Warta

Vozinha: Kemiskinan Mewarnai Masa Kecil Kami

Meski dari negara yang kecil, debut Cabo Verde di Piala Dunia 2026 sukses membuat Argentina kalang kabut.

Soccer goalkeeper in a yellow kit reaches up to punch away a white green soccer ball near the goal
TEPIS: Kiper Cabo Verde, Josimar Dias atau Vozinha menepis bola. Aksinya saat melawan Argentina menjadikannya buah bibir penggemar sepak bola.(Sumber: Instagram vozinha1)

catrawarta.comPara pendatang baru Piala Dunia FIFA World Cup 2026 tak bisa dianggap enteng. Sebut saja Cabo Verde – yang dalam Bahasa Indonesia disebut Tanjung Verde – membuat raksasa sepak bola dunia Argentina kalang kabut. Hampir saja juara bertahan Piala Dunia tersebut tersungkur kalau tidak ”dibantu” gol bunuh diri Cabo Verde.

Tim dengan julukan The Blue Sharks itu bukan kalah karena permainannya jelek. Sebaliknya, mereka telah menunjukkan permainan luar biasa, mampu menjebol gawang Argentina 2 kali meskipun akhirnya kalah kemasukan 3 gol.

Pada data statistik menyebutkan, Cabo Verde mampu mengimbangi permainan Argentina yang bertabur bintang apalagi ada Lionel Messi. Total tembakan juga hampir sama, Argentina berada pada 21 sedangkan Cabo Verde di angka 15. Memang dari penguasaan bola, Messi dan kawan-kawan masih menang.

Kendati demikian, sebagai tim dari negara kecil dengan para pemain yang berangkat dari kemiskinan, melaju ke babak 32 gugur merupakan pencapaian luar biasa. Bayangkan, mereka baru saja menapaki laga yang berisikan tim-tim pilihan dan hebat dari seluruh dunia.

Mereka yang masuk ke Piala Dunia sudah pasti merupakan tim hebat. Sebagian tim, pelanggan Piala Dunia dan juara. Sebagian lain termasuk papan atas dunia dan berasal dari negera-negara mapan dan kaya.

Cabo Verde Tidak Minder

Sebagai pendatang baru dari negara kecil dan ”miskin” mereka tidak pernah minder. Bahkan para pendiri negara tersebut sejak awal merdeka pada tahun 1975, sudah sangat percaya diri, tak mau negaranya disebut dengan istilah lain selain Cabo Verde.

Mereka tidak mau nama negaranya diterjemahkan menggunakan bahasa lain. Bahkan mereka telah menyampaikannya ke sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Cabo Verde ya Cabo Verde!

Kepercayaan diri mereka tampak pada kiper tim bernama asli Josimar Dias yang sering disapa Vozinha. Ia termasuk senior di antara rekan satu tim karena telah berusia 40 tahun. Usia yang hampir sama dengan Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

”Kami tahu berasal dari negara kecil, kami datang untuk ikut berkompetisi dengan kualitas tim nasional. Banyak yang berpikir pemain kami tidak cukup bagus tetapi kami telah menunjukkan kualitas,” ungkap Vozinha dalam wawancara jumpa pers usai laga seperti dimuat akun skysportsfootball.

Perlu diketahui, jelasnya, banyak pemain Cabo Verde yang bermain di liga-liga besar di dunia. Jadi, tak diragukan lagi kualitas para pemain, rekan-rekan satu timnya.

Sangat Cinta Cabo Verde

Vozinha yang tampil gemilang melawan Argentina menekankan, ia dan teman-temannya sangat bangga dan mencintai negaranya. Ia menceritakan, anak-anak di Cabo Verde, termasuk dirinya, tumbuh dalam situasi yang sulit di negaranya.

Mereka bukan berasal dari keluarga berada tetapi memiliki keinginan kuat untuk menjadi pemain bola profesional. Orangtua mereka sebagian besar berada dalam situasi ekonomi yang kekurangan. Kendati demikian, orangtua berusaha keras agar anak-anaknya bisa sekolah, meraih hidup yang lebih baik.

Kondisi itu pula yang telah menggembleng anak-anak menjadi bermental kuat, mampu bangkit dalam segala situasi. Vozinha ingin menunjukkan betapa hebat para orangtua yang telah membentuk mental orang-orang Cabo Verde.

Negara tersebut menjadi salah satu inspirasi negara lain yang kebingungan membentuk tim, mendatangkan pemain dari luar negaranya tetapi sepak bola tetap tidak berkembang. Dalam kesulitan yang ekstrem, Vozinha dan teman-temannya telah memperlihatkan perjuangan di lapangan tak jauh berbeda dengan perjuangan dalam kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *