catrawarta.com — Ia hidup di sebuah masa ketika masa depan perempuan seringkali telah memiliki bentuknya sendiri, bahkan sebelum mereka sempat menanyakannya. Dunia tidak selalu melarang mereka belajar. Ia hanya tidak merasa perlu memberi mereka seluruhnya.
Batas itu tidak selalu terlihat sebagai batas. Ia hadir sebagai kebiasaan. Sebagai sesuatu yang diterima tanpa perlu dijelaskan. Perempuan tumbuh di dalamnya, menjalani kehidupan yang telah disiapkan, tanpa selalu memiliki alasan untuk mempertanyakan mengapa kehidupan itu harus demikian.
Namun tidak semua orang sepenuhnya dapat hidup di dalam batas yang tidak pernah mereka pilih.
Kegelisahan seperti itulah yang tumbuh dalam diri Rahmah El Yunusiyah. Ia tidak muncul sebagai penolakan yang keras. Ia hadir sebagai kesadaran yang perlahan menjadi jernih: bahwa ada sesuatu yang tidak utuh ketika manusia tidak diberi kesempatan untuk memahami dunia secara penuh.
Ia lahir di Padang Panjang pada 1900, di sebuah lingkungan yang, seperti banyak tempat lain pada zamannya, belum sepenuhnya melihat pendidikan perempuan sebagai sesuatu yang mendesak. Tetapi Rahmah melihat sesuatu yang lain. Ia melihat bahwa masa depan tidak pernah benar-benar netral. Ia selalu dibentuk oleh siapa yang diizinkan untuk memahaminya.
Pada 1923, ia mendirikan Diniyyah Puteri. Keputusan itu, bagi sebagian orang, mungkin hanya tampak sebagai pendirian sebuah sekolah. Tetapi bagi Rahmah, ia adalah cara untuk membuka sesuatu yang sebelumnya tertutup. Sebuah ruang di mana perempuan tidak hanya hadir, tetapi berpikir. Tidak hanya menerima, tetapi memahami.
Di ruang itu, pendidikan tidak berdiri sebagai kumpulan pelajaran. Ia menjadi cara untuk membentuk hubungan baru antara manusia dan dirinya sendiri. Perempuan belajar agama, ilmu pengetahuan, dan keterampilan hidup—bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai bagian dari keutuhan mereka sebagai manusia.
Rahmah memahami sesuatu yang sering luput disadari: bahwa kemerdekaan tidak dimulai ketika sebuah bangsa berdiri sendiri, tetapi ketika manusia di dalamnya mampu berdiri dengan kesadarannya sendiri.
Ia tidak berbicara tentang perlawanan dalam bentuk yang keras. Ia tidak mengangkat slogan. Ia membangun sesuatu yang lebih sunyi, tetapi lebih bertahan lama.
Sebuah sekolah
Ketika pendudukan Jepang membawa ketakutan dan merendahkan martabat banyak perempuan, Rahmah tidak sepenuhnya diam. Ia menjaga ruang yang ia bangun tetap menjadi tempat di mana manusia diperlakukan sebagai manusia. Ia menolak menerima bahwa keadaan yang tidak adil harus dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Ketika revolusi berlangsung, ia mengambil peran yang lain. Ia membantu memastikan para pejuang memiliki apa yang mereka butuhkan untuk terus bertahan. Ia memahami bahwa kemerdekaan tidak hanya bergantung pada mereka yang terlihat, tetapi juga pada mereka yang bekerja tanpa terlihat.
Ia pernah ditahan. Ia pernah dibatasi. Tetapi apa yang telah ia mulai tidak ikut berhenti.
Sekolah itu tetap hidup. Murid-murid tetap belajar. Dunia tetap bergerak, membawa sebagian dari keyakinannya ke masa depan yang bahkan tidak dapat ia saksikan sepenuhnya.
Rahmah tidak mencoba mengubah dunia sekaligus. Ia mengubahnya melalui manusia. Melalui cara mereka dididik. Melalui cara mereka memahami diri mereka sendiri.
Ia tidak mengangkat senjata. Ia mengangkat kemungkinan.
Ia wafat pada 1969. Tetapi seperti banyak hal yang lahir dari keyakinan yang jernih, apa yang ia bangun tidak ikut berakhir bersamanya. Ia tetap hidup dalam bentuk yang berbeda: dalam ruang kelas, dalam pikiran yang terbuka, dalam manusia yang tidak lagi melihat batas sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah.
Rahmah menunjukkan bahwa kemerdekaan tidak selalu dimulai dari peristiwa besar. Ia sering dimulai dari sesuatu yang lebih tenang, lebih mendasar, dan lebih mudah diabaikan.
Ia dimulai dari cara manusia dididik.
Dan dalam keyakinannya, masa depan sebuah bangsa selalu dapat dikenali dari cara ia mendidik perempuannya.

Pendidikan Bukan Dana Sisa 