catrawarta.com — Kasus Jule, isu perselingkuhan seorang figur media sosial sebetulnya tidak pantas disebut peristiwa publik. Ini bukan kejadian yang berdampak struktural, tidak memengaruhi kebijakan dan tidak memberi pengetahuan apa pun selain urusan pribadi orang lain. Makin parah, gosip personal semacam itu naik kelas menjadi konsumsi massal, sementara isu pendidikan, kesehatan mental, ketimpangan ekonomi, hingga krisis kepercayaan publik tenggelam tanpa perlawanan. Ironisnya isu semacam ini berhari-hari memenuhi trending topic dan timeline, persoalannya bergeser dari apa yang terjadi menjadi bagaimana masyarakat memilih apa yang layak diberi perhatian.
Fenomena ini tidak terjadi secara kebetulan. Konten seperti kasus Jule bekerja dengan bahan bakar paling murah dan paling efektif: hasrat primitif manusia. Rasa ingin tahu, kemarahan moral, dan dorongan untuk merasa lebih benar dari orang lain.
Dari sudut pandang psikologi, kecenderungan ini memiliki akar evolusioner. Psikolog evolusioner Robin Dunbar menjelaskan bahwa aktivitas bergosip merupakan bagian dari mekanisme sosial manusia modern. Menurut Dunbar, “gosip membantu manusia membangun dan menjaga ikatan sosial serta membaca dinamika kelompok dengan memantau reputasi satu sama lain,” meskipun kontennya tidak selalu penting secara substansial. Dengan kata lain, sesuatu bisa ramai bukan karena bernilai, melainkan karena ia memuaskan naluri sosial paling dasar.
Namun naluri ini tidak berdiri sendiri. Ahli komunikasi menyoroti peran media dan algoritma dalam memperkuat pola tersebut. Teori agenda setting yang dikembangkan Maxwell McCombs dan Donald Shaw menunjukkan bahwa media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk persepsi publik tentang apa yang dianggap penting. Ketika media sosial dan platform berita terus-menerus menyoroti konten sensasional, publik terdorong memprioritaskan isu-isu itu, bahkan ketika secara objektif isu tersebut miskin nilai dan tidak substansial.
Meski demikian, menyalahkan algoritma sepenuhnya adalah jalan pintas yang malas. Algoritma tidak bekerja di ruang hampa. Ia hidup dari klik, komentar, dan kemarahan publik itu sendiri. Ketika masyarakat beramai-ramai mengeroyok isu perselingkuhan, itu bukan karena isu tersebut penting, melainkan karena publik memilih memberi perhatian. Dan perhatian adalah suara paling jujur dari nilai yang dianut sebuah masyarakat.
Dalih “sanksi sosial” sering digunakan untuk membenarkan penghakiman massal. Namun klaim ini rapuh. Jika benar penghakiman publik efektif menciptakan efek jera, perselingkuhan sudah lama punah. Faktanya, laporan kasus rumah tangga dan konflik relasi terus muncul setiap hari di berbagai laporan intansi daerah. Artinya jelas: kerumunan yang marah tidak pernah menyelesaikan masalah, hanya melampiaskan frustrasi kolektif.
Yang lebih berbahaya, kebiasaan ini perlahan membentuk budaya. Kita menormalisasi penghakiman, menghabiskan energi publik untuk hal-hal yang tidak produktif, dan menjadikan kemarahan sebagai hiburan. Ini bukan kontrol moral, melainkan kemalasan berpikir yang dikemas sebagai kepedulian. Orang yang benar-benar cerdas dan berkelas memahami bahwa energi adalah sumber daya terbatas. Mereka menjauh dari konten yang padat racun emosional dan memilih fokus pada peningkatan kualitas hidup, pengetahuan, serta kontribusi nyata.
Jika isu selingkuh seorang figur internet mampu mendominasi ruang publik lebih lama daripada persoalan yang menyangkut masa depan bersama, maka ini bukan sekadar kegagalan algoritma atau media. Ini adalah cermin kebiasaan masyarakat yang keliru menaruh fokus, lebih gemar mengunyah kebusukan daripada menghadapi isu yang menuntut akal, keberanian, dan kedewasaan. Peradaban tidak runtuh karena kekurangan informasi, melainkan karena publik terus-menerus memilih yang remeh, yang murah secara intelektual, dan yang paling memuaskan hasrat primitifnya.

PPP Tetap Percaya Diri, Walau Tak Punya DPR 