hanya akan berakhir jadi barang dagangan visual yang bisu. Keheningan yang dipaksakan sejatinya adalah bentuk eksklusivitas yang menutup pintu bagi dialog sehat dan mencerahkan.

Jim Supangkat (tokoh penting seni rupa kontemporer) berkali-kali mengingatkan, bahwa seni kontemporer adalah ruang temu lintas gagasan. Di sana, tidak ada tempat bagi satu kebenaran tunggal yang absolut. Sifatnya harus terbuka, bukan anti-gugat.

Namun, bibit kesombongan sering muncul saat seniman merasa karyanya sudah mutlak beres. Mereka mendadak enggan berdiskusi. Karya pun dianggap serupa wahyu suci yang tabu dibedah nalar publik. Padahal, tanpa keberanian menghadapi benturan pemikiran, seni akan mati. Ia kehilangan daya hidup sosialnya. Relevansinya dalam konstelasi seni rupa pun pelan-pelan akan luntur.

Gejala ini makin telanjang dalam dinamika seni rupa saat ini. Pasar seni yang sedang bergeliat justru sering memanjakan seniman dengan zona nyaman. Ironisnya, kondisi ini sangat berisiko bagi nalar kreatif. Nalar kritis perlahan tumpul karena seniman terlalu asyik fokus pada arus materi. Fokus mereka hanya untuk menciptakan karya-karya yang ditujukan untuk dekorasi, yang cantik dan tenang. Target utamanya jelas: laku keras di art market.

Karya semacam ini memang tidak butuh beban narasi yang jelimet dan perdebatan yang melelahkan. Akibatnya, banyak perupa jadi malas masuk ke ruang diskusi yang tajam. Mereka enggan membedah konsep karyanya sendiri secara terbuka dan detil di hadapan publik. Muncul ketakutan kalau argumen intelektualnya bisa merusak potensi karyanya di pasar seni. Di sinilah, pasar telah berhasil membungkam daya kritis demi kelangsungan transaksi semata.

Mikke Susanto (seorang akademisi, penulis, kurator, serta pegiat literasi dan arsip seni rupa), menegaskan bahwa wacana adalah elemen vital bagi oksigen pameran. Tanpa wacana yang kokoh, karya seni rupa berisiko cuma jadi benda mati yang terpajang dingin di dinding galeri. Wacana bukan sekadar bumbu penyedap di katalog kuratorial agar pameran terlihat keren. Ia adalah alat uji publik untuk menakar sejauh mana karya itu masih punya nyawa di tengah perubahan zaman yang selalu berubah dengan cepat.

Kesombongan tersembunyi ini juga muncul lewat rupa anti-intelektualisme yang akut di lingkaran perupa. Ada kecenderungan kolektif untuk memusuhi teori karena dianggap bakal merusak keaslian intuisi. Padahal, intuisi tanpa kawalan nalar kritis cuma akan terjebak dalam pengulangan estetika yang itu-itu saja. Seni kontemporer menuntut lebih dari sekadar otot tangan atau keterampilan teknis di atas kanvas. Ia butuh posisi yang jernih dan keberanian untuk terlibat dalam konflik pemikiran yang nyata.

Kurator Agung Hujatnikajennong mencatat bahwa praktik seni hari ini bergerak lewat jaringan dialog global yang sangat luas. Seni rupa menuntut transparansi gagasan dan peran kurasi yang aktif sebagai jembatan. Seniman tidak bisa lagi sok jenius, berdiri sendirian, dan mengasingkan diri dari kenyataan dunia. Mereka adalah bagian organik dari ekosistem yang seharusnya saling memengaruhi dan berani saling mengoreksi satu sama lain.

Dalam pameran-pameran seni rupa yang semakin marak digelar ada gejala yang agak mengkhawatirkan. Banyak karya hadir dengan kualitas teknis jempolan, tapi narasi dan konsepnya terasa sangat melompong. Diskusi seni seringkali cuma jadi acara basa-basi tanpa perdebatan yang benar-benar menusuk jantung masalah. Itu pun bukan diskusi sebagai pertanggungjawaban seniman atas karya-karyanya. Bahkan tidak jarang, dalam suatu pameran tidak dibuka ruang diskusi. Pameran tersebut semata-mata hanya untuk memajang karya. Kondisi ini secara perlahan namun pasti tentu akan membunuh daya kritis dalam ekosistem seni rupa.

Sosiolog Yasraf Amir Piliang menyebut kebudayaan kontemporer kita sekarang hidup dalam “rimba tanda” yang super padat. Dalam rimba ini, tidak ada satu objek pun yang bisa berdiri tegak tanpa konteks sejarah dan sosial yang mengikatnya. Menolak bahasa dan wacana adalah usaha sia-sia untuk memutus hubungan seni dengan realitas sosial yang ada. Kesunyian studio yang diagung-agungkan itu sering kali cuma cara untuk lari dari tanggung jawab intelektual. Apakah itu kesombongan karena merasa tak butuh dunia, atau ketakutan karena tak siap menghadapi dunia?

Tanggung jawab seniman bukan sebatas bikin sesuatu yang enak dilihat mata pemirsa saja. Ia memikul beban untuk menyingkap kemungkinan-kemungkinan cara pandang berbeda, yang lebih kritis terhadap persoalan dunia yang makin kompleks. Tawaran gagasannya harus berani dipertanggungjawabkan di ruang publik yang terang benderang. Kesombongan muncul saat seniman merasa tidak butuh lagi belajar ilmu lain di luar seni rupa. Mereka merasa otoritas artistik pribadi sudah cukup sakti untuk melegitimasi apapun yang mereka bikin.

Belum lagi soal ledakan teknologi digital dan AI yang mulai mengancam posisi tawar seniman konvensional. Kalau seniman tetap keras kepala dalam keheningan yang sombong, mereka bakal sangat mudah digilas zaman. Seni rupa butuh keterbukaan mental untuk terus diuji, dihajar kritik, dan kalau perlu didekonstruksi oleh publik. Kritik itu bukan musuh yang harus dijauhi, melainkan kawan diskusi untuk melihat titik buta yang tak nampak dari dalam studio.

Maka, sudah waktunya dinding pembatas antara ruang sunyi dan ruang riuh ini dirobohkan. Keheningan memang tetap perlu untuk mengendapkan ide, tapi dialog adalah kewajiban untuk mematangkan makna di masyarakat. Seni yang kuat adalah seni yang sanggup berdiri kokoh di tengah badai interpretasi yang paling sadis sekalipun. Ia tidak akan jadi rapuh hanya karena diberi teks penjelasan atau dibedah habis-habisan secara teoritis.

Kadar rendah hati dalam berkesenian itu sejatinya diuji dari kesediaan untuk membuka diri. Seni rupa Indonesia hari ini sangat butuh perdebatan seni yang jujur, tajam, dan transparan. Menghindari keributan gagasan hanya akan membuat ekosistem seni rupa jalan di tempat. Ia akan menjadi kaku dan membosankan bagi generasi mendatang.

Kita harus berani bertanya pada diri sendiri. Apakah keheningan ini adalah bentuk kematangan, atau justru ketakutan akan rapuhnya gagasan? Jangan biarkan penyakit “kesombongan tersembunyi” ini terus tumbuh subur. Ia sering kali bersembunyi di bawah topeng kebijaksanaan palsu yang menyesatkan. Kita tidak boleh membiarkan rasa takut terhadap kritik membunuh daya kritis itu sendiri.

Purwosari, 17 Maret 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *