catrawarta.com — Keterpurukan rupiah bukan hanya terjadi karena geopolitik global. Faktor internal juga dominan terutama program-program yang menurut investor merupakan pemborosan. Karena itu, investor lebih baik cabut dan melakukan investasi di negara yang aman.
Sejumlah negara ASEAN malah aman. Mata uang mereka lebih kuat dibandingkan Indonesia. Ketidaknyamanan para investor menjadikan mereka melirik ke lain hati. Wajar kalua kemudian rupiah sangat sulit untuk kembali ke Bawah Rp 17.000 per dolar AS.
Pengamat sekaligus pelaku keuangan, John Rahmat yang juga Komisaris Independen Pinacle Investment sebuah perusahaan manajer investasi di Indonesia. Ia menjelaskan kurs mata uang adalah sebuah harga seperti semua Harga tergantung penawaran dan permintaan.
Ia menjelaskan itu dalam wawancara dengan influencer Raymond yang tayang pada akun Instagram kisahanakrantau__.
Investor Tidak Nyaman
John mengungkapkan khusus untuk permintaan dolar AS di Indonesia sangat tinggi karena investor-investor di dunia obligasi pemerintah tidak nyaman lagi dan ingin keluar. Sehingga mereka jual obligasinya terima rupiah diberikan dolar AS.
Mengenai penyebab melemahnya rupiah, John mengatakan berdasarkan Bank Indonesia karena pengaruh faktor global seperti perang Iran, harga minya tinggi sekali. Tetapi kalau seperti itu, jelas John, harusnya negara lain juga mengalami faktor yang sama.
”Tapi kenyataannya rupiah itu kalah dengan bukan hanya dolar Singapura atau Malaysia Ringgit ya, bahkan dengan Kamboja dan Vietnam atau Nigeria kita juga keok gitu lho,” ujar John dalam wawancaranya.
Jadi menurutnya ada sesuatu yang istimewa tentang Indonesia sendiri. Ia mengatakan poin utamanya adalah banyak investor global sangat tidak nyaman dengan kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Dulu Indonesia terkenal punya kebijakan fiscal sangat prudent terutama ketika Sri Mulyani menjabat Menteri Keuangan.
Pangkas MBG dab KDMP
John menilai akhir-akhir ini pengeluaran pemerintah sudah sangat besar tahun lalu, 2025, budget deficit Pemerintah Indonesia sudah 2,92 persen dari GDP. Ini sangat-sangat dekat sekali dengan batas 3 persen.
”Tahun ini lebih parah lagi dilihat dari budget defisit pemerintah pada 4 bulan pertama tahun 2026 sudah minus Rp 164 triliun. Empat bulan pertama pada 2025 masih surplus Rp 4,3 triliun. Tahun lalu yang semula surplus jadi ngepres sekali dengan 3 persen,” tambah John.
Ia menegaskan, pemerintah harus berani memangkas pengeluaran semua program-program terutama yang sebetulnya tidak efektif untuk membawa membawa kenaikan penerimaan pemerintah. Ia menyebut program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih, rumah bersubsidi dan lainnya.
Pada akhir wawancara, John menyarankan anak-anak muda Indonesia untuk bekerja di negara yang keuangannya kuat. Mereka bisa mengirimkan penghasilannya ke Indonesia.

IDAI Dua Kali Surati BGN Soal Susu Formula dalam Program MBG 