Warta

Dino Patti Djalal Kritik Sikap RI yang Tak Kirim Delegasi ke Pemakaman Khamenei

Dino Patti Djalal kritik keras sikap Indonesia yang absen kirim delegasi resmi ke pemakaman Ayatollah Khamenei.

Man in a black shirt places white flowers in front of framed portraits of iranian clerics against a dark background as part of a memorial display
BUNGA: Ilustrasi warga Iran meletakkan bunga pada prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei.(Sumber: instagram iranindonesia)

catrawarta.comKetiadaan petinggi Indonesia yang menyampaikan secara langsung ungkapan duka cita untuk Iran pada prosesi pemakaman Ayatollah Seyyed Ali Khamenei menjadi tanda tanya banyak pihak. Ini menjadi langkah yang membuat Indonesia dinilai menjauhi Iran, terlebih sejak masuknya ke dalam Board of Peace.

Dampak nyata kala itu, Iran belum juga membolehkan kapal tanker Indonesia melintasi Selat Hormuz. Berbagai lobi dilakukan namun tidak ada tanda-tanda Iran mengizinkannya. Bahkan nama Indonesia tidak disebut dalam daftar negara yang boleh melintas saat pecah perang Amerika Serikat, Israel dan Iran.

Kini, Indonesia dinilai tak lagi ”menganggap” Iran sebagai negara sahabat. Pasalnya, tidak ada petinggi negara yang hadir dalam prosesi pemakaman Khamenei. Hanya ada Duta Besar Indonesia untuk Iran. Sesuatu yang dianggap tidak menunjukkan simpati dan empati.

Aktivis hubungan luar negeri, Dino Patti Djalal bahkan secara terbuka menyampaikan kritik pedas pada sikap Indonesia. Ia mengungkapkan secara tertulis dalam akun Instagram pribadinya, @dinopattidjalal.

Ia membuka tulisan ”Dengan hormat, saya sungguh heran kenapa Pemerintah Indonesia tidak memenuhi undangan Iran untuk mengirim delegasi resmi ke pemakaman almarhum Ayatollah Khamenei yang terbunuh dalam serangan militer ilegal”.

Iran Punya Harga Diri

Begitu ungkapan Dino, diplomat senior yang sudah puluhan tahun mendedikasikan dirinya. Ia melanjutkan, Iran telah menyampaikan berbagai upaya gigih untuk mengundang Pemerintah Indonesia namun tidak mendapat tanggapan.

Kendati demikian, ia menyatakan Iran mempunyai harga diri, tidak mungkin mengemis-ngemis kehadiran Indonesia. Akhirnya, yang hadir hanya Dubes RI di Teheran, yang dianggap oleh Teheran sebagai sikap menyepelekan undangan.

Sementara Arab Saudi, Qatar, Turki, Oman, Pakistan, Kazakhstan, Rusia, Tiongkok, India, Malaysia, Bangladesh dan banyak lagi, sama sekali tidak ragu mengirim delegasi resmi pada tingkat menteri. Bahkan Pakistan pada tingkat presiden. Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia satu-satunya yang absen mengirim delegasi.

”Apakah ini berarti politik luar negeri bebas aktif kita mulai luntur karena Indonesia takut atau sungkan terhadap Amerika? Ataukah rasa takut menjadi faktor kebijakan luar negeri?” tanya Dino.

Bisa juga, menurutnya, kekhilafan ini lebih mencerminkan manajemen sistem politik luar negeri yang bermasalah – sebagaimana biasanya, surat undangan macet di berbagai meja dan tidak ada yang berani mengambil keputusan. Paling tidak Indonesia bisa mengirim wakil menteri luar negeri urusan dunia Islam.

Sahabat Lama Indonesia

Dino mengingatkan, Indonesia seakan melupakan Iran adalah sahabat lama. Hubungan selalu terjaga dengan hangat dan saling menghormati, dan tidak pernah ada konflik antara kedua negara.

Kehadiran delegasi resmi Indonesia dalam acara penghormatan terakhir Ayatollah Khamenei seharusnya menjadi momen pembuktian diplomasi bebas-aktif Indonesia. Selain itu, momen persahabatan RI-Iran sekaligus sinyal tegas dari Jakarta bahwa aksi pembunuhan Ayatollah Khamenei adalah aksi ilegal yang melanggar hukum dan norma internasional.

”Jangan sampai kita selalu lantang bicara bebas aktif, tapi begitu diminta menentukan sikap dlm situasi yg sensitif, kita bersembunyi. Please remember : bebas aktif adalah #diplomasiberprinsip, bukan #diplomasisungkan,” tandas Dino mengakhiri kritiknya yang mendapat banyak tanggapan dan dukungan dari netizen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *