catrawarta.com — Penyakit hepatitis sering tanpa gejala sehingga seseorang tidak merasakan sakit. Dampaknya, pada satu waktu sudah terlambat dan mengarah ke sirosis hati bahkan kanker hati. Hal itu menjadi bahasan utama dalam World Hepatitis Day (WHD) 2026 yang berlangsung di Yogyakarta.
Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Panitia Pelaksana KONAS & PIN PPHI-PGI-PEGI Yogyakarta 2026 menggelar agenda, berdiskusi, dan menyusun langkah-langkah guna mencegah penyebaran virus hepatitis.
Mereka mengajak masyarakat Indonesia untuk meningkatkan kesadaran terhadap hepatitis melalui deteksi dini, vaksinasi, dan pengobatan yang tepat guna mendukung target eliminasi hepatitis sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada tahun 2030.
Ketua Umum PPHI, Dr Andri Sanityoso mengungkapkan hepatitis virus masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat Indonesia. Banyak penderita hepatitis B dan hepatitis C tidak menyadari dirinya terinfeksi karena sering kali tidak menimbulkan gejala hingga memasuki stadium lanjut.
”Akibatnya, tidak sedikit pasien baru terdiagnosis ketika telah mengalami sirosis hati atau bahkan kanker hati,” ujar Andri dalam keterangannya kepada media di sela-sela acara.
Perkembangan Terkini Hepatitis
Ia menjelaskan pula, pada kesempatan yang sama juga berlangsung peluncuran buku konsensus baru, Buku Konsensus Nasional Penatalaksanaan Hepatitis B di Indonesia 2026, yang memuat perkembangan terkini dalam diagnosis, tata laksana, pemantauan, dan pencegahan hepatitis B di Indonesia, dan Buku Konsensus Nasional Penatalaksanaan Hepatitis C pada Penyakit Ginjal Kronik di Indonesia 2026.
Buku tersebut memuat pembaruan rekomendasi berbasis bukti terkini mengenai skrining, diagnosis, pemilihan terapi antivirus, serta tata laksana hepatitis c pada pasien ginjal kronik, termasuk pasien yang menjalani dialisis dan transplantasi ginjal.
”Eliminasi hepatitis hanya dapat dicapai melalui kolaborasi erat antara pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, organisasi profesi, media, dan masyarakat. Indonesia telah berkomitmen mencapai target eliminasi hepatitis pada tahun 2030. Untuk mencapai target tersebut, perlu peningkatan cakupan skrining, vaksinasi, diagnosis dini, serta akses pengobatan yang lebih luas bagi masyarakat,” papar Andri.
Tiga Pesan Utama
Ia menguraikan tiga pesan utama peringatan Hari Hepatitis Sedunia. Pertama, Indonesia menargetkan eliminasi hepatitis sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada tahun 2030 sehingga perlu percepatan program pencegahan, skrining, diagnosis, dan pengobatan hepatitis secara nasional.
Pesan berikutnya, sebagian besar penderita hepatitis B dan hepatitis C tidak mengetahui dirinya terinfeksi karena penyakit ini sering berlangsung tanpa gejala selama bertahun-tahun. Karena itu, deteksi dini melalui pemeriksaan hepatitis menjadi langkah sangat penting.
Terakhir, hepatitis yang terdiagnosis dan ditangani sejak dini dapat dicegah berkembang menjadi sirosis hati, gagal hati, maupun kanker hati, sehingga pengobatan yang tepat dapat menyelamatkan kualitas hidup dan menurunkan angka kematian.
”Lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, peroleh vaksinasi hepatitis B sesuai rekomendasi, serta tidak ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila memiliki faktor risiko hepatitis,” tandas Andri.

Aplikasi AMAN untuk Laporkan Dugaan Kekerasan di Madrasah dan Pesantren 