catrawarta.com — Pemutaran film “Pesta Babi, Koloniaalisme di Zaman Kita” semakin masif. Begitu pula pelarangan oleh TNI dan apparat pemerintah juga dilakukan di sejumlah tempat. Bahkan kampus sebagai institusi akademis pun ada yang ketakutan dan melarang mahasiswanya melakukan pemutaran.
Karena makin banyak permintaan dan larangan, salah satu sutradaranya, Dandhy Laksono dalam akun resmi instagramnya mengatakan syarat untuk memperoleh film sekarang lebih mudah. Kalau pada awal-awal ada syarat untuk 25 orang penonton, kini hanya 10 orang sudah bisa memperoleh film dan nonton bareng.
Dengan syarat yang jauh lebih mudah, akan makin banyak orang bisa menyaksikan film dokumenter itu. Film mengisahkan dan menggambarkan kondisi Papua secara nyata bukan dibuat-buat. Masyarakat dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sana.
“Karena banyak teror ke penyelenggara nobar, kami ubah syarat minimal penonton dari 25 menjadi 10 orang. Nobar pun makin masif dalam kelompok-kelompok kecil. Bahkan ruang-ruang kelas dan keluarga,” tulis Dandhy dalam akun instagramnya.
Pada akunnya, dia juga menceritakan sejumlah sekolah menengah atas atau sederajat yang juga menyaksikan bersama di ruang kelas. Ada foto-foto ketika siswa nobar di dalam kelas, semua terlihat serius menyaksikan film tersebut.
Selalu Penuh Penonton
Meskipun banyak narasi yang menentang pemutaran film Pesta Babi, masyarakat tetap banyak yang berminat menyaksikan. Penonton sampai berjubel dan ada yang rela melihat dari kejauhan atau dari balik tembok pagar.
Nonton bareng alias nobar selama ini kebanyakan terjadi pada olahraga utamanya sepak bola. Kali ini, nobar sekaligus diskusi kritis tentang Papua dan juga kondisi negara mampu menarik ratusan bahkan ribuan penonton.
Diskusi seru juga terjadi di Masjid Nurul Ashri, Sleman. Anak-anak muda yang datang tak hanya puluhan tetapi hingga ratusan. Mereka menyimak serius filmnya dan mengikuti diskusi dengan narasumber yang kompeten yakni, Prof Zainal Arifin Mochtar dari UGM dan Elki Setiyo Hadi dari Walhi Yogyakarta.
“Katanya film Pesta Babi berbahaya… tapi pas ngadain nobar dan diskusi yang datang malah full anak muda sampai ratusan orang. Bukan cuma nonton tapi denger sudut pandang lain dan ngobrol bareng dengan suasana yang adem,” tulis akun Instagram masjidnurulashri dalam kepsennya.
Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra beberapa waktu sudah menegaskan tidak pernah ada arahan atau larangan memutar film tersebut. Peristiwa pelarangan atau pembubaran menurutnya bukan merupakan kebijakan pemerintah. Ia mengatakan kritik merupakan hal wajar.

Jangan Sepelekan Melemahnya Nilai Rupiah! 