catrawarta.com — Menyampaikan kritik di Indonesia ternyata bukan hal yang mudah. Ada saja pihak yang tak mau menerima kritik. Lihat saja kasus penyiraman air keras pada Andrie Yunus. Ada lagi oknum tentara yang viral gara-gara menantang masyarakat yang menolak klaim tanah untuk pembangunan proyek tertentu.
Kini, viral seorang mahasiswa yang melakukan kritik pada program MBG. Mahasiswa Universitas Brawijaya, Mohammad Rafi Azzamy melontarkan kritik pada kampusnya yang akan mendirikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi.
Tak lama setelah menyampaikan kritikannya, data pribadi yang bersangkutan dibongkar dan digunakan sebagai teror. Bukan hanya data pribadinya tetapi juga data orangtuanya terutama ibunya. Ia juga menerima intimidasi, teror, ancaman. Dugaannya, pelaku merupakan orang kampus atau yang berkaitan dengan proyek MBG.
Kendati demikian, ia menyatakan tidak takut dan akan terus menyuarakan kritik. Pada akun instagramnya, ia menegaskan sama sekali tidak memiliki rasa takut seandainya dilaporkan pihak kampus karena mengkritik rencana pembangunan SPPG.
”Saya takut apabila diri ini tidak berani bersuara, membiarkan kezaliman merajelala. Rasa takut adalah ”film porno” yang sangat menggairahkan bagi kekuasaan, mereka senang dan terangsang ketika kita takut menyuarakan kebenaran,” papar Rafi seperti tertulis dalam akun pribadinya.
Pencurian Data Pribadi

Ia menuliskan pula, mengalami intimidasi, ancaman doxing dan pelecehan seksual. Hal yang sama juga dialaminya ketika berbicara lantang setelah Tragedi Kanjuruhan yang memakan korban lebih 100 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya terluka. Ini tragedi terburuk dalam sejarah sepakbola Indonesia bahkan masuk sebagai catatan dunia.
”Saya dan ibu saya mendapat fitnah keji dari buzzer Universitas Brawijaya setelah mengkritik rencana pembangunan SPPG,” imbuhnya.
Peneror membongkar data pribadinya. Seluruh akun peneror merupakan akun baru yang menurutnya sengaja dibuat untuk melakukan pengancaman. Para buzzer tidak berani menggunakan akun asli.
Menurutnya, memelihara buzzer merupakan kultur pengecut birokrat. Mereka bergerak sangat kompak dan serentak ketika ada isu miring tentang kampus. Narasi yang dilontarkan untuk melawan isu negatif juga sama.
Sejauh ini, sejumlah orang yang berani melakukan kritik pada program pemerintah langsung mendapat teror, ancaman, intimidasi bahkan pencurian data pribadi. Data tersebut kemudian disebar melalui akun-akun palsu.
Ironis, mereka yang memberi kritik, saran, masukan malah mendapat teror sedangkan yang telah menyebabkan anak-anak penerima MBG keracunan masih bebas. Tidak ada tersangka dari banyak kasus keracunan yang menimpa ribuan anak di berbagai daerah.

Hati-Hati, 3.500 Spesies Ikan Mengancam Manusia 