Warta

Mengapa Harga Tiket Pesawat Domestik Mahal?

catrawarta.com — Harga tiket pesawat Indonesia tergolong mahal. Bahkan pada akhir pekan dan liburan, kadang-kadang tidak masuk nalar. Calon pengguna rute tertentu...

Ilustrasi pesawat terbang di bandara.(Foto: istimewa)

catrawarta.comHarga tiket pesawat Indonesia tergolong mahal. Bahkan pada akhir pekan dan liburan, kadang-kadang tidak masuk nalar. Calon pengguna rute tertentu biasanya memilih membeli tiket ke luar negeri terdekat misal Malaysia, kemudian baru kembali ke Indonesia.

Beberapa pelanggan pesawat terbang rute domestik strategis seperti Jakarta–Makassar, Jakarta–Jayapura, hingga Yogyakarta–Medan tercatat memiliki harga tiket yang setara, bahkan lebih mahal, dibandingkan rute internasional ke negara-negara Asia Tenggara.

Kondisi tersebut memicu keluhan masyarakat. Banyak muncul kritik terhadap minimnya peran negara dalam mengendalikan tarif transportasi udara sebagai bagian dari layanan publik.

Intervensi Negara Lemah

Fenomena tersebut menurut pakar kebijakan publik Dr Suranto tidak lepas dari lemahnya intervensi negara dalam menjamin keterjangkauan layanan transportasi udara. Ia mengakui mahalnya tiket penerbangan domestik mendorong sebagian masyarakat Indonesia, khususnya dari wilayah Sumatra dan Indonesia Timur, memilih rute internasional sebagai alternatif yang lebih murah.

”Banyak warga Aceh atau Medan yang justru pulang lewat Malaysia. Harga tiket Yogyakarta–Kuala Lumpur–Aceh bisa separuh dari Yogyakarta–Jakarta–Aceh. Ini ironi dalam pelayanan publik,” papar Suranto.

Ia mengungkapkan tiga faktor internal utama yang menyebabkan harga tiket pesawat domestik tetap tinggi. Faktor pertama, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11 persen yang dibebankan pada tiket pesawat dan avtur. Berbeda dengan penerbangan internasional yang tidak dikenakan PPN, penerbangan domestik justru menanggung beban pajak berlapis.

”PPN merupakan pajak tidak langsung yang dampaknya langsung dirasakan penumpang. Ditambah lagi Passenger Service Charge (PSC) yang kini digabung dalam satu tiket, sehingga harga tiket otomatis melonjak,” jelasnya.

Tingginya Harga Avtur

Faktor kedua, tingginya harga avtur di Indonesia yang dinilai lebih mahal dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan ASEAN. Jika di Singapura harga avtur berkisar Rp 13.000 per liter, di Indonesia bisa mencapai Rp 15.000 per liter.

”Semakin ke timur, harga avtur semakin mahal karena biaya distribusi. Di Biak, misalnya, bisa mencapai Rp 15.500 per liter. Kondisi ini akhirnya dibebankan kepada maskapai dan berdampak langsung pada harga tiket,” imbuh Suranto.

Faktor ketiga yang tidak kalah krusial adalah struktur pasar penerbangan nasional yang bersifat oligopoli. Industri penerbangan domestik saat ini didominasi oleh dua kelompok besar, yakni Garuda Group dan Lion Group.

”Ketika pasar dikuasai oleh sedikit pemain, harga menjadi mudah dikendalikan. Maskapai baru sulit masuk karena biaya tinggi dan kebijakan yang belum sepenuhnya ramah terhadap persaingan,” tandasnya.

Faktor Eksternal Tiket Mahal

Pada faktor eksternal, Suranto mengatakan kebijakan subsidi yang diberikan pemerintah negara lain kepada maskapai internasional. Subsidi tersebut bertujuan mendorong sektor pariwisata, sehingga maskapai mampu menawarkan harga tiket yang jauh lebih murah.

Dampak mahalnya tiket pesawat, lanjut Suranto, tidak hanya dirasakan di sektor transportasi, tetapi juga berimbas pada ketimpangan harga barang dan pembangunan, terutama di wilayah Indonesia Timur.

Barang konsumsi di wilayah timur jauh lebih mahal karena biaya transportasi yang tinggi. Jika kondisi ini dibiarkan, ketimpangan pembangunan akan semakin melebar.

”Solusi utama dari persoalan itu terletak pada political will pemerintah. Pemerintah perlu mengevaluasi kebijakan pajak, memberikan insentif khusus bagi wilayah Indonesia Timur, serta membuka ruang persaingan yang lebih sehat di industri penerbangan nasional,” pintanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *