catrawarta.com — Pernyataan bahwa Indonesia salah satu negara yang warganya bahagia menjadi meme di berbagai media sosial. Kritik sekaligus komedi menggambarkan kondisi nyata yang sebaliknya dari klaim tersebut.
Ada pula yang berolok-olok, kalau pejabat mengatakan ”iya” berarti kenyataannya ”tidak”. Begitu pula sebaliknya, kalau pejabat mengatakan ”bahagia” artinya bertolak belakang alias ”tidak bahagia”.
Karena itu perlu membaca secara kritis berbagai klaim misal ada lagi dalam sehari MBG menyembelih 19.000 sapi, membagikan seekor lele untuk satu penerima.
”Indikator yang digunakan dalam pemeringkatan bukan semata-mata mengukur kebahagiaan (happiness), melainkan konsep flourishing yang memiliki makna lebih luas dan berbeda secara substansial,” ungkap Psikolog RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Mufliha Fahmi MPsi Psikolog.
Ia menegaskan, flourishing tidak sama dengan happiness. Kebahagiaan hanya sebagian dari kebermaknaan hidup. Flourishing mencakup aspek relasi sosial, makna hidup, tujuan, hingga kontribusi individu dalam masyarakat.
Nilainya Justru Relatif Rendah
Menurut Mufliha, Indonesia memang memiliki skor tinggi dalam dimensi nonmaterial, seperti makna hidup, relasi sosial, dan religiositas. Namun, pada indikator kepuasan finansial, kesehatan fisik, dan kesehatan mental, nilainya justru relatif rendah.
”Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara persepsi kebahagiaan kolektif dan realitas kesejahteraan psikologis masyarakat,” jelasnya.
Ia mengaitkan temuan tersebut dengan dinamika sosial yang berkembang, termasuk meningkatnya ekspresi ketidakbahagiaan di media sosial, terutama di kalangan generasi muda dan kelas pekerja. Fenomena itu bukan sekadar keluhan emosional, melainkan bentuk kebutuhan akan validasi sosial dan ruang aman untuk mengekspresikan tekanan psikologis.
Data Kasus Bunuh Diri
Mufliha juga menyoroti data kasus bunuh diri di Kabupaten Sleman yang hingga Februari 2026 telah mencapai empat hingga lima kasus, lebih dari separuh total kasus sepanjang 2025. Padahal baru bulan Februari, belum genap satu tahun. Artinya, ada persoalan kesejahteraan psikologis yang tidak bisa diabaikan.
”Kebahagiaan tidak sepenuhnya boleh digantungkan pada situasi politik atau kebijakan negara. Ia mengajak masyarakat untuk membangun ketahanan psikologis melalui penerimaan diri, pengelolaan emosi, serta perjuangan aktif dalam menghadapi tantangan hidup,” paparnya.
Kebahagiaan, tambahnya, bukan berarti tidak ada kesedihan atau kekecewaan. Kebahagiaan adalah bagaimana seseorang merespons keadaan tanpa menyerahkan kendali batin sepenuhnya pada situasi eksternal.
Perubahan perspektif tentang makna bahagia menjadi penting di tengah tekanan ekonomi, polarisasi politik, dan derasnya arus informasi digital yang turut memengaruhi kondisi psikologis masyarakat.
”Kebahagiaan individu tidak akan utuh tanpa kebahagiaan sosial. Kesejahteraan psikologis masyarakat menjadi tanggung jawab kolektif, termasuk para pemimpin dan otoritas moral dalam menciptakan lingkungan yang sehat secara sosial maupun mental,” tegasnya.

Tren Pembelian Emas, Tetap Tinggi Mendekati Hari Raya Fitri 