catrawarta.com — Remaja hamil dan melahirkan memilki risiko tinggi. Mulai dari preeklamsia, kelahiran prematur, hingga risiko kematian ibu dan bayi.
Staf pengajar Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Al-Irsyad Cilacap, Pri Hastuti MKeb. Ia juga mengingatkan pentingnya perencanaan keluarga serta rekomendasi usia ideal pernikahan sebagaimana dianjurkan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
Dalam paparannya bertajuk Kesehatan Reproduksi Perempuan di depan peserta diskusi di Fakultas Peternakan UGM, ia membagikan pemahaman komprehensif mengenai kesehatan reproduksi perempuan dari masa remaja hingga menopause.
”Kesehatan reproduksi bukan sekadar terbebas dari penyakit, tetapi mencakup kondisi fisik, mental, dan sosial yang utuh. Mengacu pada definisi World Health Organization (WHO), kesehatan reproduksi berkaitan dengan seluruh aspek sistem reproduksi, fungsi, serta prosesnya,” papar Pri Hastuti.
Pahami Kondisi Tubuh Sendiri
Ia minta perempuan memahami tubuhnya sejak dini, mulai dari masa pubertas, menstruasi, hingga fase menopause. Ini penting agar setiap perempuan mampu menjaga dan mengambil keputusan terbaik terkait kesehatan reproduksinya.
Pri Hastuti juga memaparkan proses fisiologis pubertas, menarche, hingga siklus menstruasi, termasuk peran hormon seperti estrogen dan GnRH dalam mengatur sistem reproduksi.
Peserta juga mendapatkan pemahaman tentang perubahan anatomi dan fisiologi yang terjadi pada remaja perempuan serta pentingnya kesiapan biologis, psikologis, dan sosial sebelum memasuki usia pernikahan.
Tingkatkan Kesadaran Perempuan
Tak hanya membahas remaja, materi juga mencakup persoalan kesehatan reproduksi yang kerap dialami perempuan dewasa, seperti gangguan haid, infeksi menular seksual (IMS), infertilitas, hingga perubahan fisik dan psikis pada masa menopause.
Edukasi ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran perempuan untuk melakukan deteksi dini dan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen DWP Fapet UGM dalam meningkatkan kapasitas dan literasi kesehatan bagi anggota. Mereka juga bisa menjadi agen edukasi di lingkungan masing-masing.

Dinpar DIY Gelar Bimtek V, Pengelola Desa Wisata Antusias 