catrawarta.com — Anggota Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni menjadi pusat perhatian usai melontarkan candaan singkat saat melakukan kunjungan kerja di Hotel Bela, Ternate, Maluku Utara, Kamis (23/7).
Dalam sebuah video sambutan di sela-sela kunjungan kerja yang dihadiri Unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) serta sejumlah aparat penegak hukum serta Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, Sahroni memperkenalkan Sherly. Bukan dengan kalimat menyejukkan, Ahmad Sahroni justru menyebut Sherly sebagai ‘tante cantik’.
Bahkan, Ahmad Sahroni memberi tambahan canda soal Sherly yang siap menerima kunjungan dari para lelaki di Tanah Air.
“Selamat siang, kami dari Komisi III bersama Pak Kapolda dan Pak Kajati, kunjungan kerja sekaligus mengunjungi Gubernur Maluku yaitu tante cantik ini yang siap menerima kunjungan dari para lelaki yang ada di Republik ini,” ujar Ahmad Sahroni, dikutip dari sejumlah akun X.
Tak lama berselang, Ahmad Sahroni mulai memperkenalkan lokasi kegiatan dan kembali berujar soal Sherly.
“Dan kami tunggu Anda di Bela Hotel Ternate. Silakan Bu Sherly,” imbuh Sahroni.
Dinilai Seksisme hingga Kebablasan
Seketika, video berisi momen pertemuan Ahmad Sahroni serta Sherly kala itu tersebar luas di media sosial. Ucapan Ahmad Sahroni lantas memicu beraam tanggapan dari kalangan warganet.
Candaan ini dinilai kurang tepat dilontarkan dari anggota DPR RI kepada seorang pejabat publik wanita. Kritik juga dilayangkan secara langsung oleh Akademisi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) Ternate, Wahyuni Bailussy.
Dia menilai Sahroni memang mengucap hal demikian untuk mencairkan suasana. Namun, dia mengingatkan soal tanggung jawab pejabat publik soal menjaga batasan dalam berkomunikasi di depan umum.
Menurut Wahyuni, istilah ‘tante cantik’ hingga kalimat ‘siap menerima kunjungan para lelaki’ dinilai lebih mengedepankan aspek fisik dibanding aspek kemampuan Sherly dalam perannya sebagai Kepala Daerah Maluku Utara.
Lebih lanjut, hal ini bisa saja menimbulkan potensi munculnya rasa tidak nyaman bagi wanita yang cenderung menjadi objek pembicaraan Sahroni di lokasi. Sehingga bagi Wahyuni, penyebutan yang lebih humanis seperti menojolkan aspek prestasi dan kompetensi bisa lebih baik digunakan sebagai cara komunikasi di hadapan publik.
“Bisa digunakan misalnya gubernur hebat, luar biasa, dan lain-lain. Hal ini (kebablasan) bisa dinilai kurang professional dalam konteks komunikasi publik,” tandas Wahyuni.

YLBHI: Pernyataan Prabowo soal ‘Londo Ireng’ Berbahaya 