catrawarta.com — Kabar gembira bagi masyarakat pengguna jalan di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dua seksi strategis pada proyek Jalan Tol Jogja-Bawen ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2026 mendatang. Sebentar lagi konektivitas Jogja-Solo-Semarang bakal terwujud.
Direktur Utama PT Jasamarga Jogja Bawen, AJ Dwi Winarsa, mengungkapkan pembangunan menunjukkan tren positif. Hingga saat ini, progres konstruksi Seksi 1 yang menghubungkan Jogja hingga Simpang Susun Banyurejo sepanjang 8,8 kilometer telah mencapai 89,80 persen.
“Sementara itu, progres di ujung lainnya, yakni Seksi 6 di kawasan Bawen, sudah menyentuh angka 96 persen. Keduanya akan beroperasi di tahun ini (2026),” ujar Dwi Winarsa.
Pernyataan tersebut sekaligus memberikan kepastian bagi publik mengenai jadwal pemanfaatan jalur bebas hambatan tersebut.
Lintasi Lima Wilayah
Jalan Tol Jogja-Bawen merupakan proyek raksasa sepanjang 75,12 kilometer yang melintasi lima wilayah administratif, mulai dari Kabupaten Sleman, Magelang, Temanggung, hingga Kabupaten Semarang.
Jika seluruh trase rampung pada 2028-2029, waktu tempuh Yogyakarta-Semarang yang biasanya memakan waktu hingga tiga jam diprediksi akan terpangkas drastis menjadi kurang dari satu jam.
Namun, di balik progres yang signifikan, Dwi mengakui adanya tantangan besar di lapangan yang memaksa tim melakukan penyesuaian teknis. Salah satu yang paling krusial adalah perubahan desain di kawasan Selokan Mataram.
Mengingat lokasi tersebut berstatus cagar budaya, desain awal yang semula berbentuk single tier harus diubah total menjadi struktur portal demi menjaga kelestarian situs sejarah.
Kenaikan Biaya Konstruksi
Perubahan desain tidak hanya teknis namun berimplikasi pada kenaikan biaya konstruksi yang cukup signifikan. Selain isu cagar budaya, tim lapangan juga harus berjibaku dengan kondisi alam, seperti temuan tanah lunak di area Bawen hingga potensi aliran debris dari kawasan Gunung Merapi yang memerlukan penanganan teknis khusus agar jalan tol tetap aman digunakan.
Dwi juga menyoroti kompleksitas skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Ia menyebut banyak kondisi tak terduga muncul setelah proses tender selesai, yang kemudian menjadi beban tambahan bagi Badan Usaha Jalan Tol (BUJT).
Masalah tersebut mulai dari selisih biaya desain, perizinan lintas instansi yang rumit, hingga dinamika pengadaan tanah yang seringkali tidak pasti.
Penggerak Ekonomi Baru
“Perlu ada kajian ulang soal pembagian risiko yang lebih adil dan proporsional antara pemerintah dan investor, agar kelayakan investasi tetap terjaga,” papar Dwi.
Menurutnya, keseimbangan risiko sangat penting untuk menjamin keberlanjutan proyek-proyek infrastruktur besar di masa depan agar tidak memberatkan satu pihak saja.
Keberadaan Tol Jogja-Bawen nantinya akan terintegrasi penuh dengan Tol Jogja-Solo dan Tol Semarang-Solo. Integrasi ini diharapkan tidak hanya memperlancar arus logistik, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi baru, khususnya di sektor pariwisata sepanjang koridor Jogja, Magelang, Temanggung, hingga Ambarawa yang memiliki potensi wisata kelas dunia.

Brimob X-Treme 2026 Jadi Ajang Internasional, Indonesia Tunjukkan Kapasitas Global 