Catra Wisata

Gunungkidul Bangun Kandang Konservasi Burung,  Beroperasi 2029

catrawarta.com — Pemkab Gunungkidul berencana membangun kandang konservasi burung. Lokasi yang dipilih yakni Kalurahan Giritirto, Kapanewon Purwosari. Pembuatan kandang ini bertujuan sebagai pusat...

Tempat konservasi burung di Provinsi Bali yang banyak diminati wisatawan dan menjadi salah satu destinasi minat khusus. (Dok Catrawarta)

catrawarta.comPemkab Gunungkidul berencana membangun kandang konservasi burung. Lokasi yang dipilih yakni Kalurahan Giritirto, Kapanewon Purwosari. Pembuatan kandang ini bertujuan sebagai pusat rehabilitasi, penangkaran dan pelestarian satwa burung serta didesain menjadi kawasan edukasi dan wisata ekologi yang didukung fasilitas klinik satwa, pusat pengelola dan area pendukung lainnya, dengan target operasional penuh pada 2029. 

Untuk keperluan itu membutuhkan dana yang tidak sedikit, diperkirakan mencapai hampir Rp 40 miliar.

Kepala Bidang Konservasi dan Kerusakan Lingkungan DLH Gunungkidul, Hana Kadaton Adinoto menjelaskan, pembangunan kandang konservasi burung tetap dilanjutkan tahun ini. “Dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran (RKA) 2026, proyek tersebut kembali memperoleh Dana Keistimewaan (Danais) sebesar Rp 3 miliar,” katanya.

Anggaran tersebut akan digunakan untuk pembangunan klinik satwa dan gedung pengelola. Meski pembangunan fisik terus berjalan, fasilitas konservasi tersebut belum dapat dioperasikan.

Kajian Teknis

Berdasarkan hasil kajian teknis, total anggaran yang dibutuhkan agar kawasan penangkaran burung dapat berfungsi optimal mencapai sekitar Rp 40 miliar. Menurut Adinoto, kawasan konservasi tidak hanya memerlukan kandang burung dan klinik perawatan, tetapi juga fasilitas pendukung seperti area parkir, perpustakaan, coffee shop, amphitheater, jalur pedestrian serta jaringan listrik.

Hingga kini, total anggaran yang telah dialokasikan mulai dari pengadaan lahan hingga pembangunan tahap demi tahap baru mencapai sekitar Rp15 miliar. Artinya, masih diperlukan tambahan dana sekitar Rp 25 miliar agar kawasan tersebut benar-benar siap digunakan. “Kalau sesuai perencanaan, penyelesaiannya paling cepat pada 2029,” harapnya.

Progres pembangunan, ujar Hana Kedaton Adinoto, sangat bergantung pada kebijakan Pemprop DIY, karena seluruh pembiayaan proyek bersumber dari Dana Keistimewaan.

Sementara itu, Lurah Giritirto Hariyono menyambut baik pembangunan kandang konservasi burung di wilayahnya.

Ia menilai proyek tersebut berpotensi menjadi penggerak ekonomi masyarakat sekaligus mendukung pengembangan kawasan. Pihaknya sangat antusias karena bisa mendorong perekonomian warga.

“Kami berharap proyek tersebut dapat selesai sesuai rencana dan menjadi daya tarik wisata baru, melengkapi destinasi yang sudah ada seperti Goa Cerme,” katanya.

Kalurahan Pampang

Selain di Giritirto, kalurahan lain di Kabupaten Gunungkidul ternyata sudah ada yang mengembangkan konservasi burung yakni di Kalurahan Pampang Kapanewon Paliyan. Konservasi burung di desa ini mulai dirintis sejak 2017. Selain alamnya yang mendukung, realisasi konservasi burung di Desa Pampang juga mendapat dukungan dari banyak pihak.

Oleh karena itu, selaras dengan pembangunan konservasi ini sejak awal warga di Desa Pampang giat menanami kebun dengan pohon buah-buahan, menanam penghijauan di area konservasi burung di Dusun Njasem dan melepas banyak sekali burung endemic yang hampir punah.

Konsep itu dibarengi dengan keinginan Pemerintah Kalurahan Pampang untuk mengembalikan alam yang asri, indah dan alami. Lebih-lebih Desa Pampang memiliki pemandangan alam yang indah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *