Catra Cendekia, Warta

Belajar dari RAy. Sutartinah: Perempuan di Balik Gagasan Besar

catrawarta.com — Pendapa Taman Siswa Yogyakarta siang itu tidak sekadar menjadi ruang seremoni. Pendapa Taman Siswa berubah menjadi ruang ingatan. Puluhan anak...

Group of students and teachers posing for a group photo in front of a pameran dewantara 2026 banner at an event venue all making hand signs
Anak muda dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta sebagai panitia Pekan Dewantara berfoto bersama. Foto: Hary Sutrasno

catrawarta.comPendapa Taman Siswa Yogyakarta siang itu tidak sekadar menjadi ruang seremoni. Pendapa Taman Siswa berubah menjadi ruang ingatan. Puluhan anak muda usia 18–25 tahun duduk bersila, sebagian bersandar pada tiang kayu tua, menyimak pembukaan Pekan Dewantara 2026 dengan suasana yang khidmat namun tetap hangat. Tidak ada gegap gempita berlebihan. Yang terasa justru kesadaran akan sejarah pendidikan Indonesia lahir dari kerja seorang perempuan, termasuk dari sosok yang sering luput disebut—Nyi Hadjar Dewantara yang memiliki nama asli RAy. Sutartinah.

Komunitas Cakra Dewantara tampaknya sengaja menggeser sorotan. Jika selama ini masyarakat lebih akrab dengan nama Ki Hajar Dewantara, maka forum ini justru menempatkan Nyi Hadjar Dewantara sebagai pusat cerita.

Ketua Cakra Dewantara, Shintia Putri, menyampaikan dengan lugas Nyi Hadjar bukan sekadar istri pendamping. Nyi Hadjar adalah fondasi. Ada empat fragmen penting yang diangkat. 

Pertama, keberanian RAy. Sutartinah menerima pinangan Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara –red) —yang saat itu berstatus narapidana politik dan dibuang ke Belanda. Keputusan itu bukan romantisme, melainkan pilihan sadar memasuki hidup penuh risiko.

Kedua, di negeri pembuangan, ia tidak bergantung. Saat pemerintah kolonial hanya menjamin hidup Suwardi, Sutartinah bekerja sebagai guru untuk menopang ekonomi keluarga. Sikap berdikari ini jarang disorot, padahal di situlah watak kemandirian dibangun.

Ketiga, ketika tekanan politik terus membayangi, justru Sutartinah yang mendorong perubahan arah perjuangan: dari politik praktis menuju pendidikan. Sebuah keputusan strategis yang kemudian melahirkan Perguruan Taman Siswa.

Keempat, saat Taman Siswa berdiri tanpa pamong, ia yang mengambil peran pertama. Bukan simbolik, tapi operasional.

Narasi ini diperkuat oleh sejarawan Tamansiswa, Priyo Dwiarso, yang berbicara dalam sesi talkshow. Ia tidak berbicara dari buku, melainkan dari pengalaman hidup—pernah tinggal satu halaman dengan keluarga Ki Hadjar.

Group of men and women in colorful traditional attire posing for a group photo on a stage with a banner behind them reading pameran 2026 and dates in indonesia
Narasumber, wakil Majelis Luhur, para kepala museum, wakil keluarga pahlawan nasional dan panitia berfoto bersama. Foto: Hary Sutrasno

Menurutnya, Nyi Hadjar adalah aristokrat yang memilih jalan sunyi. Ia tidak tampil menonjol, tetapi kehadirannya menentukan arah. Di Belanda, ia mengajar di lembaga pendidikan usia dini Frabel de Garten—sebuah institusi yang saat itu sudah menerapkan pendekatan pendidikan modern, dari pola top-down menuju bottom-up.

Di titik ini, analisis Priyo menarik: pengalaman Sutartinah kemungkinan menjadi salah satu sumber inspirasi bagi lahirnya sistem pendidikan Tamansiswa—sebuah antitesis terhadap pendidikan kolonial yang kaku, diskriminatif, dan jauh dari akar budaya.

Sejarah juga mencatat perjumpaan penting sepulang dari Belanda pada 1919. Ki dan Nyi Hadjar bertemu Ahmad Dahlan, yang mendorong lahirnya sekolah nasional. Dari situ, Taman Siswa berdiri. Bahkan, atas komunikasi antarperempuan—Sutartinah dengan Nyai Ahmad Dahlan—lahir pula pendidikan usia dini di Kauman.

Peran itu tidak pernah diumumkan dengan megafon. Ia bekerja dalam jejaring, dalam percakapan, dalam pengaruh.

Pengakuan paling jujur justru datang dari Ki Hadjar sendiri. Saat menerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Gadjah Mada tahun 1956, Ki Hadjar Dewantara berkata sederhana, “tanpa Nyi Hadjar, ia bukan siapa-siapa.”

Setelah seremoni, peserta bergerak ke Museum Dewantara Kirti Griya. Di sanalah narasi menjadi konkret. Mesin ketik tua, pakaian penjara, dan arsip tulisan “Als Ik Eens Nederlander Was” berdiri sebagai saksi bahwa perjuangan tidak lahir dari ruang nyaman. Hadir dan memberi sambutan Kepala Museum Kirti Griya Ki Murwanto & Cucu dari Putera Kedua Ki Hadjar Dewantara Purbo Wijoyo. Dalam kesempatan itu juga tampak hadir para Kepala Museum anggota Barahmus DIY, Wakil Ketua Majelis Luhur, senior dan alumni Taman Siswa, perwakilan keluarga pahlawan nasional, anggota dan masyarakat umum.

Namun yang terasa justru paradoks: benda-benda itu merekam Ki Hadjar, sementara jejak Nyi Hadjar lebih banyak hidup dalam cerita, ingatan, dan tafsir.

Pekan Dewantara 2026, seperti disampaikan Ketua kegiatan Febry Fajar Mabruroh, memang tidak didesain sebagai festival biasa. Ia adalah ruang belajar. Ada pameran, lomba dolanan anak, workshop, hingga napak tilas. Tapi inti dari semua itu sederhana: menghidupkan kembali gagasan sistem among—pendidikan berbasis kemerdekaan dan kodrat alam.

Di tengah arus pendidikan yang makin kompetitif dan serba terukur, gagasan ini terasa seperti kritik diam. Bahwa pendidikan bukan sekadar mencetak angka, tetapi membentuk manusia merdeka.

Dan dari seluruh rangkaian itu, satu hal menjadi terang: sejarah besar sering berdiri di atas peran yang tidak gaduh. Nyi Hadjar Dewantara adalah contoh paling jernih—bahwa perubahan tidak selalu datang dari panggung depan, tetapi dari keteguhan yang bekerja tanpa sorot.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *