catrawarta.com — Pagi masih basah oleh embun ketika warga mulai memadati lapangan Sribit Desa Wonolelo Wonosobo. Mulai, Minggu (22/3/2026) Dinas Pariwisata Kabupaten Wonosobo menggelar Festival Mudik Balon Udara yang digelar di berbagai desa wilayah Kabupaten Wonosobo. Sejak pukul 06.00 WIB, satu per satu balon udara raksasa mulai mengembang, mengangkat harapan, doa, sekaligus kegembiraan pasca-Lebaran. Langit yang semula pucat perlahan berubah menjadi kanvas warna-warni.
Bagi masyarakat setempat, Festival Mudik Balon Udara bukan sekadar tontonan. Festival Balon adalah ritus sosial yang menandai pulang, berkumpul, dan merayakan hidup. Di satu lokasi, puluhan balon dengan beragam tema berdiri megah. Ada yang bergambar tokoh kartun, motif geometris, hingga pesan moral. Salah satunya datang dari Adi, warga Pucung Pandak, Desa Sidorejo Kecamatan Selomerto yang bersama tim beranggotakan 10 orang mengusung tema “jangan buang sampah sembarangan.” Balon itu dibuat dengan biaya sekitar Rp10 juta dari iuran dan donatur swadaya. “Ini bukan soal lomba. Hiburan kesenangan. Ini kebanggaan kampung,” ujarnya.
Jaman Belanda
Tradisi ini memiliki akar panjang. Sejak 1920-an, warga Wonosobo telah menerbangkan balon udara sebagai bentuk perayaan Lebaran. Sosok pelopornya dikenal sebagai Atmojo Goper dari Kecamatan Kertek, yang terinspirasi dari balon udara milik fotografer Belanda. Dari percobaan sederhana berbahan kertas krep mahal, tradisi ini berkembang menjadi warisan budaya yang hidup lintas generasi.
Perjalanan balon udara Wonosobo tidak selalu mulus. Pada 2015, festival sempat terhenti akibat kekhawatiran terhadap keselamatan penerbangan. Namun sejak 2017, tradisi ini kembali hidup dengan pendekatan baru, balon wajib ditambatkan, tidak lagi dilepas bebas ke angkasa. Regulasi ini menjadi titik temu antara pelestarian budaya dan keselamatan publik.
Direktur Utama AirNav Indonesia, Capt. Avirianto Suratno, menegaskan bahwa balon liar berpotensi mengganggu mesin pesawat dan sistem navigasi. “Tradisi harus tetap hidup, tetapi keselamatan penerbangan adalah harga mati,” ujarnya. Karena itu, sistem tambat bukan sekadar teknis, melainkan bentuk tanggung jawab sosial.
Estetika Pariwisata
Tahun ini, festival digelar selama 22–29 Maret di 23 titik lokasi. Jumlah ini meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya. Titik-titik seperti Kembaran, Karangluhur, hingga Alun-alun Wonosobo menjadi pusat keramaian. Aparat kepolisian pun memperketat pengawasan, memastikan setiap balon memenuhi standar keamanan—diikat minimal tiga tali dan tidak menggunakan bahan berbahaya.
Di balik kemeriahan, festival ini menyimpan dimensi sosial-budaya yang dalam. Akademisi dari Institut Seni Indonesia Surakarta, Dr. Bambang Sunarto, menyebut fenomena ini sebagai “estetika peristiwa.” Nilai seni tidak lagi terletak pada objek balon semata, melainkan pada pengalaman kolektif yang tercipta—gotong royong, kreativitas, dan interaksi warga dengan ruang publik.
Balon-balon itu juga dapat dibaca sebagai ekspresi sosial. Dalam perspektif James C. Scott, tradisi rakyat sering memuat “hidden transcripts” atau pesan tersembunyi—cara masyarakat mengekspresikan kegelisahan, kritik, atau sekadar pelepasan dari tekanan sosial. Maka, langit Wonosobo bukan hanya ruang estetika, tetapi juga ruang kebebasan simbolik.
Menggerakkan Ekonomi Desa
Sementara itu, filsuf Gaston Bachelard melihat fenomena ini sebagai bentuk “kemenangan imajinasi.” Ketika balon terangkat, manusia seolah ikut terangkat—melampaui beban bumi menuju kebahagiaan yang ringan. “Rasane plong kalau sudah lihat balon naik tinggi,” kata Slamet, warga setempat, sederhana namun sarat makna.
Festival ini juga berdampak ekonomi. Kehadiran ribuan pengunjung menggerakkan sektor informal—dari pedagang kaki lima hingga jasa parkir. Pemerintah daerah memanfaatkan momentum ini sebagai strategi wisata berbasis budaya, sekaligus pemerataan kunjungan ke desa-desa.
Puncak acara akan digelar pada 29 Maret di Alun-alun Wonosobo, diperkirakan dihadiri puluhan ribu orang. Namun sejatinya, puncak festival bukanlah pada jumlah balon atau keramaian semata, melainkan pada kesadaran kolektif. Tradisi bisa hidup berdampingan dengan aturan, bahwa kebebasan bisa tetap dirayakan tanpa melanggar batas. Di langit Wonosobo, balon-balon itu mungkin ditambatkan. Tetapi imajinasi, harapan, dan kebahagiaan warga—tetap terbang setinggi-tingginya.

MAKI Ingatkan KPK: Pemindahan ‘Silent’ Penahanan Yaqut Bikin Geregetan 