catrawarta.com — Pergolakan politik 1965 membawa dampak luar biasa bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Di sinilah awal mula ”bullying politik” yang sampai sekarang terus dipelihara. Bukan hanya oleh kekuasaan tetapi juga masyarakat yang Sebagian besar masih doyan dengan kekerasan.
Buktinya, setiap kali ada orang dengan kritis melakukan kritik pada kekuasaan atau pada pihak tertentu, akan sering keluar ungkapan ”dasar PKI”. Pemeliharaan ”bullying politik” ini bukan tanpa sebab.
Dalam relasi kuasa, mereka yang berada di atas pasti kan seenaknya pada mereka yang ada di bawahnya. Setelah Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) naik tahta, barulah ada upaya untuk menghapus jejak kelam ”bullying politik” meskipun belum bisa sepenuhnya berhasil.
Paling tidak, status ET (Eks Tapol) pada KTP sebagian masyarakat Indonesia sudah tak tercantum lagi. Mereka yang lahir jauh dari era 1965 pun terkena imbasnya. Anak cucu yang tidak tahu-menahu pun menyandang ET pada kartu identitasnya sebelum era Gus Dur.
Setia pada Jalan Kebenaran
Salah satu korban pergolakan tersebut, Soesilo Toer yang tak lain adik kandung sastrawan Pramudya Ananta Toer. Keduanya memiliki hobi yang sama, menyampaikan gagasan melalui tulisan. Sampai akhir hayatnya, Pramudya masih terus berkarya.
Soesilo yang kini masih sehat pada usia hampir 90 tahun – 17 Februari ini tepat 89 tahun – juga masih berkarya. Ia sudah menulis sekitar 100 judul buku. Pikirannya terus hidup dan menyala. Dengan menulis, ia mengasah daya nalar meskipun renta sudah menjelang.
Lulusan Uni Soviet (sekarang Rusia) tersebut pernah menjalani hidup sebagai pemulung. Meskipun bergelar doktor, tak mudah baginya memperoleh pekerjaan. Hampir semua nama yang dianggap berhimpitan dengan peristiwa 1965 dipersulit dalam segala hal.
Kendati demikian, Soesilo tak menyerah. Ia bisa hidup asal mau bergerak, jadilah pemulung. Kini, pekerjaan itu sudah tak lagi dijalaninya. Ia lebih banyak di rumahnya, Blora, Jawa Tengah, dan tetap setia menulis.
Menulis bagi Soesilo tak sekadar menuangkan pena di atas kertas. Menulis menjadi salah satu cara menjaga kewarasan pada jalan kebenaran. Setiap kalimat yang ia sampaikan selalu penuh makna. Selamat menjelang ulang tahun Soesilo Toer.

Pameran Karya Foto Internasional, Mencakup Banyak Sisi 