catrawarta.com — Peran Universitas Gadjah Mada sebagai kampus kerakyatan tidak sekedar melahirkan riset di laboratorium. UGM menegaskan bahwa kampus kerakyatan menghadirkan juga solusi nyata bagi masyarakat desa.
Di Kalurahan Pandowoharjo Sleman, UGM sedang menanam fondasi menuju desa hijau mandiri berbasis energi terbarukan, pertanian cerdas dan pemberdayaan warga melalui pengembangan teknologi agrivoltaic smart farming.
Program ini dikembangkan melalui kolaborasi internasional bersama Solar Research Institute UiTM dengan fokus pada penerapan teknologi agro-voltaic hybrid yang memadukan pertanian hortikultura dengan pembangkit listrik tenaga surya. Inisiatif ini juga dirancang sebagai gerakan transformasi desa menuju kemandirian energi dan ekonomi berkelanjutan.
Spirit gotong royong menjadi napas utama program ini. Pembangunan teknologi masa depan tidak boleh tercerabut dari akar sosial masyarakat. Ini ditunjukkan dengan keterlibatan aktif Kelompok Wanita Tani (KWT), Pemerintah Kalurahan, BUMKal Amarta, Babinsa, Babinkamtibmas, hingga Badan Permusyawaratan Kalurahan.
Bahkan pihak kalurahan telah menyatakan komitmen penuh dengan menyiapkan personel untuk proses perakitan, pengoperasian, hingga perawatan sistem setelah instalasi selesai.
Ketua tim pengembang, Ahmad Agus Setiawan sebagaimana dikutip ugm.ac.id menjelaskan bahwa sistem PLTS hybrid berkapasitas 2,6 kWp tersebut dirancang untuk menopang kebutuhan irigasi cerdas dan mesin hilirisasi desa. Prototype dirakit di Laboratorium Energi Terbarukan Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM dengan melibatkan langsung warga desa agar transfer pengetahuan berjalan nyata, bukan sekadar slogan.
“Kami ingin teknologi ini benar-benar dimiliki masyarakat. Karena itu warga dilibatkan sejak awal, mulai perakitan hingga pemeliharaan,” ujarnya, Selasa (12/5).
Tak berhenti pada pemanfaatan energi surya, sistem ini juga akan diperkuat dengan kamera pengawas berbasis internet, sensor RiTx untuk membaca kondisi tanah dan cuaca secara real-time, serta teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) guna mendeteksi anomali sistem secara dini. Pendekatan ini diharapkan mampu menekan biaya perawatan sekaligus menjaga keberlanjutan operasional di tingkat desa.
Anggota tim sekaligus pakar teknologi pertanian dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Bayu Dwi Apri Nugroho menekankan bahwa kekuatan utama konsep agrivoltaic bukan hanya pada produksi listrik, tetapi juga kemampuan menciptakan mikroklimat yang mendukung produktivitas tanaman.
“Optimalisasi mikroklimat menjadi kunci agar panel surya tidak hanya menghasilkan energi, tetapi juga menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan tanaman hortikultura di bawahnya,” katanya.
Langkah strategis ini semakin diperkuat melalui kunjungan tim UGM ke Malaysia pada 5–9 Mei lalu. Dalam lawatan tersebut, rombongan melakukan studi pengelolaan energi surya skala besar di UiTM Large Solar Scale Park 2 di Gambang, Pahang, serta berdiskusi dengan para peneliti Universiti Putra Malaysia mengenai integrasi panel surya dengan peternakan dan tanaman pangan.
Kolaborator internasional, Nofri Yenita Dahlan mengingatkan pentingnya perencanaan matang dalam pembangunan sistem agrivoltaic agar produktivitas pertanian tetap optimal.
“Perencanaan agrivoltaic harus dilakukan secara presisi melalui simulasi energy yield dan analisis shading sehingga tanaman tetap tumbuh produktif,” jelasnya.

Perubahan Sosial Bikin Masyarakat Indonesia Alami Goncangan Budaya 