catrawarta.com — Berkali-kali dikhianati dalam proses perdamaian, Iran kini menolak gencatan senjata. Pasukan mereka akan terus melancarkan serangan hingga musuh benar-benar menyerah. Demikian siaran Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Mohammad Bagher Zolqadr dalam pernyataannya di Kantor Berita Iran, IRNA.
Ia menegaskan pasukan Iran akan terus melancarkan serangan hingga musuh menyerah sepenuhnya. Langkah tersebut juga sebagai pembalasan atas kematian anak-anak Iran yang tidak berdosa.
Dalam sebuah pesan pada akhir pekan lalu, Zolqadr menyatakan bahwa setiap kepulan asap yang terlihat di wilayah tersebut menandakan adanya serangan terhadap pusat militer, keamanan, atau keuangan Amerika Serikat.
”Serangan berkelanjutan dan terarah yang dilakukan para pejuang kami merupakan cambuk kemarahan bangsa Iran yang bangkit melawan sistem dominasi,” tandasnya.
Pejabat tersebut merujuk pada serangan AS-Israel yang menyasar lokasi-lokasi sipil di seluruh Iran termasuk di kota Minab dan Lamerd di wilayah selatan, selama perang agresi yang dilancarkan kedua rezim tersebut terhadap Iran pada akhir Februari lalu.
Warga sipil, termasuk anak-anak, meninggal dalam serangan AS-Israel yang menyasar sekolah, pusat olahraga, serta berbagai lokasi sipil lainnya. Salah satu yang sangat dihindari negara berperang yakni menyasar sipil terlebih anak-anak yang tak berdosa.
Hitung Kerugian Lawan
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah menghitung secara rinci daftar aset militer AS yang mengalami kerusakan parah akibat serangan terbaru Angkatan Bersenjata Iran sebagai tanggapan atas agresi AS terhadap negara tersebut.
Juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohebi, menyatakan jumlah korban jiwa di pihak AS akibat pelanggaran memorandum kesepakatan damai Islamabad telah melampaui angka 200 orang.
Mohebi menambahkan bahwa angka-angka yang dirilis pihak Amerika terkait korban jiwa adalah kebohongan belaka; jumlah korban tewas Amerika dalam Operasi Nasr-2 melebihi 200 orang, dan jumlah korban luka jauh lebih tinggi.
Ia melanjutkan bahwa dalam serangan terhadap target-target Amerika, IRGC menghantam delapan pusat pengerahan pasukan; dalam satu kejadian saja, dua puluh hanggar hancur.
Mohebi menambahkan bahwa rakyat Amerika sebaiknya tidak membiarkan para komandan mereka yang gemar berbohong memperlakukan mereka layaknya orang bodoh.
Ia menegaskan bahwa pemerintah AS seharusnya mengundang para jurnalis untuk melihat lokasi-lokasi yang terdampak dan menilai jumlah korban.

Monyet Peliharaan Lepas Berkeliaran, Ibarbo Park Masih Berupaya Tangkap 