Catra Wisata

Jagad Bambu Nusantara Bumikan Ajaran Leluhur

catrawarta.com — Bisa jadi hanya di destinasi Jagad Bambu Nusantara para pengunjung pasar selapanan tiap Pon disambut bak tamu hajatan. Para pengelola...

Suasana pasar pon plupuh dok Catrawarta
Suasana Pasar Pon Plupuh (Dok. Catrawarta)

catrawarta.comBisa jadi hanya di destinasi Jagad Bambu Nusantara para pengunjung pasar selapanan tiap Pon disambut bak tamu hajatan. Para pengelola dan penjaga stan mengenakan pakaian adat busana Jawa.

Minggu Pon (32/5/2026) adalah pasar ketiga yang digelar pengelola dan warga Padukuhan Plupuh Wukirsari Cangkringan Sleman. Destinasi ini diluncurkan Bupati Sleman pada Februari 2026. Semenjak itu aktivitas di destinasi bernunsa bambu ini tak pernah berhenti.

Selain mengenakan busana adat Jawa, mereka yang among tamu menyambut kehadiran pada pengunjung juga berkomunikasi dalam bahasa Jawa. Rata-rata mereka menggunakan krama inggil saat menyapa kehadiran para pengunjung.

“Semakin hari banyak permintaan warga agar bisa berdagang di wisata desa konservasi bambu Plupuh. Selama ini kami sediakan 12 lapak, namun karena banyak permintaan tambahan, kita buatkan 6 lapak lagi sehingga total ada 18 lapak UMKM. Alhamdulillah sambutan masyarakat sekitar juga semakin baik”, jelas Kepala Dukuh Plupuh Surtarja kepada Catrawarta.com Minggu (31/5/2026).

Dalam pantauan Catrawarta, aktivitas Minggu pagi diawali senam bersama di depan panggung kesenian. Suasana teduh, segar dan alami karena berada di bawah rumpun bambu yang telah didesain menjadi destinasi alam terbuka. Para penjual kuliner selain ramah juga menyediakan makanan dan minuman khas seperti soto rebung, wedang plupuh, dan aneka jenang dan camilan. Baru menginjak jam 09.00 beberapa lapak telah kehabisan dagangan.

Five men in traditional clothing pose under a thatched wooden gate in a rural village setting
Pendamping dan pengelola Jagad Bambu Nusantara (Dok. Catrawarta)

Apa yang sedang dilakukan pengelola dan warga Plupuh ini, dalam pandangan Wahjudi Djaja selaku pendamping, adalah upaya membumikan ajaran leluhur untuk hamemayu hayuning bawono agar kita mencintai, merawat, melestarikan dan mengembangkan alam demi kehidupan dan peradaban.

“Ini selaras dengan program pemerintah DIY terkait Pendidikan Khas Kejogjaan. Untuk bisa menciptakan generasi penerus dengan karakter janma kang utama, tak hanya dengan pendekatan teoritis kognitif di bangku sekolah. Mereka harus mau membumikan ajaran leluhur dalam laku utama dengan merawat flora fauna dan alam sekitar”, tandas Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY ini.

Harapannya, ada upaya nyata untuk berkolaborasi membangun jejaring wisata berbasis lingkungan dan kebudayaan. “Pesan Bupati Sleman saat meluncurkan destinasi ini adalah jadikan Jagad Bambu Nusantara sebagai perisai ekologis. Rawat bambu agar mampu menahan kerusakan lingkungan sekaligus menyiapkan suplai air bagi kebutuhan warga”, imbuh dosen STIEPAR API Yogyakarta ini.

Suasana pasar rakyat dan UMKM tiap Minggu Pon tidak saja berlangsung meriah tetapi juga mampu meningkatkan pendapatan warga dan pemasukan bagi pengelola. Beberapa sanggar seni yang ada di Plupuh dan sekitarnya secara bergantian mengisi panggung terbuka. Muda-mudi juga mengisi panggung dengan musik akustik. Para pengunjung duduk melingkar menggunakan tikar sambil menikmati jajanan kuliner.

Para pecinta satwa terlihat juga ikut meramaikan dengan membawa ular piton kuning. Selain untuk kepentingan edukasi juga atraksi wisata yang banyak diminati untuk ajang foto bersama satwa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *