Catra Cendekia

“Kuliah Membentuk Frame Berpikir”

catrawarta.com — Pertanyaan tentang seberapa penting perguruan tinggi – terutama bagi mereka yang telah lama berkecimpung sebagai praktisi di lapangan- selalu muncul...

Eko Prayitno - Founder Pesona Cipta Grup. Foto: M.Dhiyaul Haq

catrawarta.comPertanyaan tentang seberapa penting perguruan tinggi – terutama bagi mereka yang telah lama berkecimpung sebagai praktisi di lapangan- selalu muncul berulang. Apakah kuliah benar-benar dibutuhkan oleh seorang pengusaha atau profesional lapangan? Ataukah kampus hanya berfungsi sebagai ruang legitimasi sosial baik menambah gelar, branding personal, atau sekadar validasi simbolik?

Di satu sisi, dunia praktik kerap bergerak lebih cepat dibanding dunia akademik. Seorang pengusaha yang telah membangun usaha bertahun-tahun, mengelola risiko, membaca pasar, dan memimpin organisasi, sering merasa bahwa pengalaman lapangan telah memberinya “ilmu yang sesungguhnya”. Waktu, energi, dan biaya yang dihabiskan untuk kuliah dipandang sebagai opportunity cost yang sebenarnya bisa dipakai untuk memperluas usaha, memperdalam jejaring, atau mengembangkan inovasi bisnis.

Pandangan ini tidak sepenuhnya keliru. Banyak tokoh besar lahir tanpa gelar akademik tinggi. Realitas lapangan sering kali menuntut hal-hal yang tidak diajarkan di ruang kelas misalnya terkait ketajaman insting, keberanian mengambil keputusan, serta kepekaan kontekstual. Di sisi lain kuliah direduksi menjadi formalitas, ijazah sebagai alat legitimasi bukan sebagai proses pembelajaran substantif.

Sejumlah pemikir pendidikan, dari Pierre Bourdieu hingga Martha Nussbaum, menekankan bahwa pendidikan tinggi bukan sekadar transmisi keterampilan teknis, melainkan proses pembentukan kerangka berpikir—cara melihat masalah, menyusun argumen, membaca struktur, dan mengambil keputusan secara reflektif. Kampus, dalam idealitasnya, adalah ruang di mana pengalaman dipertemukan dengan teori, praktik diuji oleh konsep, dan intuisi dipertajam oleh metodologi.

Dalam konteks ini, perguruan tinggi tidak dimaksudkan untuk “mengajari” praktisi dari nol, melainkan membantu mereka memahami apa yang selama ini mereka kerjakan. Banyak praktisi yang sukses secara intuitif, tetapi kesulitan menjelaskan, mereplikasi, atau mengembangkan keberhasilannya ke skala yang lebih besar karena tidak memiliki kerangka konseptual yang mapan.

Eko Prayitno, Founder Pesona Cipta Group, yang ditemui beberapa waktu lalu menyampaikan pendapatnya. Meski berangkat dari pengalaman panjang sebagai pengusaha dan praktisi di lapangan, Eko tidak memandang kuliah sebagai sekadar alat branding. Baginya, pendidikan tinggi—bahkan hingga jenjang S2—adalah ruang untuk merapikan cara berpikir, menyusun logika pengambilan keputusan, dan memahami bisnis secara lebih sistemik.

Pilihan Eko menempuh Magister Manajemen di Universitas Gadjah Mada bukan karena kekurangan pengalaman, melainkan karena kesadaran bahwa pengalaman tanpa refleksi berisiko stagnan. Dunia usaha tidak hanya berhadapan dengan pasar, tetapi juga dengan tata kelola, kebijakan publik, dinamika sumber daya manusia, hingga etika. Semua itu membutuhkan kemampuan analitis yang tidak selalu tumbuh secara otomatis dari praktik semata.

Tentu, ini tidak berarti bahwa semua praktisi harus kuliah, atau bahwa gelar akademik menjamin kualitas seseorang. Pendidikan tinggi juga memiliki keterbatasan misalnya seperti kurikulum yang tertinggal, dosen yang minim pengalaman lapangan, atau kultur akademik yang terjebak pada formalitas.

Ketika pendidikan diposisikan sebagai proses upskilling dan upscaling—bukan sebagai simbol status—ia menemukan maknanya. Kampus menjadi ruang dialog antara teori dan praktik, bukan menara gading yang terpisah dari realitas.

Pada akhirnya, keputusan untuk kuliah atau tidak memang sepenuhnya pilihan. Tidak ada jalur tunggal menuju keberhasilan. Tetapi sejarah kemajuan—baik individu maupun kolektif—menunjukkan bahwa pengetahuan yang dipelajari secara sadar dan terstruktur hampir selalu berkontribusi pada lompatan kualitas. Bukan semata untuk validasi, melainkan untuk memperluas horizon berpikir.

Dalam dunia yang semakin kompleks, pengalaman lapangan adalah fondasi, tetapi kerangka berpikir adalah kompas. Tanpa kompas, seseorang bisa terus bergerak, tetapi tidak selalu tahu ke mana ia melangkah. Dan di titik inilah, pendidikan—jika dijalani dengan kesadaran— memiliki peran yang tak tergantikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *