Catra Budaya

Sutan Takdir Alisjahbana Tokoh Sentral Sastra Indonesia

Sutan Takdir Alisjahbana sebagai tokoh sentral dalam perkembangan bahasa dan sastra Indonesia.

Sta sebagai tokoh sentral dalam perkembangan bahasa dan sastra indonesia
Sutan Takdir Alisjahbana

catrawarta.comKarya sastra Sutan Takdir Alisjahbana (STA) memengaruhi guru Bahasa Indonesia MTs Negeri 4 Kulonprogo sekaligus novelis, Siwi Nurdiani  saat menulis novel, cerpen maupun saat mengajar bahasa Indonesia di kelas.

Ia menyebut STA sebagai tokoh sentral dalam perkembangan bahasa dan sastra Indonesia.

“Sutan Takdir Alisjahbana adalah tokoh sentral bahasa dan sastra Indonesia. Jasa beliau terhadap perkembangan bahasa Indonesia sudah tidak diragukan lagi,” kata Siwi, Sabtu (27/6/2026).

Woman in a green blazer and hijab speaks into a microphone while holding a smartphone presenting in front of a projector
Siwi Nurdiani, novelis dan guru Bahasa Indonesia MTs Negeri 4 Kulonprogo. (dok pribadi)

Menurutnya, STA merupakan salah satu pendiri Angkatan Pujangga Baru yang melahirkan sejumlah karya monumental. Salah satunya novel Layar Terkembang yang diterbitkan Balai Pustaka pada 1937 dan hingga kini masih menjadi karya penting dalam sejarah sastra Indonesia.

Selain sebagai sastrawan, STA juga berperan besar dalam modernisasi bahasa Indonesia sehingga berkembang sebagai bahasa nasional. Ia juga dikenal sebagai salah satu penggagas Konferensi Bahasa Indonesia pertama.

“STA menjadi tokoh penting dalam modernisasi bahasa Indonesia sehingga berkembang sebagai bahasa nasional. Beliau juga menjadi salah satu penggagas Konferensi Bahasa Indonesia pertama,” ujar penulis novel Gumam Tebing Menoreh dan Sihir Negeri Pasir.

Siwi mengatakan karya-karya STA hingga kini masih menjadi rujukan pembelajaran sastra di berbagai sekolah. Puisi-puisinya terus dipelajari, dibacakan di ruang-ruang kelas, hingga menjadi materi dalam berbagai lomba baca puisi.

Ada kemungkinan para pendidik saat ini dan generasi muda mulai samar-samar mengenali siapa STA, jika tidak diperkenalkan oleh guru sastra.

Apalagi telah begitu banyak tokoh baru bermunculan di tengah derasnya arus informasi dan pengetahuan. 

Namun menurut Siwi, ketokohan STA tentu sangat berbeda. “Beliau menggagas pondasi paling dasar dari Bahasa Indonesia. Sama seperti halnya menjadi salah satu tiang penopang eksistensi bangsa Indonesia.  Maka sudah selayaknya beliau diberikan anugerah sebagai pahlawan nasional,” tegasnya.

Ia yakin dengan atau tanpa gelar Pahlawan Nasional, STA tetap menjadi salah satu tiang penyangga bangsa Indonesia. 

“Karya-karyanya akan terus kami dengungkan melalui ruang-ruang kelas di pelosok negeri,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *