Catra Budaya

Batik Adiluhung dan Wayang Hidup di Rumah Budaya Singhasari

Di tengah perkembangan budaya modern, Rumah Seni Budaya Singhasari di Kota Malang, Jawa Timur, hadir sebagai ruang pelestarian budaya Jawa melalui wayang...

Di tengah perkembangan budaya modern rumah seni budaya singhasari di kota malang jawa timur hadir sebagai ruang pelestarian budaya jawa melalui wayang kulit karawitan tari tradisional hingga batik motif adiluhung
Pendiri Rumah Seni Budaya Singhasari Sadhana Devi (kanan) mengenakan batik Adiluhung (Dok Rumah Seni Budaya Singhasari)

catrawarta.comDi tengah perkembangan budaya modern, Rumah Seni Budaya Singhasari di Kota Malang, Jawa Timur, hadir sebagai ruang pelestarian budaya Jawa melalui wayang kulit, karawitan, tari tradisional hingga batik motif Adiluhung.

Rumah budaya ini berawal dari kegiatan karawitan yang dirintis pasangan suami istri Moch Noor Effendhy dan Mien Arminiati pada 1985 melalui perkumpulan khusus lansia bernama Kendedes Sari Budoyo.

“Awalnya kegiatan ini hanya untuk lingkup keluarga, kemudian berkembang menjadi pertunjukan wayang kulit,” ujar Sadhana Devi, putri pasangan tersebut, Minggu (7/6/2026).

Sadhana atau akrab disapa Sadha mengaku mulai terlibat aktif setelah kembali ke Malang pada 2014. Sebelumnya, ia sempat kuliah di Jurusan Desain Produk Industri Universitas Trisakti Jakarta dan bekerja sebagai penyiar radio Prambors FM.

Namun kehidupan di Jakarta membuatnya merasa jenuh. Ia kemudian pulang kampung dan melihat anak-anak mulai jauh dari akar budaya.

“Saya sadar anak-anak mulai kehilangan akar budayanya, jauh dari etika dan tata krama. Lalu saya dan adik saya meminta izin kepada orangtua agar sanggar karawitan ini dibuka untuk publik,” katanya.

Pagelaran wayang kulit di rumah seni budaya singhasari dok rsbs
Pagelaran wayang kulit di Rumah Seni Budaya Singhasari. (dok RSBS)

Sejak saat itu, kegiatan karawitan berkembang menjadi pertunjukan wayang kulit purwa dan diberi nama Rumah Seni Budaya Singhasari. Bagi Sadha, wayang bukan hanya hiburan, tetapi juga sarat nilai kehidupan. Karena itu, rumah budaya tersebut rutin menggelar pelatihan dalang wayang kulit setiap minggu.

Selain latihan rutin, setiap tiga bulan sekali digelar studi pentas dan pagelaran wayang kulit. Mereka juga menjalankan program “Nonton Wayang Yuk” dengan melibatkan pelajar dari berbagai sekolah di Kota Malang.

“Pertunjukan wayang berlangsung sekitar dua jam. Satu setengah jam untuk pementasan dan 30 menit sisanya untuk diskusi tentang cerita wayang,” jelasnya.

Saat ini program itu masih berjalan berdasarkan permintaan sekolah. Namun Sadha berharap ke depan bisa menjadi agenda rutin pendidikan budaya. Ia bahkan telah menyiapkan buku Pepak Jawa yang berisi tokoh-tokoh pewayangan serta aksara Jawa Ha Na Ca Ra Ka agar anak-anak lebih mudah memahami dunia wayang.

“Program ini bertujuan agar anak-anak belajar tentang pewayangan dan memahami tokoh-tokoh saat menonton pertunjukan wayang,” ujarnya.

Di sela-sela kesibukan belajar wayang juga diadakan acara ruwatan masal. Pada  5 Juli 2026 merupakan penyelenggaraan ruwatan masal keempat.

Rumah seni budaya singhasari mengembangkan batik motif adiluhung khas singashari dok rsbs
Rumah Seni Budaya Singhasari mengembangkan batik motif Adiluhung khas Singashari. (dok RSBS)

Tak hanya wayang, Rumah Seni Budaya Singhasari juga mengembangkan pelatihan membatik, Sadha belajar langsung kepada maestro batik Malang, almarhumah Tatik S Hajar atau Eyang Tatik. Dari proses belajar tersebut lahirlah batik motif Adiluhung yang kini menjadi ciri khas produksi Rumah Seni Budaya Singhasari.

“Membatik ternyata melatih IQ, EQ, dan SQ, sekaligus melatih kemampuan memecahkan masalah secara kreatif,” kata Sadha.

Peserta pelatihan membatik diajarkan mulai dari membuat pola, mencanting dengan malam, proses pewarnaan hingga menghasilkan kain batik yang kemudian diolah menjadi syal, udeng, selendang dan berbagai produk lainnya.

Motif Adiluhung sendiri terinspirasi dari bunga teratai yang disebut sebagai bunga kesayangan Ken Dedes. Warna-warnanya dibuat cerah sesuai karakter masyarakat Jawa Timur yang menyukai warna hijau, kuning, merah dan hitam.

“Motif Adiluhung ini dibimbing langsung oleh Eyang Tatik pada 2009,” katanya.

Eyang Tatik dikenal sebagai pelopor sekaligus maestro batik Malang yang berjasa menggali kembali motif-motif klasik peninggalan Kerajaan Singhasari. Ia juga dikenal menghidupkan kembali pakem batik adiluhung yang sempat hilang dan kini menjadi identitas budaya Kota Malang. Maestro batik tersebut wafat pada 4 Desember 2025 di usia 93 tahun.

Sebagai murid, Sadha kini melanjutkan perjuangan gurunya dengan merebranding batik motif Adiluhung bersama dukungan masyarakat dan mahasiswa di Kota Malang.

Batik motif adiluhung yang menjadi ciri batik kota malang
Batik motif Adiluhung yang menjadi ciri batik Kota Malang. (dok RSBS)

Ia juga mengenang kisah perjuangan keluarga Eyang Tatik pada masa penjajahan Belanda. Saat itu, rumah orang tua Tatik di Sidoarjo pernah menjadi tempat persembunyian tentara Indonesia. Ketika tentara Belanda datang mencari, ibu Tatik meminta seluruh anaknya, termasuk Tatik kecil, membatik di halaman rumah.

“Saat tentara Belanda datang, ibunya menjawab tidak ada serdadu Indonesia karena di sini semua anak sedang membatik. Karena membatik itulah para serdadu Indonesia bisa selamat,” tutur Sadha.

Sadha menilai motif Adiluhung tidak hanya memiliki nilai seni, tetapi juga menggambarkan nilai gotong royong dan penghormatan terhadap leluhur. Simbol nilai-nilai Pancasila yang mencerminkan kehidupan masyarakat Indonesia yang menjunjung gotong royong, toleransi dan penghormatan terhadap leluhur.

Ia berharap budaya adiluhung dapat masuk ke dalam kurikulum pendidikan, bukan hanya menjadi kegiatan ekstrakurikuler.

“Sebentar lagi kita menghadapi Indonesia Emas 2045. Anak-anak inilah yang akan meneruskan bangsa dengan landasan budaya adiluhung,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *