catrawarta.com — Nama Solo sering dikaitkan dengan bakso, sementara Malang terkenal lewat bakso Malang. Namun Wonogiri memiliki alasan berbeda hingga berani mendeklarasikan diri sebagai Ibu Kota Mi Ayam dan Bakso.
Tak tanggung-tanggung, deklarasi ini bahkan dikukuhkan dalam Festival Mi Ayam Bakso Wonogiri 2026 yang berlangsung di Alun-alun Giri Krida Bakti, 3 hingga 4 Juli 2026 kemarin.
Di puncak acaranya, panitia turut menyediakan lebih dari 5 ribu porsi mi ayam dan bakso gratis kepada masyarakat di sekitar. Tujuannya, tak lain untuk memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Bupati Wonogiri Setyo Sukarno menilai, festival ini adalah upaya untuk mengukuhkan identitas Wonogiri di bidang kulier daerahnya. Menurutnya, keberhasilan Wonogiri mencetak identitas ini tak lepas dari peran para ribuan perantau asli yang telah sukses melebarkan sayap ke berbagai penjuru dengan usaha mi ayam dan bakso, dari yang paling sederhana hingga level restoran.
“Festival ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat identitas kuliner khas Wonogiri melalui mie ayam dan bakso,” ujar Bupati Wonogiri Setyo Sukarno.
Dengan kesukesan gelaran tahun ini, Pemerintah Kabupaten Wonogiri bisa berharap jika Festival Mi Ayam Bakso bisa dipatenkan menjadi agenda tahunan resmi. Selain memperkuat identitas Wonogiri sebagai pusat kuliner mi ayam dan bakso, festival ini rasanya juga bisa meningkatkan perputaran ekonomi di sekitar wilayah Wonogiri.
Sejarah Bakso & Mi Ayam Wonogiri

Bakso dan mi ayam asli Wonogiri ini memang punya sejarah tersendiri. Jejaknya sudah membentang sejak sebelum Republik Indonesia berdiri. Semua hal tersebut bermula dari struktur geografis Wonogiri berupa alam karst yang membentang di setiap sudut daerahnya.
Tanahnya tak mampu menampung pertanian padi secara optimal. Sehingga, masyarakatnya tak memungkinkan menjadikan pertanian sebagai satu-satunya sumber pendapatan.
Dengan tekad yang kuat demi nasib lebih baik, sebagian besar warga setempat lantas memberanikan diri untuk merantau di sekitar Ibukota Jakarta dan hingga Jawa Barat. Mereka nekat menjajakan bakso dan mi ayam yang diajarkan turun temurun.
Soal resep, pertama kali mereka disebut mendapatkannya dari orang-orang Tionghoa saat merantau ke Solo, demikian seperti yang diceritakan sejarawan Universitas Sanata Dharma, Heri Priyatmoko. Mereka yang bekerja di warung-warung Tionghoa kemudian mulai mempelajari cara membuat mi hingga mengadaptasi bakso yang dulunya merupakan campuran dari daging babi.
Sebagai variasinya, mereka para pekerja asal Wonogiri ini mengubah campurannya menggunakan tepung dengan dominasi daging sapi. Saat pulang ke kampung halaman atau merantau ke kota lain, mereka membawa serta keahlian tersebut.
Penyebaran bakso dari Wonogiri pun dimulai sejak pasca-kemerdekaan. Saat terjadi urbanisasi besar, di sana lah warga Wonogiri membawa serta pengalaman dan kemampuan mereka ke pelosok kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan sebagainya.

Tambah 14 Orang, Total 27 Tersangka Kasus Daycare Little Aresha Yogyakarta 