catrawarta.com — ”Saat ini ada 637 juta orang di dunia yang mengalami kekurangan pangan setiap tahunnya, terutama di kawasan Asia Pasifik,” ungkap Assistant FAO Representative (Programme) di FAO Indonesia, Dr Ageng Setiawan Herianto.
Karena itu, persoalan pangan bukan sekadar isu sektoral, melainkan persoalan bagi semua orang yang hidup di muka bumi. Ia mengatakan itu pada pembekalan 1.353 calon wisuda program Sarjana dan Sarjana Terapan UGM di Grha Sabha Pramana.
Ageng memaparkan, rantai pasok sistem pangan sangat berpengaruh pada distribusi pangan. Jika dahulu fokus sistem pangan yakni cara untuk ”feed the world”, kini tujuannya telah berkembang menjadi ”nourish the world”.
”Sekarang tidak cukup hanya memberikan pangan agar tidak kelaparan, tetapi bagaimana caranya menyediakan pangan yang sehat dan dapat diterima seluruh lapisan masyarakat,” jelasnya.
Buka Ruang Kolaborasi
Ia menambahkan tujuan sistem pangan menuju healthy diet, mulai dari produksi sampai pasar. Artinya, sistem pangan mencakup seluruh rantai nilai, dari proses produksi, distribusi, hingga konsumsi yang sehat dan berkelanjutan. Perubahan tersebu membuka ruang kolaborasi multidisiplin yang sangat luas.
Agricultural digitalization, menurut Ageng, menjadi salah satu pintu masuk bagi generasi muda dari berbagai disiplin ilmu. Misalnya, lulusan teknik dapat berkontribusi dalam efisiensi rantai pasok, lulusan ekonomi dan bisnis dapat memperkuat model pembiayaan dan pasar, sementara lulusan hukum berperan dalam regulasi dan kebijakan pangan, serta berbagai bidang yang pasti berkaitan.
Pada kesempatan tersebut, ia menjelaskan tiga pilar utama atau karakter yang wajib dimiliki sumber daya manusia yang unggul. Pertama, selalu berpikir inovatif karena gagasan adalah hal yang penting.
Kedua, memahami kebijakan agar dapat beradaptasi. Ketiga, membangun jejaring yang luas. Dan jangan lupa untuk senantiasa menunjukkan ketertarikan dan komitmen sehingga orang akan percaya dengan integritas.
Kemampuan Komunikasi Bahasa Asing
Di depan mahasiswa, ia juga mengingatkan kemampuan komunikasi dan penguasaan bahasa asing menjadi kunci agar ide-ide dapat tersampaikan dan diterima di kancah global. Kecerdasan tanpa kemampuan komunikasi akan sulit membawa dampak positif.
”Gelar bukanlah akhir, melainkan awal tanggung jawab sosial yang lebih besar. Ketahanan pangan adalah agenda global yang memerlukan kontribusi lintas disiplin ilmu,” tandas Ageng.
Mereka yang terlibat mulai dari produksi hingga pasar, dari kebijakan hingga digitalisasi. Setiap lulusan dengan ilmu apapun memiliki ruang untuk terlibat. Dengan inovasi, komitmen, dan jejaring yang kuat, lulusan UGM mampu menjadi bagian dari solusi sistem pangan.

Fadli Zon Tantang Generasi Z Terlibat Hidupkan Situs Sejarah 