Warta

Di Balik Suara MC Tedhak Siten, Menjaga Makna Tradisi di Tengah Perayaan yang Kian Modern

Tedhak Siten menjadi upacara adat Jawa yang tetap dijaga di zaman modern. Apa arti dan makna setiap ritualnya?

Upacara tedhak siten yang modern dan semakin diminati berbagai lapisan masyarakat
Upacara tedhak siten yang modern dan semakin diminati berbagai lapisan masyarakat. (dok. Pribadi)

catrawarta.comBerbusana adat Jawa lengkap dengan blangkon, ada mikrofon yang juga siap untuk digenggam. Di tengah suasana bahagia nan magis dengan latar belakang suara tangisan bayi yang menggemaskan, Hendra mulai melangkah ke ruang utama acara perayaan tedhak siten.

Ya, Hendra merupakan seorang Master of Ceremony (MC) yang menghidupkan berbagai perayaan adat Jawa, termasuk tedhak siten. Menurut pria yang berdomisili di Gedongkiwo, Kota Yogyakarta ini, tedhak siten ini berasal dari dua kata yakni tedhak dan siti.

Dua kata ini bisa dimaknai sebagai fase kehidupan sang bayi yang mulai memiliki ketertarikan untuk mulai mengeksplorasi sekelilingnya dengan kaki sendiri. Fase inilah yang menurut adat Jawa perlu dilakukan upacara tedhak siten untuk memastikan sang bayi mulai menginjak tahapan kehidupan dengan cara yang baik dan penuh makna.

Tedhak siten itu berasal dari dua kata, yaitu tedhak yang artinya turun, lalu siti yang artinya tanah. Jadi tedhak siten itu bisa dimaknai upacara adat Jawa yang dilakukan saat bayi sudah memiliki keinginan untuk turun tanah dan sudah enggan untuk terus digendong,” ujar Hendra kepada catrawarta, Jumat (24/7).

Untuk upacara adatnya sendiri, tedhak siten dulunya dilakukan saat bayi mulai berusia 7 lapan. Hendra menyebut, 7 lapan ini bisa dihitung sekitar 245 hari sejak bayi lahir. Sehingga, upacara tedhak siten ini biasanya mulai dilakukan saat si bayi berusia sekitar 8 bulan.

Namun seiring berjalannya waktu, Hendra menyebut jika upacara adat Jawa yang kental tradisi ini memiliki perubahan menyesuaikan zaman. Kemajuan pemenuhan nutrisi sejak bayi masih berada di dalam kandungan turut memengaruhi perkembangan fisik anak.

Karena itu, pelaksanaan tradisi tedhak siten kini tidak lagi terpaku pada usia 7–8 bulan, melainkan lebih disesuaikan dengan kesiapan bayi saat mulai belajar menginjakkan kaki atau berjalan. Sehingga, Hendra telah terbiasa menemui bayi berusia kurang dari 7 bulan yang menjadi tokoh utama dalam rangkaian ritual.

Dia juga tak menampik bahwa setiap anak memiliki laju pertumbuhan yang berbeda. Karena itu, tidak sedikit peserta tedhak siten yang menjalani prosesi saat usianya telah melewati lebih dari 8 bulan seperti pathokan adat di masa lampau.

“Sekarang, ada yang kurang dari 7 bulan sudah bisa kenal tanah. Tapi ada juga yang lebih dari 8 bulan. Ya semua bayi di zaman sekarang memang memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda-beda. Jadi orang tua hanya menyesuaikan saja,” ceritanya.

Man in a red traditional jacket and patterned sarong speaks into a handheld microphone outdoors holding notes
Hendra ketika menjadi pemandu sekaligus menggambarkan setiap makna dan filosofi dari upacara tedhak siten. (dok. Pribadi)

Tahapan Prosesi Panjang Tedhak Siten

Seperti halnya prosesi adat lainnya, tedhak siten juga memiliki serangkaian ritual yang harus diikuti oleh sang bayi. Pertama, bayi diajak untuk melakukan prosesi bernama injak jadah 7 warna yang meliputi merah, putih, kuning, oranye, hijau, biru, hingga ungu.

Jadah yang memiliki sifat lengket usai dimasak menandakan jika sang anak setidaknya harus dibekali dengan sejumlah hal. Beberapa hal inilah yang disimbolkan ke dalam 7 warna jadah.

Bukan sembarang, setiap warna dari masing-masing jadah ini juga memiliki filosofi mendalam yang melambangkan kesiapan anak dan kebutuhan yang harus dipenuhi orang tua bagi si bayi kelak seiring pertumbuhannya menjadi manusia dewasa.

Pertama, jadah merah dimaknai sebagai raga si anak yang bakal terus bertumbuh. Di sini, ritual ini senantiasa menjadi simbol demikian sekaligus peringatan bagi orang tua untuk mengiringi pertumbuhan si kecil dengan baik, memberi asupan yang baik, hingga merawat raganya.

“Jadah merah ini mengingatkan orang tua agar mereka bisa menjaga dan merawat raga si anak agar nantinya menjadi manusia yang berkualitas, tidak stunting, dan pertumbuhannya baik,” jelas Hendra.

Jadah kedua yang berwarna putih melambangkan jiwa si anak. Nantinya jiwa ini juga memerlukan pendampingan secara penuh dari orang tua. Si anak, diharapkan kelak mampu menjadi manusia yang suci dan mengenal Tuhannya dengan baik.

Ketiga, ada jadah berwarna kuning yang juga harus diinjak. Kuning ini dimaknai sebagai kebijakan. Sehingga, ketika anak telah mengenal pengetahuan untuk menjaga jiwa dan raga, dia diharapkan mampu menjadi manusia yang bijaksana dan peduli dengan kesehatan mental dan raganya sendiri.

Setelah kuning, ada pula warna oranye yang menyimbolkan hubungan dengan manusia lain. Sehingga, ketika kesehatan jiwa dan raganya terpenuhi, si anak diharapkan mampu dan bijak ketika berhubungan dengan manusia lainnya di muka bumi.

“Nah setelah si anak cukup dan baik jiwa raganya, maka dia bisa berhubungan dengan manusia lainnya dengan bijak dan baik,” terangnya.

Ada lagi warna hijau yang menyimbolkan soal tumbuhan dan hewan. Selain diri sendiri dan orang lain, maka si bayi ini nantinya didoakan agar tumbuh menjadi manusia yang menyayangi bumi beserta hewan di dalamnya.

Soal warna biru ini memiliki simbol tersendiri yang menggambarkan air, udara, dan kehidupan. Sang bayi nantinya juga bisa menjadi orang yang bijak terhadap kehidupan dan alam sekitarnya.

Terakhir, jadah berwarna ungu menjadi pengingat yang paling utama bahwa manusia senantiasa tak kekal di dunia. Si anak didoakan agar menjadi manusia yang arif dan tak berorientasi untuk hidup secara duniawi.

Group of women in batik sarongs and colorful blouses participate in a traditional outdoor ceremony guiding a child near decorative leaf offerings on a green carpet
Rangkaian upacara injak jadah dengan Hendra sebagai pemandu di Bali. (dok. Pribadi)

Sebab, manusia nanti hanya berujung pada kematian. Di sinilah, para orang tua nantinya wajib mengenalkan arti dari perpisahan dan kematian yang menjadi penanda akhir hidup manusia.

“Di sini, kematian juga harus dikenalkan kepada sang anak. Karena, memang manusia ini ujungnya nanti adalah kematian. Sehingga, mereka tidak bisa sewenang-wenang hidup di bumi karena nantinya juga akan berhadapan dengan kematian. Orang tua bisa mengenalkan saat si kecil misal bertanya mengapa kakek atau nenek meninggal dan sebagainya,” cerita Hendra.

Setelah selesai dengan prosesi injak jadah, maka rangkaian tedhak siten berikutnya yang biasa diikuti Hendra sesuai adatnya ialah menaiki 7 tangga tebu. Dalam hal ini, prosesi tersebut dimaknai sebagai perjalanan hidup si anak nanti yang juga akan terasa seperti menaiki tangga, terus bergerak untuk mencapai puncak kehidupan yang sejahtera melalui pendidikan.

Angka tujuh di tangga ini memiliki filosofi mendalam soal pitu dalam bahasa Jawa yang artinya pertolongan dari Yang Maha Kuasa sebagai penolong sang anak di sepanjang hidupnya. Sementara itu, tebu memiliki makna mendalam mengenai antebing kalbu atau mantap dan tak ragu-ragu dalam melangkah meski mendapati rintangan di depan mata.

Prosesi menaiki tangga selesai, lalu si anak akan menjalani ritual kurungan. Sebelumnya, ada sejumlah mainan yang memiliki keterkaitan dengan berbagai profesi di dunia untuk dipilih si kecil. Maknanya, setelah si anak menempuh pendidikan tinggi yang harus diusahakan orang tua, lalu berikutnya dalah fase kehidupan memilih pekerjaan.

Kurungan di sini menjadi simbol perlindungan dan pengawasan dari orang tua. Meski telah dewasa, anak diharapkan nantinya masih di bawah perlindungan dan pengawasan dari orang tua soal memilih profesi dan sumber penghidupan agar mereka tak terjerumus dalam hal negatif.

“Ada kurungan sebagai simbol untuk si kecil memilih jalan hidupnya. Tentu, kurungan ini sebagai simbol jika orang tua harus tetap mendampingi anak agar tetap dalam koridor professional dan baik,” jelasnya.

Hingga tahapan mandi air suci, Hendra masih terus mendampingi. Sembari menjelaskan berbagai filosofi kepada keluarga dengan bahasa Jawa, ada makna magis dari memandikan anak dengan air suci dari 7 mata air terdekat yang disebut dengan air gege.

Si kecil diharapkan bisa menjadi pribadi yang tetap suci meski dia telah menapaki kehidupan. Sehingga, karakter manusianya nanti bisa menjadi teladan yang baik bagi sekitarnya.

Sementara itu, ada lagi tahapan soal mubeng atau memutari lokasi sebanyak satu kali. Hendra menjelaskan, satu kali putaran ini menunjukkan jika manusia juga hanya akan menjalani kehidupan sekali. Artinya, si kecil nanti perlu diingatkan bahwa setiap manusia hanya akan hidup sekali di dunia.

Tahapan akhir, si orang tua kemudian harus menyebarkan koin udhik-udhik hingga kedhuk tumpeng sebagai bentuk sedekah. Hendra menyebut, sedekah ini bukan sebatas simbol saja melainkan ada uang sungguhan yang disebar hingga tumpeng yang disediakan oleh para orang tua.

“Ya, itu uang sungguhan. Bentuknya bisa koin atau uang lembaran. Nantinya orang-orang terdekat atau tamu yang hadir, bisa mengambil,” jelasnya.

Dari banyaknya tradisi dan upacara adat lainnya, tedhak siten memang terasa begitu istimewa dan magis. Selain mengenalkan tahapan hidup kepada si kecil, upacara ini menekankan pentingnya kepedulian dan pendampingan orang tua di masa kini untuk terus memantau perkembangan si kecil.

Bahkan menurut Hendra, tedhak siten ini merupakan salah satu upacara adat yang visioner. Hendra menyebut jika warisan nenek moyang Suku Jawa soal menjadikan generasi mereka manusia beradab dan berkualitas ini memang terbukti telah dilakukan sejak zaman dulu.

Tedhak siten ini adat Jawa yang visioner. Dia memandang generasi itu sebagai hal yang istimewa. Tujuannya, tidak lain agar si bayi ini nantinya bisa tumbuh menjadi manusia yang bisa hidup dengan sekelilingnya,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *