Warta

Filosofi Janteloven, Akar Budaya Hidup Sederhana di Norwegia

10 Konsep sederhana Janteloven menjadi pegangan kaut di Norwegia. Kini, Norwegia termasuk negara paling bahagia dan kaya di dunia.

Filosofi janteloven yang jadi budaya dan gaya hidup masyarakat di norwegia
Filosofi Janteloven yang jadi budaya dan gaya hidup masyarakat di Norwegia. (dok. Freepik/wayhomestudio)

catrawarta.comDi tengah arus modernisme yang deras, masyarakat global menghadapi banyak tantangan. Salah satunya soal sikap menghadapi kemajuan zaman yang seringkali justru menjerumuskan masyarakat itu sendiri ke dalam budaya global yang terasa kurang pas.

Misalnya, flexing atau terlalu memperlihatkan kemewahan, kenyamanan, dan gaya hidup hedonisme yang dibagikan secara digital lantas dipandang sebagai acuan pencapaian. Meski demikian, ada yang berbeda dari cara pandang warga di Norwegia.

Di era masa kini pun, kita dikejutkan oleh pemandangan soal Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Store bersama Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen dan juga Presiden Finlandia Alexander Stubb yang justru makan malan dengan cara sederhana. Alih-alih dengan setelan jas formal, makanan mahal, dan ruang yang istimewa, mereka justru menyantap hidangan dalam suasana informal dan busana kasual, sangat jauh dari kesan mewah atau protokoler berlebihan.

Terletak di kawasan Nordik, Norwegia memang mengadaptasi cara berpikir dari kebanyakan masyarakat yang juga tinggal di Denmark, Swedia, hingga Finlandia. Hanya, Norwegia memang cukup istimewa dalam memandang filosofi Janteloven yang hingga kini masih mengakar kuat sebagai budaya kolektif.  

Ide dan filosofi hidup Janteloven sendiri sebenarnya pertama kali muncul dalam novel fiktif bertajuk ‘A Fugitive Crosses His Tracks (En Flyktning Krysser Sitt Spor) karya penulis berdarah Denmark-Norwegia bernama Askel Sandemose pada tahun 1933.

Novel ini secara tertulis memuat cerita soal kota kecil fiktif di Denmark, Jante. Di sana, setiap warganya diminta untuk menundukkan identitas mereka kepada kelompok. Meski terdengar utopis bagi sebagian besar warga dunia, nyatanya Sandemose menilai jika budaya ini sebenarnya bisa ditemukan di desa hingga kota di Norwegia sejak lama, menurut catatan historis yang ditemukannya.

Sepuluh Aturan Dasar yang Jadi Andalan

Portrait of an older man with a gray beard and glasses in a suit leaning forward against a backdrop of handwritten cursive text
Aksel Sandmose, penulis yang mengenalkan konsep Janteloven. (dok. scandinaviastandard.com)

Lebih lanjut, Sandmose turut menulis sepuluh aturan tentang konsep hidup Janteloven yang jadi acuan masyarakat Norwegia hingga saat ini. Adapun isinya adalah seperti ini,

Aturan 1: Jangan berpikir bahwa kamu adalah orang yang istimewa.

Aturan 2: Jangan berpikir kamu sebaik kami.

Aturan 3: Jangan berpikir kamu lebih pintar dari kami.

Aturan 4: Jangan menganggap dirimu lebih baik dari kami.

Aturan 5: Jangan berpikir Anda lebih tahu daripada kami.

Aturan 6: Jangan berpikir bahwa kamu lebih penting daripada kami.

Aturan 7: Jangan berpikir kamu mahir dalam hal apapun.

Aturan 8: Jangan menertawakan kami.

Aturan9: Jangan berpikir ada orang yang peduli padamu.

Aturan 10: Jangan berpikr kamu bisa mengajari kami apapun.

Sepuluh aturan ini memberikan gambaran secara luas dan mendalam tentang pola perilaku masyarakat. Dalam aturan ini, seringkali ditemukan kata ‘kamu’ yang ditujukan kepada individu, sementara ‘kami’ tak lain merujuk pada budaya atau masyarakat itu sendiri.

Sehingga, masyarakat Norwegia di sana umumnya cukup tunduk dengan filosofi yang telah mengakar kuat di komunitasnya ini. Mereka bahkan menekankan soal pencapaian bersama, alih-alih membanggakan keberhasilan diri sendiri. Malahan, memperlihatkan kemewahan di sana juga dianggap tabu dan tak bisa dibenarkan.

Kesetaraan adalah segalanya. Tidak ada tempat sama sekali bagi masyarakatnya yang berpikir merasa lebih hebat atau penting dari orang lain. Tak heran jika Norwegia punya masyarakat yang santun dalam berbicara dan bersikap kepada orang lain, bahkan orang asing sekalipun.

Dalam Janteloven ini, menunjukkan pencapaian atau kemewahan ini dianggap berlebihan dan tak sopan. Konsep ini lah yang lantas membuat masyarakat Norwegia acapkali fokus pada kerja keras untuk kemajuan bersama daripada haus validasi publik untuk mendapatkan pengakuan.

Hal tersebut juga diajarkan sejak dini kepada anak-anak. Di dunia kerja pun kesuksesan bersama menjadi fokus mereka untuk mencapai tujuan dengan cara yang lebih humanis.

Dengan demikian, Janteloven ini banyak dilirik hingga menuai kritikan dari negara pro liberalisme. Janteloven bagi mereka dianggap bisa mengekang kebebasan dan kreativitas diri.

Namun nyatanya, Norwegia hingga saat ini justru menjadi salah satu negara dengan tingkat kebahagiaan warganya yang cukup tinggi. Bahkan, mereka punya kekayaan yang dikelola dengan begitu baik dan menghasilkan kemakmuran bersama.

Rasanya, Norwegia di masa kini juga selalu mengajarkan dunia bahwa hidup memang sebenarnya tak perlu egois. Keseimbangan dan kebersamaan jauh lebih berharga di tengah pencapaian diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *