Warta

Statemen Prabowo Saat Peresmian KDMP Melukai Rakyat

catrawarta.com — Presiden Prabowo Subianto bicara soal nilai tukar dolar saat meresmikan operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih di Nganjuk,...

Stack of us $100 bills fanned out on a light surface showing multiple notes spread in a semicircle
Ilustrasi mata uang terkuat di dunia. Hari Sabtu (16/5/26) nilai rupiah terhadap Dollar Amerika 17.602. Sumber: pexels.com

catrawarta.comPresiden Prabowo Subianto bicara soal nilai tukar dolar saat meresmikan operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih di Nganjuk, Jumat (16/5). 

Dalam pidatonya Prabowo menyatakan bahwa masyarakat desa tak perlu merasa terlalu khawatir dengan kenaikan dolar karena mayoritas tidak menggunakan mata uang asing dalam aktivitas sehari-hari. “Mau dolar berapa ribu kek kan kalian di desa enggak pakek dollar.” 

Fenomena ketika pemimpin atau pejabat publik menyampaikan pernyataan yang dianggap jauh dari realitas masyarakat sering dibahas dalam perspektif psikologi politik, komunikasi politik, dan sosiologi kekuasaan. 

Pernyataan seperti kenaikan dolar tidak mempengaruhi rakyat desa karena keseharian mereka tidak pakai dolar bisa dipahami bukan soal salah ucap tetapi mencerminkan beberapa gejala sekaligus. 

Kejadian ini merupakan keterputusan elit dengan realitas sosial. Dalam perspektif ilmu politik hal ini terjadi ketika penguasa terlalu lama berada dalam lingkar kekuasaan, dikelilingi birokrasi protokoler dengan data yang disaring, serta kelompok pendukung yang cenderung mengamankan informasi. Akibatnya persepsi mereka terhadap kondisi rakyat menjadi berbeda dengan pengalaman nyata masyarakat di lapangan. 

Faktanya, perekonomian masyarakat desa tetap berdampak kenaikan dolar meski mereka tidak pernah secara langsung bertransaksi dengan mata uang asing terkuat itu. Hampir semua biaya hidup dan harga barang-barang naik saat nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah. Semua karena biaya produksi dan penyangga rantai produksi juga naik. 

Pernyataan yang tidak relevan dengan situasi di lapangan tadi dianggap menyederhanakan persoalan dan mengabaikan pengalaman hidup serta nir empati pada rakyat.

Psikologi sosial memandang kejadian seperti ini sebagai bentuk cognitive dissonance management. Hal ini adalah upaya penguasa menjaga optimisme dan stabilitas psikologis publik. Namun jika narasi yang dibangun terlalu jauh dari kenyataan sehari-hari justru memunculkan efek balik negatif, publik merasa tidak dipahami.

Secara komunikasi politik masalah utamanya bukan hanya isi ucapan tapi hilangnya empati bahasa. Rakyat sebenarnya bisa menerima keadaan sulit juga merasa pemimpin juga memahami  penderitaan mereka. Kekecewaan datang ketika ucapan penguasa terasa meremehkan keresahan rakyat. 

Untuk mengcaunter penguasa yang tidak punya empati masyarakat kemudian menyindir, mentertawakan, bahkan juga membuat parodi di berbagai media sosial. 

Kritik ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak sepenuhnya apatis. Mereka masih memiliki sensitivitas terhadap logika dan fakta sosial. Namun jika komunikasi pengusaha terus menerus tidak sambung dengan realitas di masyarakat maka jarak psikologis yang ada akan semakin lebar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *