Warta

Petani Bali Sulit Membayangkan Liburan ke Luar Negeri

Presiden RI Prabowo Subianto mengaku menerima laporan bahwa semakin banyak petani Indonesia yang kini dapat berlibur ke luar negeri.

Presiden ri prabowo subianto mengaku menerima laporan bahwa semakin banyak petani indonesia yang kini dapat berlibur ke luar negeri
Petani tengah berjalan di hamparan sawah. (dok Wikepdia Common)

catrawarta.comPresiden RI Prabowo Subianto mengaku menerima laporan bahwa semakin banyak petani Indonesia yang kini dapat berlibur ke luar negeri.

“Saya dapat laporan sekarang sudah banyak petani yang libur ke luar negeri. Nggak apa-apa, libur boleh. Kapan lagi petani libur ke luar negeri? Sekarang! Karena kita akan buat tani, nelayan, buruh, makmur,” kata Prabowo dalam Peringatan Hari Koperasi ke-79 di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (12/7/2026).

Prabowo mengatakan pemerintah akan mendorong pertumbuhan ekonomi dari tingkat desa melalui penguatan koperasi agar perputaran uang lebih banyak terjadi di daerah dan manfaat pembangunan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Namun pernyataan tersebut dipertanyakan oleh Kepala Laboratorium Subak dan Rekayasa Agrowisata Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Dr. I Made Sarjana.

Menurut Made, kondisi mayoritas petani di Bali yang hanya memiliki lahan pertanian sekitar 25 hingga 50 are membuat mereka sulit membayangkan berlibur, apalagi ke luar negeri.

“Petani Bali karakternya unik, jadi liburan atau jalan-jalan hampir tidak pernah terpikirkan,” kata Made Sarjana kepada catrawarta.com, Selasa (14/7/2026).

Smiling man in a straw hat sits on a wooden bench inside a rustic shed with lush fields and rice paddies in the background
Kepala Laboratorium Subak dan Rekayasa Agrowisata Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Dr. I Made Sarjana. (dok pribadi)

Ia menjelaskan pendapatan petani umumnya diprioritaskan untuk biaya pendidikan anak, kebutuhan pokok, transportasi, serta kebutuhan adat dan keagamaan. Made menilai fenomena yang justru banyak terjadi saat ini adalah anak-anak muda Bali yang memilih bekerja sebagai petani di luar negeri, terutama di Jepang dan Australia.

“Belakangan ini banyak anak muda Bali ke luar negeri sebagai petani. Mereka bekerja di Jepang atau Australia,” ujarnya.

Ia mengungkapkan anaknya sendiri telah bekerja sebagai petani di Australia selama empat tahun setelah lulus sebagai sarjana pertanian.

Menurutnya, banyak generasi muda memilih bekerja sebagai petani di luar negeri untuk memperoleh penghasilan yang lebih layak dan mengumpulkan modal sebelum kembali ke Indonesia.

Stone courtyard with a mossy stone railing and a small rusted roof pavilion amid tropical trees
Pura subak di Bendungan Mambal, Badung, Bali. (dok Made Sarjana)

“Mereka ke sana mengadu nasib untuk mencari modal agar nantinya bisa mengembangkan usaha setelah berkeluarga. Ini menunjukkan kesejahteraan petani di Bali masih menjadi tantangan,” katanya.

Made menambahkan rumah-rumah petani yang terlihat baik di sejumlah desa tidak selalu mencerminkan keberhasilan usaha pertanian keluarga, tetapi juga karena kontribusi pendapatan anggota keluarga yang bekerja di luar negeri.

“Jadi kalau ada pejabat yang datang ke desa, mendapati rumah petani bagus-bagus, itu tidak semata-mata sebagai bukti keberhasilan keluarga petani dari mengelola lahan tetapi sebagian menunjukkan anak-anak petani sukses kerja di luar negeri,” tambahnya, 

Ia juga mengungkapkan sebagian calon pekerja harus meminjam uang hingga puluhan bahkan ratusan juta rupiah untuk biaya keberangkatan baik di bank maupun renternir.

“Perjuangan petani untuk menyejahterakan keluarga masih sangat berat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *