catrawarta.com — Iran mengalami aksi luar biasa ketika rakyat marah atas berbagai kondisi sosial dan ekonomi negara tersebut. Kondisi itu menandakan indikator kerapuhan legitimasi rezim.
Demo terbesar sejak revolusi 1979 menewaskan ribuan orang. Sebagian besar masyarakat sipil dan ada pula aparat keamanan. Ketegangan masih terus terjadi hingga sekarang.
Rakyat tak lagi kuasa menahan kemarahan yang berakar dari depresi ekonomi yang ekstrem, pembekuan aset oleh negara-negara Barat serta sanksi internasional. Kebijakan represif penguasa dalam menangani demonstran juga semakin mendorong perlawanan rakyat.
”Rezim manapun akan membabi buta ketika menghadapi ancaman eksistensial. Inilah yang terjadi sekarang. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan posisinya. Jurus yang dipakai selalu menyalahkan pihak luar, yakni Amerika dan Israel,” ungkap Kepala Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM, Ahmad Munjid PhD.
Tidak Menyelesaikan Masalah
Ia melihat intervensi asing merupakan fakta geopolitik yang nyata namun narasi tersebut tidak akan menyelesaikan persoalan. Rezim penguasa Iran tidak bisa terus-menerus lempar batu sembunyi tangan dengan menimpakan semua kesalahan kepada intervensi asing. Hal tersebut tidak akan pernah menyelesaikan masalah.
Menurut Munjid, rezim Iran perlu segera merumuskan solusi atas krisis ekonomi primer dan tuntutan demokrasi sebagai penentu kestabilan nasional. Meski situasi ketegangan di Iran sudah mulai mereda tetapi masalah utamanya, yakni kesulitan ekonomi sama sekali belum teratasi.
”Demonstrasi akan meletus kembali sewaktu-waktu. Rakyat Iran butuh makan dan menjalani kehidupan dengan normal,” tegasnya.
Rezim Otoriter Sangat Brutal
Munjid menilai terdapat kemiripan mendasar antara demonstrasi Januari 2026 dengan peristiwa pada tahun 1979. Keduanya mirip dalam hal besarnya massa protes yang mencerminkan kekecewaan dan kemarahan publik terhadap rezim penguasa.
Rakyat marah karena bangkrutnya ekonomi, korupsi elite yang merajalela, dan rezim otoriter yang sangat brutal menghadapi protes.
Ia memaparkan krisis ekonomi Iran memiliki kompleksitas yang jauh lebih parah. Kapasitas ekonomi hanya beroperasi pada level 50 persen akibat sanksi ekonomi jangka panjang, dampak pandemi, serta memburuknya kondisi global.

Paradoks Prabowo, Problem Berlanjut? 