catrawarta.com — Berkurangnya jumlah siswa sekolah dasar di sejumlah daerah bukan karena sekolah – terutama negeri – kurang bermutu. Ada pula sekolah swasta mengalami hal yang sama. Kualitas sekolah bukan satu-satunya faktor, namun yang jauh lebih penting yakni menurunnya angka kelahiran.
Selain itu, perubahan demografi, perpindahan penduduk, perkembangan kawasan permukiman, dan perubahan preferensi masyarakat turut memengaruhi jumlah peserta didik di setiap sekolah. Sekali lagi, bukan pertanda menurunnya kualitas pendidikan.
Pengamat pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Endro Dwi Hatmanto PhD mengungkapkan hal itu merespons turunnya peserta didik di sejumlah sekolah. Menurutnya, penurunan angka kelahiran menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhitungkan dalam membaca fenomena tersebut.
Ia mengutip Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan angka kelahiran total atau Total Fertility Rate (TFR) Indonesia menurun dari 5,61 anak per perempuan pada 1971 menjadi 2,18 anak per perempuan pada 2022.
Penurunan menunjukkan jumlah anak yang dilahirkan setiap perempuan selama masa reproduksinya terus berkurang dalam lima dekade terakhir.
Penurunan angka kelahiran secara bertahap turut memengaruhi jumlah anak usia sekolah di berbagai wilayah. Kendati demikian, persoalan sekolah dengan jumlah murid sedikit merupakan fenomena kompleks yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu faktor.
Kompleks dan Banyak Faktor
”Tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa sekolah-sekolah tersebut gagal atau kualitasnya buruk. Persoalan ini jauh lebih kompleks. Ada perubahan demografi, perpindahan penduduk, munculnya kawasan permukiman baru, hingga persebaran sekolah yang mungkin sudah tidak lagi sesuai dengan persebaran anak usia sekolah,” papar Endro.
Persoalan utamanya bukan sekadar sekolah kehilangan peminat, melainkan persebaran sekolah masih relevan dengan kondisi kependudukan saat ini atau tidak. Sekolah yang dahulu dibangun di kawasan padat penduduk dapat kehilangan calon peserta didik ketika wilayah tersebut mengalami penuaan penduduk atau ditinggalkan keluarga muda.
Di samping itu, perubahan pola kehidupan keluarga juga turut memengaruhi jumlah calon peserta didik. Semakin banyak pasangan yang menunda pernikahan atau kelahiran anak, membatasi jumlah anak, bahkan memilih menjalani kehidupan tanpa anak atau childfree.
Faktor demografi bukan satu-satunya penyebab sekolah mengalami kekurangan murid. Ada pula daerah yang sebenarnya masih memiliki banyak anak usia sekolah, tetapi mereka tinggal di kawasan permukiman baru.
Padahal sekolah-sekolah lama berada di wilayah yang penduduknya mulai menua.
Karena itu, Endro menyarankan pentingnya pemetaan ulang antara lokasi sekolah, persebaran penduduk, pembangunan kawasan perumahan, dan jumlah anak usia sekolah. Tanpa perencanaan berbasis data, sekolah dapat tetap berada di wilayah yang tidak lagi memiliki jumlah calon peserta didik memadai, sedangkan kawasan baru justru kekurangan layanan pendidikan.

Soroti Ekspansi Koperasi Desa Merah Putih, Ekonom UGM : Awas Jati Diri Koperasi Hilang 