catrawarta.com — Selama ini, panggung seni rupa seolah memiliki hukum tidak tertulis dalam hal kritik. Sorotan tajam hampir selalu tertuju hanya pada karya dan kreatornya. Padahal, untuk mencapai ekosistem seni rupa yang sehat, berimbang, dan prospektif, kita butuh cara pandang yang lebih luas. Dominasi satu pihak atau pemusatan otoritas tertentu pada segelintir elemen saja adalah hambatan nyata bagi kemajuan seni itu sendiri.
Mestinya, sasaran kritik seni tidak boleh berhenti pada ujung kuas seniman saja. Selaku para ‘pemain’ di panggung tsb, elemen lain seperti galeri, institusi pendidikan seni, hingga kurator juga harus siap dalam posisi ‘terdakwa’. Tanpa kritik terhadap institusi dan pemegang kebijakan seni, ekosistem kita akan stagnan dan hanya menjadi ladang kepentingan sepihak yang tidak pernah dipertanyakan keabsahannya.
Tidak berhenti di situ, penulis seni, balai lelang, dan mekanisme pasar seni juga perlu dibedah secara kritis. Bagaimana mereka menentukan harga atau membangun narasi sebuah karya adalah proses yang dapat memengaruhi wajah seni rupa secara keseluruhan. Jika elemen-elemen tsb berjalan tanpa pengawasan publik, maka ketimpangan nilai dlm pasar seni tidak akan pernah dapat dihindari.
Media massa, baik online maupun offline yang memiliki rubrik seni, juga memegang tanggung jawab besar. Seringkali media hanya menjadi corong promosi tanpa filter kritis, dengan hanya memberitakan event pameran yang ditulis oleh wartawan yang minim literasi seninya. Kolektor dan bahkan para kritikus itu sendiri pun tidak boleh luput dari sorotan. Setiap elemen yang terlibat dalam ekosistem tsb perlu selalu disoroti dalam menjalankan peran dan fungsinya agar tidak terjadi penyalahgunaan kuasa.
Tujuan utama dari distribusi kritik ini adalah sebagai bentuk kontrol sosial. Kita harus mencegah terjadinya kesewenang-wenangan oleh pihak yang merasa memiliki otoritas atau kuasa penuh di panggung seni. Tanpa adanya checks and balances, ekosistem seni rupa dapat terjebak dalam praktik oligarki seni yang tertutup dan eksklusif bagi kalangan tertentu saja.
Hal yang lebih menarik adalah ketika antar kritikus seni mulai saling mengkritik. Fenomena ini dapat menciptakan polemik yang sehat dan dinamis. Pertukaran argumen antar pemikir seni akan memberi pencerahan pada publik, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penonton pasif, melainkan dapat memahami kompleksitas yang terjadi di balik layar panggung seni rupa.
Di era digital dan media sosial saat ini, pintu untuk melakukan kritik terbuka sangat lebar. Interaksi terjadi secara instan dan respons dapat diterima dalam hitungan detik. Tidak ada lagi sekat kaku yang membatasi seseorang untuk bersuara. Pihak pengkritik dan yang dikritik dapat langsung beradu argumen secara transparan di hadapan publik pengguna internet.
Kebebasan ini jauh berbeda dengan era 90-an ke bawah, di mana kritik harus mengantre panjang untuk diterbitkan oleh media cetak. Saat ini, siapa pun dapat menjadi subjek sekaligus objek kritik. Masalah kualitas konten dan kekuatan argumen adalah hal lain; nantinya publik atau netizen yang akan menilai apakah sebuah tulisan adalah kritik membangun atau sekadar nyinyiran tidak berdasar.
Memang ada persoalan klasik dalam jagat digital: menulis atau berpolemik di media sosial tidak menghasilkan honorarium. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi kualitas literasi seni kita. Akhirnya, hanya orang-orang yang punya kesadaran dan kepedulian tinggi terhadap seni rupa saja yang mau dan bersedia meluangkan waktunya untuk melakukan tugas “menjaga” ekosistem ini.
Zaman dan teknologi telah berubah secara radikal. Kita tidak lagi dapat terlalu berharap pada ruang sempit di media cetak untuk menampung pemikiran seni. Selain banyak media cetak yang tumbang, media cetak yang masih memiliki rubrik pada bahasan seni sudah dihapus. Perubahan ini menuntut keberanian kita untuk memanfaatkan platform baru sebagai ruang kritik yang lebih egaliter, inklusif, tajam, dan mampu menjangkau lapisan publik yang lebih luas dalam ekosistem seni rupa.
Purwosari, 5 Februari 2026

Bob Marley Melawan Ketidakadilan Lewat Reggae 