catrawarta.com — Ruas jalanan Jogja-Wonosari masih ramai kendaraan pengunjung wisata. Pagi hari sekitar jam 8 pagi, Siti Hedari mulai mempersiapkan lapaknya yang berlokasi di Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder, Desa Gading, Kecamatan Playen, Gunungkidul, DI Yogyakarta.
Tak jauh dari lapaknya, ada jembatan besar yang membentang di atas Sungai Oya yang aliran airnya mulai surut di musim kemarau. Tak banyak yang dibawa Siti ke lapak.
Kala itu, dia hanya menggunakan meja kecil hingga payung besar yang menjadi andalan baginya menjajakan kuliner ekstrem khas Gunungkidul, walang goreng atau belalang goreng.
Belakangan, Siti pun sering melayani pembeli yang merupakan wisatawan luar kota. Rupanya, rasa penasaran membuat sebagian besar wisatawan ini memberanikan diri mencicipi kuliner ekstrem yang jarang ditemukan di daerah lain.
“Paling banyak kalau akhir-akhir ini itu wisatawan. Banyak yang penasaran, akhirnya coba-coba beli satu topless kecil, tapi ya nggak apa-apa. Ada yang cocok beli dua-tiga topless itu juga ada kemarin,” ungkapnya kepada wartawan catrawarta, Selasa (7/7).
Sementara soal harga, Siti mematok Rp25 hingga Rp50 ribu saja, itu pun tergantung ukuran topless kecil atau besar. Di lokasi, dia juga menyediakan jasa untuk menggoreng belalang langsung sehingga masih terasa fresh dan hangat untuk dinikmati pembeli.
“Satu topless, kami bisa menjual Rp25 ribu sampai Rp50 ribu. Tergantung ukuran toplessnya ya,” imbuhnya.
Menariknya, lapak kecil miliknya ini punya bangunan yang semi permanen sederhana yang terbuat dari kayu-kayu balok dan sebagainya. Hal ini jelas mengindikasikan, Siti tak berjualan dalam waktu singkat.
Siti menceritakan, dia dan keluarga telah berjualan sejak tahun 2007 silam. Namun pertama kali, produksi belum merambah pada makanan yang siap santap seperti menu jualannya kini.
Dia dan keluarga sempat menjajakan belalang dalam kondisi mentah. Mengingat, penikmati belalang goreng Gunungkidul pada tahun awal 2000-an memang cukup masif. Bahkan, warga setempatnya rela mencari belalang mentah untuk diolah sendiri. Sehingga, peluang inilah yang ditangkap Siti dan keluarga.
Menariknya lagi, Siti dan keluarga tak cuma berjualan di satu lapak saja. Berjarak beberapa puluh meter saja, ada kerabat atau keluarga Siti yang turut menjajakan belalang goreng di Kawasan Tahura.
“Ya, kami masih saudara, begitu menyebutnya. Kami kenal,” ceritanya.
Kini Belalang Mulai Punah
Dilansir dari Lumbung Pustaka UNY, belalang memang menjadi kebiasaan warga Gunungkidul selama bertahun-tahun lalu. Hal ini didorong oleh geografis Gunungkidul yang berbatu dengan melimpahnya tanaman pakan belalang sebagai habitatnya, misal pohon jati.
Namun belakangan, populasi belalang di Gunungkidul merosot tajam, belum diketahui secara pasti mengenai faktor penyebab menurunnya jumlah populasi belalang di Gunungkidul ini.
Yang jelas seperti cerita Siti, menemukan belalang di Gunungkidul kini begitu sulit. Alhasil, dia dan kerabat rela memasok belalang dari daerah di sekitar Gunungkidul, seperti Wonogiri, Kebumen, hingga Pacitan.
“Kalau belalang yang di sini udah mulai langka. Kami membawa belalang yang paling banyak dari daerah Wonogiri, Kebumen, Cilacap, sampai Pacitan,” tandasnya.

PN Jaksel Putuskan Penahanan Roy Suryo Tidak Sah 