catrawarta.com — Pendakian ke Gunung Halau-halau, puncak tertinggi di Provinsi Kalimantan Selatan, resmi ditutup demi menghormati leluhur, menjaga hutan adat, dan melestarikan lingkungan.
Keputusan penutupan tersebut diambil melalui musyawarah yang digelar di Kantor Desa Hinas Kiri, Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Musyawarah dihadiri Pembakal Desa Juhu, Pembakal Desa Hinas Kiri, tokoh masyarakat kedua desa, Babinsa, perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), serta warga setempat.
“Berdasarkan kesepakatan para tokoh adat, demi menghormati kawasan hutan adat dan mengantisipasi kerusakan lingkungan maka Gunung Halau-halau ditutup,” ujar Rubi, tokoh masyarakat Desa Juhu sekaligus Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalimantan Selatan, Rabu (3/6/2026).
Penutupan jalur pendakian telah berlaku sejak 1 Mei 2026. Keputusan tersebut cukup mengejutkan dan memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat, khususnya para pendaki, hingga Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang meminta adanya diskusi bersama terkait kebijakan tersebut.
Gunung Halau-halau memiliki ketinggian sekitar 1.901 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan merupakan puncak tertinggi di kawasan Pegunungan Meratus. Gunung ini populer di kalangan pendaki dari Kalimantan Selatan maupun luar daerah.
Aktivitas pendakian di kawasan tersebut selama ini juga dinilai memberikan kontribusi ekonomi bagi desa melalui kegiatan wisata yang dikelola Pokdarwis.
“Gunung ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi kami. Perlindungannya menjadi tanggung jawab seluruh warga,” kata Rubi.
Bagi masyarakat adat di Desa Juhu dan Hinas Kiri, Gunung Halau-halau bukan sekadar bentang alam, melainkan kawasan yang diyakini memiliki nilai sakral dan keramat sehingga tidak boleh diganggu sembarangan.
Selain faktor adat dan kepercayaan, penutupan jalur pendakian juga didorong kekhawatiran terhadap kerusakan lingkungan akibat meningkatnya aktivitas pengunjung yang dinilai berpotensi mengganggu keseimbangan alam jika tidak dikendalikan sesuai kearifan lokal.
Pegunungan Meratus sendiri dikenal memiliki sejumlah gunung favorit pendaki yang kerap dijuluki Seven Summits Meratus, yakni Gunung Halau-halau, Periuk, Hauk, Pindihan, Margaringsai, Aur Bunak, dan Kahung. Gunung-gunung tersebut tersebar di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Balangan, Hulu Sungai Selatan, hingga Banjar.
Meski memiliki ketinggian lebih rendah dibanding gunung-gunung di Pulau Jawa, jalur pendakian Pegunungan Meratus dikenal cukup ekstrem karena melewati hutan hujan tropis, sungai, lembah, serta lereng terjal dan curam.
Saat musim penghujan, pendaki juga dihadapkan pada ancaman longsor, meluapnya sungai, hingga jalur berlumpur yang menjadi habitat pacet.

Kejagung Tetapkan Dadan Hindayana Tersangka Korupsi Penunjukan Dapur MBG 