Catra Wisata

Sejarah Tamansiswa Dimulai dari Rumah Pertama Ki Hadjar Dewantara

catrawarta.com — Pagi itu, langkah puluhan anak muda menyusuri Jalan Gadjah Mada Yogyakarta terasa lebih pelan dari biasanya. Mereka datang bukan sekadar...

Group of people posing on steps outside a green building decorated with colorful banners for a community event indonesian flag in view
Sebagian peserta napak tilas berfoto di depan gedung tempat berdirinya Tamansiswa tahun 1922. Foto: Hary Sutrasno

catrawarta.comPagi itu, langkah puluhan anak muda menyusuri Jalan Gadjah Mada Yogyakarta terasa lebih pelan dari biasanya. Mereka datang bukan sekadar berjalan kaki, melainkan menelusuri jejak lahirnya gagasan besar tentang pendidikan Indonesia. Di depan sebuah bangunan tua bercat kusam nomor 26, rombongan mendadak berhenti. Rumah itu tampak sederhana, jauh dari kesan monumental. Namun justru di tempat itulah sejarah Tamansiswa bermula.

Para peserta napak tilas yang mayoritas mahasiswa berusia 18–25 tahun tampak terkesima ketika mendengar penjelasan pemandu. Bangunan yang berdiri sejak 1890 itu ternyata pernah menjadi tempat tinggal pertama Ki Hadjar Dewantara sepulang dari pembuangan di Belanda tahun 1919. Lebih dari itu, di rumah tersebut pula Perguruan Tamansiswa didirikan pada 3 Juli 1922.

“Rumah ini rumah keluarga kami. Kami mengetahui kisah itu dari cerita ibu dan kakak kami. Belakangan diperkuat lagi dari keluarga Ki Hadjar sendiri,” tutur Retno Wikaningtyas.

Ia menjelaskan, keluarganya memang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Ki Hadjar Dewantara melalui garis Paku Alaman III. Kakeknya, RM Brotosudirdjo, adalah saudara sepupu Ki Hadjar. Karena itu, rumah tersebut menjadi salah satu saksi perjalanan awal perjuangan RM Suwardi Suryaningrat—nama Ki Hadjar sebelum mengganti identitas kebangsaannya.

Group of students and adults conversing outside a decorated school entrance with colorful bunting and paper flowers
Pasangan pemilik gedung tempat pendirian Tamansiswa Wintono-Retno Wikaningtyas menjelaskan sejarah rumah Jalan Gadjah Mada 26. Foto: Hary Sutrasno

Kebenaran sejarah itu diperkuat oleh tokoh senior Tamansiswa sekaligus Ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta, Ki Priyo Dwiarso. Dalam Pekan Dewantara 2026, ia menegaskan bahwa Ki Hadjar memang pernah tinggal dan mendirikan Tamansiswa di rumah tersebut.

“Saya murid Ki Hadjar. Beliau pernah membenarkan sendiri bahwa sejak pulang dari Belanda tahun 1919 tinggal di rumah Jalan Tanjung No. 26,” tutur Priyo.

Kesaksian serupa datang dari drg. Widyawati, cucu Ki Hadjar Dewantara dari Ki Subroto Aryo Mataram. “Romo saya pernah bercerita, eyang memang tinggal dan mendirikan Tamansiswa di rumah itu,” katanya singkat.

Napak tilas yang digelar komunitas Cakra Dewantara itu menjadi bagian dari rangkaian Pekan Dewantara 2026. Perjalanan dimulai dari Pura Pakualaman, tempat Ki dan Nyi Hadjar dilahirkan dan dibesarkan. Dari sana peserta berjalan menuju rumah bersejarah di Jalan Gadjah Mada, lalu melanjutkan perjalanan ke makam keluarga Tamansiswa di Taman Wijaya Brata, sebelum akhirnya berakhir di Museum Dewantara Kirti Griya dan Majelis Ibu Pawiyatan Tamansiswa di Jalan Tamansiswa 25.

Di sepanjang perjalanan, peserta bukan hanya diajak mengenang tokoh besar, tetapi juga diajak memahami kegelisahan Ki Hadjar tentang pendidikan manusia Indonesia.

Ki Sutikno, mantan motivator Lemhannas dan salah satu penggagas Taman Pintar Yogyakarta, menilai pemikiran Ki Hadjar justru semakin relevan di tengah krisis karakter saat ini.

“Menurut Ki Hadjar, pendidikan karakter harus dimulai dari sportivitas atau swa disiplin, yaitu kemampuan memerintah diri sendiri,” ujarnya.

Ia juga menegaskan pentingnya menghidupkan kembali konsep Trikon Ki Hadjar – kontinyu, konvergen, dan konsentris. Pendidikan harus mampu mengikuti perkembangan zaman, terbuka terhadap dunia luar, namun tetap berakar pada kepribadian bangsa sendiri.

Sementara itu, Ketua Pekan Dewantara 2026, Febry Fajar Mabruroh, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan dirancang sebagai ruang belajar bersama. Mulai dari pameran, seminar, workshop, lomba dolanan anak, hingga napak tilas sejarah.

“Prinsip pendidikan Ki Hadjar adalah kemerdekaan dan kodrat alam. Anak harus dibiasakan merasakan kebebasan secukupnya agar batin, pikiran, dan tenaganya tumbuh merdeka,” jelasnya.

Di tengah hiruk-pikuk kota Yogyakarta yang terus berubah, rumah tua di Jalan Gadjah Mada No. 26 itu berdiri nyaris tanpa penanda besar. Namun dari tempat sederhana itulah lahir sebuah gerakan pendidikan yang kelak membentuk kesadaran kebangsaan Indonesia.

Sejarah kadang memang tidak dimulai dari gedung megah. Ia tumbuh pelan dari rumah sederhana, dari gagasan yang dirawat dengan keyakinan, lalu diwariskan lintas generasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *