Catra Cendekia

Prof Usi Sukorini: Jangan Anggap Remeh Nyeri atau Bengkak di Area Betis

catrawarta.com — Pakar kesehatan Prof Dr dr Usi Sukorini MKes SpPK Subsp HK(K) Subsp BDKT(K) dikukuhkan menjadi Guru Besar dalam bidang Ilmu...

Prof Usi Sukorini Saat Dikukuhkan

catrawarta.comPakar kesehatan Prof Dr dr Usi Sukorini MKes SpPK Subsp HK(K) Subsp BDKT(K) dikukuhkan menjadi Guru Besar dalam bidang Ilmu Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium pada Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM di Balai Senat UGM, Selasa (27/1/2026).

Acara itu bukan sekadar seremoni akademik, Prof Usi membawa pesan krusial bagi warga mengenai bahaya Deep Vein Thrombosis (DVT) atau penyumbatan pembuluh darah vena dalam yang sering menjadi penyebab kematian mendadak.

Dalam pidatonya yang berjudul ‘Pemeriksaan Laboratorium: Kunci Mengungkapkan Misteri Deep Vein Thrombosis di Indonesia’, ia membedah bagaimana DVT bekerja layaknya pembunuh senyap (silent killer). Banyak warga yang menganggap remeh nyeri atau bengkak di area betis, padahal bekuan darah tersebut bisa lepas dan menyumbat paru-paru yang berakibat fatal dalam waktu singkat.

Menurutnya, pemahaman warga terhadap risiko ini masih sangat minim, sehingga banyak kasus terlambat ditangani. “Banyak pasien merasa sehat-sehat saja, namun tiba-tiba mengalami sesak napas berat karena bekuan darah sudah menyumbat aliran ke paru-paru,” tuturnya.

Data yang dipaparkan Prof Usi pun cukup menggetarkan, di mana risiko DVT pada pasien rawat inap di Indonesia bisa mencapai angka 40,3 persen. Angka ini menunjukkan, hampir separuh pasien yang sedang dirawat di rumah sakit memiliki potensi mengalami komplikasi penyumbatan darah jika tidak dipantau dengan ketat.

Ia mengingatkan, kondisi ini bukan hanya urusan dokter, melainkan kewaspadaan bersama bagi keluarga pasien. “Risiko ini sangat nyata, terutama bagi pasien yang baru saja menjalani operasi besar atau mereka yang memiliki mobilitas terbatas selama perawatan,” jelasnya.

Selain pasien rumah sakit, Prof Usi juga memberikan peringatan kepada masyarakat umum yang memiliki gaya hidup kurang gerak, seperti sering melakukan perjalanan jarak jauh tanpa peregangan. Ibu hamil, lansia dan mereka yang memiliki riwayat genetik tertentu juga masuk dalam radar kelompok rentan yang harus lebih waspada.

Ia menekankan pentingnya bergerak aktif dan segera memeriksakan diri jika muncul gejala yang tidak biasa pada anggota gerak bawah. “Duduk diam dalam waktu lama, baik di kantor maupun di kendaraan, tanpa disadari bisa menjadi pemicu awal terbentuknya gumpalan darah yang mematikan,” ungkap Prof Usi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *