catrawarta.com — Dalam sepak bola, segala kemungkinan bisa terjadi. Menang atau kalah bukan hanya persoalan menguasai permainan tetapi juga kemampuan mengelola emosi. Ini terbukti pada tim nasional Inggris yang meskipun hanya bermain dengan 10 orang namun bisa mengandaskan Meksiko yang berkeinginan mencapai puncak Piala Dunia FIFA World Cup 2026.
Meksiko yang bermain dengan dukungan penuh hampir seluruh Stadion Azteca, Mexico City, sangat menguasai permainan. Mereka menggempur terus-menerus tetapi tidak sebanding dengan gol yang diciptakan. Permainan menjadi tidak efektif karena emosi yang menggebu-gebu, kurang tenang dalam penyelesaian.
Berbeda dengan Inggris yang tampak lebih tenang dan matang dalam menjalankan permainan. Penguasaan bola yang kurang menjadikan mereka harus benar-benar bisa memanfaatkan peluang. Serangan harus efektif, mampu mengancam gawang dan syukur-syukur bisa menciptakan poin.
The Three Lions tidak mengumbar nafsu untuk menang. Mereka menjalani permainan dengan meredam keinginan, yang penting bisa mencapai tujuan. Bukan hasil akhir sebagai pencapaian tetapi proses menuju kemenangan.
Mereka mampu ”mempermainkan” emosi lawan, meredam emosi sendiri sembari merencanakan serangan matang dengan target mendekati area bahaya dan melesatkan tembakan. Hanya sedikit tembakan yang terarah tetapi dapat menciptakan gol. Tenaga tak terbuang sia-sia.
Tim Mental Juara
Hanya tim dengan mental jawara yang bisa melakukannya. Langkah tersebut juga tampak pada timnas Belgia ketika melawan Senegal. Sempat ketinggalan 2-0 namun bisa membalikkan kekalahan menjadi kemenangan. Di sinilah terlihat, bukan penguasaan permainan tetapi kematangan emosional.
Inggris yang bermain di bawah tekanan pendukung Meksiko bisa mencuri kemenangan dua gol langsung pada menit ke 36 dan 38 melalui Jude Bellingham. Harry Kane menambah gol lewat titik putih menjadi 3 pada menit ke-60. Sementara itu Meksiko mencetak gol pada menit ke-42 melalui Julian Quinones dan Raul Jimenez menit ke-69 melalui penalti.
Hadiah penalti untuk masing-masing tim menandakan kerasnya pertandingan. Mereka harus berlaga mati-hidup untuk memperlihatkan siapa yang lebih unggul dan lebih pantas melaju ke babak berikutnya.
Menguasai lapangan tidak otomatis memenangkan pertandingan jika tanpa didukung kematangan emosional. Kadang-kadang, tim tuan rumah merasa sudah menang karena dukungan luar biasa para penonton. Akibatnya, mereka sering meremehkan lawan. Sehingga ketika tak bisa menembus gawang, yang tersisa hanyalah frustrasi berkepanjangan.
Kendati demikian, apapun hasilnya, Meksiko dan Inggris telah menunjukkan sebagai tim yang layak berlaga di Piala Dunia. Mereka tentu telah bekerja keras, berusaha sekuat tenaga menampilkan yang terbaik untuk negaranya, untuk seluruh dunia.

Menjajal Ayam Goreng Mbah Tumbu yang Legit dengan Sayur Lombok Ijo Khas Gunungkidul 