catrawarta.com — Islam pernah memiliki masa kejayaan terkait perkembangan peradaban dunia. Peran itu bahkan diapresiasi Allah dalam Alquran. Bagaimana bisa kini umat Islam menjadi tertinggal dan terpecah belah sulit dipersatukan?
Pertanyaan itu dilontarkan Dr. H. Sabar Nurohman, MPd, saat menjadi imam dan khatib dalam salat Iduladha 1447 H di Lapangan Denggung Kompleks Pemkab Sleman, Rabu (27/5/2026) pagi. Hadir dalam salat Ied Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa SE bersama ribuan jamah.
Menjawab pertanyaan itu, Koordinator Program Studi Magister Pendidikan IPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini mengangkat tantangan yang disampaikan Allah dalam Alquran Surat An Nissa ayat 75: Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah dari (kalangan) laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berdoa. “Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu dan berilah kami penolong dari sisi-Mu”.
Nurohman mengemukakan ada empat syarat jika umat Islam ingin mengembalikan kejayaan Islam seperti zaman dulu. Pertama, miliki ketauhidan yang murni sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS. Ini bisa dibaca dalam Alquran Surat An Nahl ayat 120: Sesungguhnya Ibrahim adalah imam (sosok panutan) yang patuh kepada Allah, hanif (lurus), dan bukan termasuk orang-orang musyrik.
Kedua, sertakan kesabaran dan pengorbanan dalam menapaki kehidupan. Ibrahim dan Siti Hajar lama dengan sabar menantikan datangnya buah hati (Ismail AS), hingga suatu malam Ibrahim menerima perintah sebagaimana ditersurat dalam Alquran Surat Ash Shaffat ayat 102: Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar”.
Ketiga, perlunya bangsa-bangsa muslim di dunia mempelajari ilmu dan peradaban karena Nabi Ibrahim adalah pembangun peradaban Mekah. Ini bisa dibaca dalam Alquran Surat Al Baqarah ayat 127: (Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Keempat, jadikanlah keluarga yang kuat dan saleh, sebagaimana doa Nabi Ibrahim pada Alquran Surat Ash Shaffat ayat 100: (Ibrahim berdoa,) “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh”.
Pada bagian akhir khotbahnya, Nurohman memaknai kurban sebagai menyembelih ego, mengendalikan nafsu keduniawian, dan tidak takut berjuang. Kejayaan Islam sebagaimana era kenabian Muhammad SAW bukan tidak mungkin kita raih kembali asalkan umat muslim mau belajar dan meneladani kisah keluarga Nabi Ibrahim AS.
Pujian atas kisah kejayaan Islam menyertakan prasyarat, seperti ditulis dalam Alquran Surat Ali Imran ayat 110: Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.

Peduli Warga Sekitar, Gembira Loka Salurkan Hewan Kurban 