Warta

Manusia Tak Akan Lepas dari Perang, Kurangi Kecenderungan Jangan Sampai Destruktif

catrawarta.com — Perang kerap dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari narasi besar sejarah manusia. Dari era kolonialisme hingga ketegangan geopolitik modern, konflik...

SEKOLAH: Serangan Amerika Serikat dan Israel juga menyasar sekolah dan anak-anak.(Sumber: instagram iraninindonesia)

catrawarta.comPerang kerap dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari narasi besar sejarah manusia. Dari era kolonialisme hingga ketegangan geopolitik modern, konflik bersenjata seakan tidak pernah benar-benar usai melintasi berbagai belahan dunia.

Situasi global saat ini kian memanas, dipicu oleh eskalasi di Timur Tengah pasca serangan Amerika Serikat-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran pada Februari lalu. Di saat yang sama, dunia masih dibayangi Perang Rusia-Ukraina dan krisis berkepanjangan di Gaza.

Fenomena tersebut memicu pertanyaan mendasar, apakah perang adalah sifat bawaan (insting) atau hasil konstruksi sosial? Dosen Sejarah FIB UGM, Satrio Dwicahyo, menilai perang adalah perpaduan kompleks dari berbagai dimensi kemanusiaan.

”Ada aspek biologis, psikologis, dan interaksi sosial yang saling berkelindan. Perang adalah gabungan dimensi tersebut dengan derajat yang berbeda-beda,” ungkap Satrio.

Pemicu Konflik Berevolusi

Dalam perspektif sejarah, menurutnya faktor-faktor pemicu konflik terus berevolusi seiring kemajuan teknologi dan perubahan struktur masyarakat. Perkembangan ini bisa menjadi pemantik perang, namun sekaligus berpotensi menjadi penghambat.

Mengenai akar agresivitas manusia, Satrio melihat adanya dualitas sejak masa purba. Manusia memang mengenal kekerasan untuk bertahan hidup, namun di saat yang sama juga mengembangkan mekanisme nirkekerasan untuk mengelola konflik.

”Manusia mungkin tidak akan pernah sepenuhnya lepas dari potensi perang. Upaya yang dilakukan selama ini hanyalah sebatas mengurangi kecenderungan tersebut agar tidak meledak secara destruktif,” tambahnya.

Teknologi Mengubah Perang

Memasuki era modern, teknologi mengubah wajah peperangan secara drastis. Satrio menyoroti bagaimana kemajuan alat utama sistem senjata (alutsista) telah memangkas jarak fisik di medan tempur.

Ia memperingatkan adanya fenomena ”gimifikasi perang”. Konflik dijalankan layaknya permainan jarak jauh. Kondisi tersebut berisiko menghilangkan sisi kemanusiaan karena pelaku tidak lagi berhadapan langsung dengan lawan.

Selain teknologi, identitas kelompok dan perebutan sumber daya tetap menjadi motor penggerak. Namun, Satrio mencatat bahwa aliansi politik seringkali bersifat cair, bergantung pada kepentingan strategis di masa tersebut.

Meski konflik marak, peradaban manusia sebenarnya terus menginstitusikan perdamaian melalui diplomasi dan organisasi internasional seperti PBB. Lembaga itu hadir untuk menahan laju perang lewat norma dan hukum internasional.

Satrio menekankan, tantangan ke depan adalah evolusi dalam pelaksanaan konflik. Tujuannya bukan penghentian total yang mustahil, melainkan bagaimana manusia mengelola potensi kekerasan agar tidak semakin memburuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *