Catra Budaya, Warta

‘Undhuh-Undhuh’ Hari Kenaikan Yesus, Kegiatan Keagamaan Berbalut Tradisi Jawa

catrawarta.com — Bersamaan dengan Hari Kenaikan Yesus Kristus, Gereja Kristen Jawa (GKJ) Mergangsan Kota Yogyakarta mengusung tradisi Jawa yang berpadu dengan nilai-nilai...

Crowd in traditional attire gathered around a tall decorative tree wrapped with hanging gift packets at a temple entrance
Penyerahan gunungan di depan gerbang GKJ Mergangsan Yogyakarta. (kedaulatanrakyat)

catrawarta.comBersamaan dengan Hari Kenaikan Yesus Kristus, Gereja Kristen Jawa (GKJ) Mergangsan Kota Yogyakarta mengusung tradisi Jawa yang berpadu dengan nilai-nilai keagamaan. Perayaan itu diberi nama ‘Undhuh-Undhuh ‘. Kegiatan ini menjadi simbol rasa syukur jemaat sekaligus upaya pelestarian budaya Jawa di lingkungan gereja.

Pendeta GKJ Mergangsan, Kris Nur Cahayani mengatakan, tradisi ‘Undhuh-undhuh’ pada dasarnya merupakan ungkapan syukur yang tidak terikat pada momentum ibadah tertentu. Meski umumnya dilaksanakan saat Pentakosta, GKJ Mergangsan memilih momentum Hari Kenaikan Yesus Kristus, karena pertimbangan makna spiritual sekaligus teknis pelaksanaan ibadah.

Undhuh-undhuh itu kan ucapan rasa syukur, jadi memang tidak terikat pada suatu peribadahan tertentu. Kami memilih Hari Kenaikan supaya jam ibadah tetap satu kali dan tidak mengubah jadwal ibadah Minggu,” ujarnya, Kamis  (14/5/2026).

Menurutnya, makna kenaikan Yesus juga berkaitan dengan pengutusan umat untuk berkarya dan melayani. Oleh karena itu, hasil kerja dan persembahan jemaat dalam undhuhundhuh menjadi simbol jawaban atas perutusan tersebut. Ketika Tuhan Yesus naik ke surge, jelasnya, ada pengutusan di sana. Maka hasil pekerjaan dan pelayanan yang dipersembahkan ini seperti menyatakan kepada Tuhan hasil dari perutusan itu.

Ia menambahkan, tradisi ini menjadi contoh nyata akulturasi budaya Jawa dengan kehidupan beriman umat Kristen. Unsur-unsur budaya seperti gunungan, iringan bergada, hingga hasil bumi yang dipersembahkan menunjukkan, identitas keagamaan tidak memutus hubungan dengan budaya lokal.

Mengikuti Kehidupan Jemaat

Tradisi tersebut, lanjut Kris Nur Cahayani, berawal dari kebutuhan gereja untuk mencari pemasukan dengan memanfaatkan potensi jemaat. Jika dulu identik dengan hasil pertanian para petani, kini konteksnya berkembang mengikuti kehidupan jemaat perkotaan.

Ketua Panitia ‘Undhuh-Undhuh’, Sujodo menyebutkan,  kegiatan ini menjadi bentuk rasa terima kasih jemaat atas penyertaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai persembahan dibawa jemaat, mulai dari sayur-mayur, hasil bumi, hingga barang elektronik. Seluruh persembahan kemudian dilelang kembali kepada jemaat.

Selain prosesi budaya, kegiatan di GKJ Mergangsan juga diramaikan bazar UMKM yang diikuti jemaat di area sekitar gereja. Sebagian hasil penjualan dikembalikan kepada pelaku usaha, sementara sebagian lainnya diserahkan untuk mendukung kegiatan gereja.

Dalam prosesi budaya, jemaat juga menampilkan bergada yang seluruh anggotanya berasal dari internal gereja. Para peserta sebelumnya menjalani latihan khusus sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya Jawa. Melalui kegiatan tersebut, GKJ Mergangsan berharap nilai cinta kasih tidak hanya dirasakan di lingkungan gereja, tetapi juga meluas kepada masyarakat sekitar.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *