Catra Milenia

Mudah Tersinggung: Cermin Harga Diri yang Goyah

catrawarta.com — Masyarakat hari ini makin mudah tersulut. Kalimat biasa dianggap sindiran. Kritik ringan dibaca sebagai serangan. Candaan berubah jadi konflik. Mudah...

Woman in an olive green jacket gesturing with her hands as if explaining something against a plain light background
Ilustrasi seseorang yang mudah tersinggung. Sumber: Freepik.com

catrawarta.comMasyarakat hari ini makin mudah tersulut. Kalimat biasa dianggap sindiran. Kritik ringan dibaca sebagai serangan. Candaan berubah jadi konflik. Mudah tersulut bukan soal emosi sesaat—ini tanda ada sesuatu tidak beres pada cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Rasa tidak dihargai memang wajar. Tapi ketika perasaan itu menetap dan mendominasi, seseorang berubah menjadi bom waktu psikologis. Orang mulai merasa tak penting, tak didengar, tak dianggap. Ujungnya jelas: menarik diri, kehilangan percaya diri, bahkan jatuh ke gangguan mental.

Meriana Chandra, trainer pengembangan diri dari Probest Surabaya sebagaimana dilansir rri.co.id pro1 RRI Surabaya menegaskan akar masalahnya harga diri yang rapuh. “Orang yang mudah tersinggung itu terlalu sensitif. Ia merasa semua hal menyerangnya,” tegasnya.

Pernyataan ini keras, tapi relevan. Banyak orang bereaksi bukan karena realitas, melainkan karena luka lama yang belum selesai. Masa lalu—terutama soal keluarga dan ekonomi—sering jadi sumber rasa minder. Namun menjadikannya alasan untuk stagnan adalah kekeliruan fatal. “Harga diri tidak ditentukan oleh latar belakang. Itu hanya titik awal, bukan garis akhir,” ujar Meriana.

Masalahnya, banyak orang terjebak dalam mentalitas korban. Mereka menyimpan sakit hati, menyalahkan keadaan, lalu berhenti berkembang. Ini bukan refleksi—ini pelarian.

Pada sisi medis, fenomena ini juga punya penjelasan. dr. Diana Putri Veronica sebagaimana alokoder.com menyebut sensitivitas berlebih kerap dipicu stres, kecemasan, hingga depresi. Faktor fisik seperti kurang tidur, lapar, atau hormon tidak stabil juga ikut memperkeruh emosi. Bahkan dalam kasus tertentu, gangguan mental seperti bipolar atau intermittent explosive disorder (IED) bisa membuat ledakan emosi tak terkendali.

Namun ada satu faktor kunci yang sering diabaikan, yaitu ekspektasi yang tidak realistis. Banyak orang ingin selalu dihargai, dipahami, dan diakui. Saat itu tidak terjadi, mereka tersinggung. Padahal masalahnya bukan pada orang lain, melainkan pada standar yang terlalu tinggi dan tidak sehat.

Kebenarannya sederhana. Tidak semua hal tentang kita. Tidak semua komentar adalah serangan. Dan tidak semua ketidaksetujuan adalah penghinaan.

Di sinilah kedewasaan emosi diuji. Orang dengan harga diri kuat tidak mudah goyah. Ia tidak reaktif, tidak defensif, dan tidak merasa dunia berputar di sekelilingnya.

Meriana mengingatkan berhenti menyalahkan masa lalu. Itu tidak menyelesaikan apa pun. “Bangkit dan ubah hidup. Latar belakang adalah asal, bukan tujuan,” tegasnya.

Pesan ini jelas. Berhenti jadi korban, mulai jadi pelaku perubahan.

Mudah tersinggung bukan sekadar kebiasaan buruk. Itu peringatan keras bahwa ada luka batin yang belum selesai. Dan jika dibiarkan, ia akan merusak relasi, menggerus kepercayaan diri, dan menghambat pertumbuhan diri.

Di tengah dunia yang makin cepat dan keras, ketahanan emosi bukan pilihan—tapi keharusan. Karena pada akhirnya, harga diri yang sehat tidak dibangun dari pengakuan orang lain, melainkan dari keberanian menerima diri sendiri apa adanya—tanpa drama, tanpa ilusi. (Berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *