Warta

Kabupaten Karanganyar Siapkan Lahan Lumbung Bawang Putih Nasional

catrawarta.com — Kabupaten Karanganyar Jateng, bukan hanya memiliki objek wisata Tawangmangu yang sejuk dan indah, termasuk air terjun grojogan sewunya, namun kini...

Komisi IV DPR RI ketika melakukan kunjungan kerja ke Karanganyar.

catrawarta.comKabupaten Karanganyar Jateng, bukan hanya memiliki objek wisata Tawangmangu yang sejuk dan indah, termasuk air terjun grojogan sewunya, namun kini Kabuaten Karanganyar juga sedang disiapkan menjadi salah satu lumbung bawang putih nasional.

Kesiapan ini untuk mendukung program swasembada pangan dan mengurangi ketergantungan impor. Lereng Gunung Lawu dinilai cocok untuk pengembangan tanaman ini. Wakil Bupati Karanganyar Adhe Eliana saat menerima kunjungan kerja spesifik Komisi IV DPR RI dalam agenda penguatan perbenihan hortikultura, menyebutkan, Karanganyar memiliki modal kuat untuk berperan dalam swasembada bawang putih. Selain telah mencapai surplus beras, kondisi agroklimat (suhu, curah hujan, kelembaban dan angin) dimilai sesuai untuk pengembangan bawang putih.

“Petani kita siap, lahannya ada dan pendampingannya berjalan. Untuk bawang putih, potensinya juga besar, hanya saja selama ini belum dimaksimalkan karena keterbatasan benih dan kebijakan yang belum berpihak penuh,” ujarnya di Balai Benih Tawangmangu.

Menurut Adhe, ketergantungan Indonesia terhadap impor bawang putih seharusnya bisa dikurangi secara bertahap jika daerah-daerah potensial seperti Karanganyar mendapat dukungan serius dari pemerintah pusat. Ia menilai persoalan utama bukan pada minat petani, melainkan pada ketersediaan benih unggul dan kepastian pasar.

“Petani mau menanam kalau benihnya jelas, produktivitasnya tinggi, dan ada jaminan harga. Kalau ini dipenuhi, kami yakin petani Karanganyar siap memperluas tanam bawang putih,” tandasnya.
Adhe juga menekankan pentingnya penguatan perbenihan lokal agar tidak terus bergantung pada benih impor. Ia berharap pemerintah pusat melalui Komisi IV DPR RI dapat memfasilitasi pengembangan penangkar benih bawang putih di daerah, sekaligus memperkuat peran Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani).

Pada sisi lain, Wakil Bupati Karanganyar berpesan, tak hanya menjadi lokasi tanam, tapi juga pusat perbenihan. Dengan begitu, Karanganyar bisa berkontribusi lebih besar terhadap ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petan.
Selain aspek produksi, Adhe menegaskan komitmen Pemkab Karanganyar untuk tetap menjaga keseimbangan lingkungan, mengingat sebagian wilayah pertanian berada di kawasan hulu. Ia menyatakan pengembangan bawang putih akan diarahkan sejalan dengan prinsip konservasi tanah dan air.

“Kami sadar Karanganyar berada di wilayah hulu. Karena itu, setiap pengembangan hortikultura akan kami dorong tetap ramah lingkungan, dengan pendampingan teknis dan konservasi lahan,” katanya.
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Abdul Kharis Almasyhari menegaskan, swasembada bawang putih sangat mungkin diwujudkan. Ia menyebut lahan di Indonesia lebih dari cukup, sementara kendala utama terletak pada perbenihan.

“Kalau perbenihan diperkuat dan impor tidak lagi jadi andalan, swasembada bawang putih bisa segera tercapai. Apalagi jika harga minimalnya dipatok seperti gabah, petani pasti sejahtera,” ujarnya.
Menurutnya, sektor hortikultura tidak hanya berperan sebagai sumber gizi dan pangan segar bagi masyarakat, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi pedesaan. Namun demikian, tantangan yang dihadapi ke depan semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, degradasi lahan, penurunan kualitas tanah dan air, hingga keterbatasan benih bermutu yang adaptif terhadap kondisi agroekologi setempat.

Ia menekankan, penguatan perbenihan hortikultura harus berjalan seiring dengan upaya konservasi tanah dan air. Menurutnya, benih unggul hanya akan memberikan hasil optimal apabila ditanam di lahan yang subur, memiliki sistem tata air yang baik serta dikelola secara berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan integrasi kebijakan dan program lintas sektor, melibatkan bidang pertanian, kehutanan, lingkungan hidup, pangan serta dukungan dari BUMN dan pemerintah daerah.

Berdasarkan diskusi dengan satuan kerja terkait, swasembada bawang putih dinilai sangat mungkin diwujudkan di Indonesia. Permasalahan utama terletak pada ketersediaan dan pengembangan perbenihan. Dengan luas lahan yang dinilai lebih dari cukup, peningkatan produksi benih serta penetapan harga minimal yang menguntungkan petani diyakini dapat mendorong percepatan swasembada.

Sementara itu Badan Pangan Nasional menilai hortikultura memiliki peran strategis dalam ketahanan pangan nasional, tidak hanya sebagai sumber pangan dan gizi masyarakat, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi pedesaan. Namun, tantangan sektor pangan ke depan dinilai semakin kompleks.

Kementerian Kehutanan menyatakan dukungan terhadap pengembangan bawang putih di Karanganyar, dengan catatan tetap memperhatikan kaidah konservasi, mengingat daerah tersebut berada di kawasan hulu Sungai Bengawan Solo yang memiliki tingkat kerentanan erosi cukup tinggi.

Kementerian Kehutanan menilai pengembangan hortikultura dapat berjalan seiring dengan program rehabilitasi hutan dan lahan (RHL), terutama di kawasan yang telah lama berinteraksi dengan aktivitas masyarakat. Tanaman hortikultura dan buah-buahan dinilai mampu menjembatani kepentingan konservasi dan ekonomi warga.

Selain itu, Kementerian Kehutanan mengungkapkan telah mengembangkan berbagai bibit produktif hortikultura di persemaian milik negara, termasuk tanaman buah dan multi purpose tree species (MPTS).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *