catrawarta.com — Salah satu tokoh Muhammadiyah yang namanya cukup berpengaruh di organisasi keagamaan ini adalah KH Mas Mansyur, Ia lahir di Surabaya, 25 Juni 1896 dan dikenal sebagai cendekiawan muslim moderat. Pada masa pergerakan kemrdekaan KH Mas Mansyur yang wafat pada 25 April 19426 ini pernah menjadi anggota BPUPKI dan bersama Bung Karno, Hatta serta Ki Hajar Dewantara, Mas Mansyur tergaung dalam empat serangkai pemimpin Putera.
Ayah Mas Mansyur bernama KH Mas Ahmad Marzuqi merupakan keturunan keraton Sumenep di Madura dan seorang khatib tetap di masjid Sunan Ampel di Surabaya. Sedangkan, ibunya bernama Raudhah, seorang wanita kaya yang berasal dari keluarga Pesantren Sidoresmo, Wonokromo, Surabaya.
Dari kedua orang tuanya inilah ia memiliki akar tradisi pesantren yang sangat kuat, sehingga hidup dalam suasana keagamaan dan adat yang begitu kental.
Saat masih anak-anak Mas Mansyur terbiasa melihat ceramah-ceramah KH. Ahmad Dahlan di Surabaya. Ia juga menimba ilmu dari Muhammad Thaha Ndresmo berlanjut ke pesantren Demangan Bangkalan, dan tidak luput pula belajar pada Kiai Khalil untuk mendalami Al Qur’an dan Kitab Alfiyah Ibnu Malik.
Kitab Kuning dan Tradisi Pesantren
Akrab dengan kitab kuning dan tradisi pesantren lainnya, pada tahun 1908, dirinya ada kesempatan beribadah haji dan bermukim untuk belajar di Mekkah kepada Kyai Mahfudz yang berasal dari Pesantren Termas, Pacitan. Di tanah suci Mansyur belajar Islam kurang lebih empat tahun dan kemudian pindah ke Mesir diterima di Fakultas Agama Universitas Al-Azhar.
Pada tahun 1921, Mas Mansyur masuk organisasi Muhammadiyah. Awalnya anggota biasa kemudian menjadi Ketua Cabang Muhammadiyah Surabaya, lalu menjadi Konsul Muhammadiyah Wilayah Jawa Timur.
Tahun 1927, ia dipercayai menjadi ketua Majelis Tarjih pertama. Puncaknya dalam Kongres Muhammadiyah ke-26 di Yogyakarta pada Oktober 1937, Mas Mansyur resmi ditunjuk menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah.
Alami Kemajuan Pesat
Di bawah kepemimpinanya, Persyarikatan Muhammadiyah mengalami kemajuan yang sangat pesat baik dalam dakwah, pendidikan, kaderisasi, maupun dalam pergerakan nasional.
Di masa kepimpinannya, ia banyak melakukan gebrakan politik yaitu dengan memprakarsai berdirinya Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI). Selain didominasi aktivis Muhammadiyah, dalam MIAI juga ada Hasyim Asy’ari dan Wahab Hasbullah yang keduanya tokoh Nahdlatul Ulama (NU).
Tak hanya itu, ia juga memprakarsai berdirinya Partai Islam Indonesia (PII) tahun 1938 bersama Sukiman Wiryasanjaya. Menurut sebagian kalangan, pendirian ini dilakukan sebagai perimbangan atas sikap non-kooperatif dari Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII).
Pada 19 Maret 1939, Mas Mansyur dan R. Wiwoho mewakili partai tersebut untuk mendirikan Gabungan Politik Indonesia (GAPI) bersama kaum pergerakan kebangsaan di Jakarta.
Sebagai organisasi federasi partai politik, GAPI secara aktif menuntut kepada Hindia Belanda untuk menerapkan pemerintahan demokratis bagi Indonesia.
Berdasarkan anggaran dasar organisasinya, GAPI memiliki tujuan untuk menyatukan partai politik Indonesia dalam perjuangan kedaulatan pemerintahan Indonesia; Demokratisasi pemerintahan Indonesia, mencegah konflik antar partai politik Indonesia dalam melakukan perjuangan kemerdekaan.
Saat Kemerdekaan
Saat kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, gelombang semangat meliputi seluruh orang di Tanah Air. Mulai dari akar rumput hingga pimpinan negara. Di tengah pecahnya perang Kemerdekaan, di Surabaya bagian utara, Mas Mansyur memimpin barisan pemuda melawan militer Belanda. Kondisi raga yang sakit tidak memungkinkannya untuk melawan secara frontal. Saat itulah, ia ditangkap pihak musuh dan ditahan.
KH Mas Mansyur wafat di tahanan pada tanggal 25 April 1946. Sang ulama sekaligus negarawan ini menghadap Allah sebelum usianya memasuki setengah abad. Jenazahnya dimakamkan di Gipo, Surabaya. Ia dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 26 Juni 1964.
Teladan untuk Generasi Sekarang
Banyak teladan yang bisa diambil dari sosok KH Mas Mansyur , diantaranya adalah semangat belajar dan literasi yang tinggi. Ia pribadi yang haus belajar dan banyak menimba ilmu dari sejumlah ulama. Selain itu, ia juga memiliki pemikiran maju, terbuka dan inovatif. Diantaranya, ia mampu memadukan tradisi pesantren dengan ide-ide modernisme Islam.e
Tak hanya itu, kecintaan Mas Mansyur terhadap tanah air tak perlu diragukan. Ia ikut terlibat melawan penjajah, ikut merumuskan dasar negara. Bahkan, nama madrasah yang ia dirikan bernama Hizbul Wathan.
Ia juga dikenbal sebagai tokoh yang bijaksana, tegas namun moderat. Kemudian, Mas Mansyur juga selalu mengedepankan persatuan bangsa. Hal itu bisa dilihat dari pergaulannya dengan tokoh-tokoh bangsa lainnya. Dengan kata lain, integritas dan pengorbanan Mas Mansyur untuk bangsa tak perlu diragukan lagi. Semoga menjadi inspirasiu generasi sekarang. (Sumber: Muhammadiyah.or.id dan sejumlah sumber lain)

Pemkab Belu Belajar ke Bantul, Bidik Lompatan UMKM Berbasis Potensi Lokal 