Catra Cendekia

Pro Kontra Wajib Belajar 13 Tahun Dimulai dari PAUD

Rencana pemerintah menerapkan wajib belajar 13 tahun yang dimulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menuai beragam tanggapan dari kalangan pendidik.

Rencana pemerintah menerapkan wajib belajar 13 tahun yang dimulai dari jenjang pendidikan anak usia dini paud menuai beragam tanggapan dari kalangan pendidik
Anak-anak PAUD dan TK Nuraini Yogyakarta belajar musik gamelan. (dok PAUD/TK Nuraini Yogyakarta)

catrawarta.comRencana pemerintah menerapkan wajib belajar 13 tahun yang dimulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menuai beragam tanggapan dari kalangan pendidik.

Guru PAUD di Bojonggede, Kabupaten Bogor, Layla Mestika Pertiwi, mengaku kurang setuju apabila pendidikan PAUD diwajibkan bagi seluruh anak di Indonesia.

Menurutnya, PAUD atau preschool pada dasarnya merupakan wadah bagi anak untuk belajar bersosialisasi dengan teman sebaya maupun orang dewasa di lingkungan sekolah, seperti guru, petugas kebersihan, dan tenaga pendidik lainnya.

“Basically PAUD atau preschool lebih menjadi wadah bagi anak untuk bertemu dan bersosialisasi dengan teman sebaya maupun orang yang lebih tua seperti guru, petugas kebersihan, dan lainnya,” kata Layla kepada catrawarta.com, Senin (13/7/2026).

Ia menilai anak usia PAUD membutuhkan perhatian dan pengawasan yang sangat intensif dari guru. Menurutnya, jumlah peserta didik yang terlalu banyak berpotensi menyulitkan guru dalam mengawasi aktivitas anak-anak selama di kelas.

“Pasti bakal kecolongan kalau ada anak yang memukul atau mencubit temannya karena gemas. Kalau terlambat sedikit mengawasi dan ada anak yang terluka, orang tua pasti bertanya mengapa tidak dicegah,” ujarnya.

Group of children in a shaded hall sit on the floor displaying tall colorful trophy towers
Anak-anak PAUD bermain musik angklung. (dok PAUD/TK Nuraini Yogyakarta)

Layla menambahkan, anak usia dini merupakan kelompok usia emas yang sangat mudah menyerap berbagai hal dari lingkungan sekitarnya. Karena itu, ia menilai peran orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak tidak dapat digantikan oleh lembaga pendidikan.

Menurutnya, orang tua perlu menanamkan nilai-nilai dasar seperti sopan santun, perilaku, kejujuran, serta berbagai kemampuan fundamental lainnya sebelum anak memasuki lingkungan sekolah.

“Jika anak sudah mendapatkan pendidikan dasar dari orang tua, mereka akan lebih siap bermain dengan teman tanpa memaksa, menjadi pribadi yang jujur, mengakui kesalahan, dan mampu membela diri tanpa menyakiti anak lain,” katanya.

Selama berada di PAUD, lanjut Layla, pendidikan yang telah diberikan orang tua kemudian diperkuat dan dikembangkan melalui berbagai aktivitas pembelajaran seperti pengembangan motorik dan kognitif, bermain peran, belajar berdoa, hingga pelatihan kemandirian seperti menggunakan toilet.

Ia juga menyoroti masih rendahnya kesejahteraan guru PAUD di Indonesia yang menurutnya belum mendapatkan penghargaan yang layak.

“Menurut saya, PAUD lebih baik tetap bersifat opsional. Meskipun preschool banyak diisi kegiatan bermain, anak tetap membutuhkan kesiapan sebelum masuk sekolah,” ujarnya.

Teacher in hijab and glasses taking a selfie with four smiling children in red and yellow uniforms outdoors
Kepala PAUD dan TK Nuraini Yogyakarta, Farida Nur Setiyowati. (dok pribadi)

Berbeda dengan Layla, Kepala PAUD dan TK Nuraini Yogyakarta, Farida Nur Setiyowati, mendukung rencana pemerintah memasukkan PAUD ke dalam program wajib belajar 13 tahun.

Menurut Farida, setiap anak seharusnya mendapatkan kesempatan mengikuti pendidikan PAUD minimal selama satu tahun sebelum memasuki jenjang Sekolah Dasar (SD).

“PAUD sangat penting karena pada usia ini anak memiliki kemampuan menyerap pengetahuan yang sangat tinggi, bahkan mencapai sekitar 80 persen. Akan lebih baik jika anak-anak mendapatkan pendidikan sejak usia dini,” kata Farida kepada catrawarta.com.

Ia menilai pengalaman belajar di PAUD akan membuat anak lebih siap saat memasuki pendidikan dasar, baik dari sisi akademik maupun perkembangan sosial dan emosional.

Menurutnya, anak yang langsung masuk SD tanpa melalui PAUD berpotensi memiliki fondasi belajar yang kurang kuat karena belum memperoleh berbagai keterampilan dasar secara konkret.

“Di PAUD, guru membantu membangun kemampuan motorik, sosial, dan emosional anak agar benar-benar siap mengikuti pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi,” ujarnya.

Farida menambahkan, tuntutan pembelajaran di SD saat ini semakin tinggi dengan beragam mata pelajaran yang harus dikuasai siswa sejak dini.

“Di SD anak langsung berhadapan dengan proses pembelajaran yang lebih formal dan juga berinteraksi dengan anak-anak yang usianya lebih besar. Jika belum siap secara emosional, anak akan kesulitan beradaptasi,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *