Catra Budaya

Melestarikan ‘Nyadran Lepen’ – Merawat Air Agar Terus Mengalir

catrawarta.com — Ratusan petani di lereng Gunung Sumbing, tepatnya di Dusun Lamuk Gunung, Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo Temanggung berjalan beriringan menuju sumber...

Warga berebut gunungan saat tradisi Nyadran Lepen di sumber mata air lereng Gunung Sumbing

catrawarta.comRatusan petani di lereng Gunung Sumbing, tepatnya di Dusun Lamuk Gunung, Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo Temanggung berjalan beriringan menuju sumber mata air yang berada di ujung pemukiman, Senin (5/1/2026).

Mereka beriringan membawa gunungan yang berisi hasil bumi dan tenong penuh makanan. Langkah mereka tegap dan semangat dengan timpalan tetabuhan gamelan dan tradisi magis uda lumping.
Di tengah-tengah mereka terlihat Bupati Temanggung Agus Setyawan, bergabung dalam barisan rakyat yang sedang berikrar, bahwa air harus tetap mengalir, pohon harus tetap berdiri dan alam tetap lestari.

Sesampai di sumber mata air, prosesi upacara adat dimulai dipimpin tokoh masyarakat dan sesepuh dusun. Suasana khidmat mencerminkan harmoni tradisi dan pesan pelestarian alam yang coba dirawat lintas generasi. Bupati Agus Setyawan menegaskan, tradisi Nyadran Lepen bukan sekadar ritual adat, melainkan ikhtiar kolektif merawat keberlanjutan air dan lingkungan. “Sumber air harus selalu dijaga. Ini bukan hanya soal manfaat air, tetapi menjaga lingkungan untuk menghindari bencana, seperti yang terjadi di Sumatera,” kata Bupati di sela-sela prosesi tersebut.

Ia mengatakan, kelestarian alam termasuk keberadaan pepohonan dan penghijauan di sekitar mata air, menjadi benteng ekologis yang harus dipertahankan untuk mencegah potensi bencana. Bupati menyebut, iktikad dan partisipasi warga menjadi modal besar keberhasilan konservasi budaya maupun alam.

Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Temanggung berkomiten terus mendampingi warga dalam ranah kebudayaan dan pelestarian lingkungan. Ia menilai, tradisi tersebut sekaligus menjadi refleksi bagaimana warga berupaya memastikan mata air tetap mengalir dengan cara menjaga ekosistem di sekitarnya. Agus kembali mengingatkan pentingnya penghijauan di kawasan sumber air. “Di sekitar mata air harus ada penghijauan. Harus ada pepohonan. Jika ingin air terus mengalir, alamnya dulu yang harus kita jaga,” ujarnya.

Ia mendorong warga, komunitas dan pemerintah desa memperluas penanaman pohon di titik-titik resapan air di sekitar dusun dan kawasan mata air.

Sesepuh Desa Bandel, Sukoyo mengatakan, tradisi Nyadran Lepen akan terus digelar sebagai pengingat, air dan alam adalah titipan yang harus dijaga bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *