catrawarta.com — Jalan menanjak menuju Dieng selalu punya cara membuat orang jatuh cinta. Kabut tipis turun perlahan dari lereng gunung, udara menggigit kulit, sementara hamparan hijau pegunungan memanjakan mata sepanjang perjalanan. Namun di jalur perbatasan Temanggung–Wonosobo, ada satu alasan lain yang membuat orang rela berhenti sejenak. Aroma sup buntut dan sate jamur dari Dieng Kledung Pass Restaurant. Di tempat inilah wisata alam seolah bertemu dengan wisata rasa.
Restaurant yang menyatu dengan hotel tersebut berdiri tepat di jalur strategis wisata Dieng. Dari halaman restoran, pengunjung bisa menikmati panorama pegunungan sambil ditemani hawa dingin khas dataran tinggi. Tetapi begitu menu datang ke meja, perhatian segera berpindah dari lanskap alam menuju kehangatan semangkuk sup buntut yang mengepul pelan.
Owner restoran, Eunike Martanti, menyebut sup buntut sebagai salah satu menu istimewa yang paling dicari wisatawan. “Buntut sapi direbus 3–4 jam sampai kolagen dan sumsumnya lumer. Hasilnya kuah bening tapi rasanya nendang,” ujarnya.
Dan memang, sejak sendok pertama menyentuh lidah, rasa gurih kaldu langsung terasa tebal dan berlapis. Bukan jenis gurih yang kasar, melainkan lembut dan perlahan menetap di langit-langit mulut. Aroma pala, cengkeh, dan kayu manis muncul pelan, memberi sensasi hangat yang terasa pas dengan udara dingin Kledung.
Potongan buntut sapinya empuk nyaris lepas dari tulang. Urat dan lemaknya menghadirkan tekstur lembut sekaligus sedikit kenyal yang justru membuatnya terasa nikmat. Sementara sumsum di dalam tulang menjadi “harta karun” tersendiri—creamy, legit, dan kaya rasa.
Sup itu makin sempurna ketika disantap bersama nasi putih panas. Kuah kaldu yang disiram ke atas nasi menciptakan kombinasi sederhana tetapi mematikan. Emping melinjo menghadirkan sensasi kriuk yang memotong rasa gurih, sementara perasan jeruk nipis dan sambal rawit memberi ledakan rasa segar dan pedas.
Menariknya, di tengah dominasi menu hangat khas pegunungan, restoran ini justru menghadirkan satu menu yang tak kalah mencuri perhatian: sate jamur.
Sekilas terdengar sederhana. Namun di tangan dapur Dieng Kledung Pass Restaurant, jamur berubah menjadi sajian yang membuat banyak pengunjung lupa bahwa mereka sedang tidak makan daging.
Jamur tiram yang disuwir memiliki tekstur kenyal menyerupai suwiran ayam. Saat dibakar di atas arang, aroma smokey langsung keluar bersamaan dengan wangi kecap yang mulai terkaramelisasi di permukaannya. Gigitan pertama menghadirkan rasa gurih umami yang ringan, juicy, tetapi tetap kaya rasa. “Jamur itu pori-porinya besar, jadi gampang menyerap bumbu,” kata Mbak Nike.
Itulah sebabnya sate jamur di sini terasa begitu hidup. Bumbu kecap manis pedas meresap hingga ke dalam serat jamur. Sambal kacang menghadirkan rasa legit yang akrab di lidah, sementara sambal matah atau sambal kecap rawit memberi sentuhan segar dan pedas yang menggoda.
Yang paling menarik, sate jamur meninggalkan sensasi nyaman tanpa rasa berat di perut. Tidak ada aroma prengus seperti sate kambing, tidak pula rasa eneg berlebihan. Bahkan setelah sepuluh tusuk habis disantap, tubuh justru terasa hangat dan ringan.
Harga yang ditawarkan pun terasa bersahabat. Dengan belasan ribu rupiah, pengunjung sudah bisa menikmati seporsi sate jamur lengkap dengan lontong atau nasi hangat.
Di tengah maraknya wisata kuliner kekinian, Dieng Kledung Pass Restaurant tampaknya memahami satu hal penting: makanan bukan sekadar soal kenyang, tetapi tentang pengalaman rasa yang menyatu dengan suasana.
Maka tak heran bila banyak pelancong akhirnya singgah lebih lama di tempat ini. Sebab di antara dinginnya udara pegunungan Kledung, semangkuk sup buntut dan seporsi sate jamur ternyata mampu menghadirkan sesuatu yang lebih hangat daripada sekadar makanan: rasa pulang.

Warsito Ellwein: Buruh Berhak Miliki Saham, Jadi Fondasi Industri Nasional Mencapai Indonesia Emas 2045 