catrawarta.com — Badan Riset san Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan sistem Space Weather Intelligent Forecasting System (SWx AI), sebuah platform berbasis AI yang dirancang untuk mempercepat dan meningkatkan akurasi prediksi cuaca antariksa.
Inovasi tersebut diperkenalkan dalam kegiatan LINEAR – Kolokium Mingguan Pusat Riset Antariksa bertema “Automating Space Weather Services with Agentic AI” yang digelar secara daring melalui zoom meeting.
Layanan cuaca antariksa selama ini masih dilakukan secara manual. Para peneliti harus memeriksa data numerik, membaca hasil simulasi komputer, hingga menganalisis citra Matahari dan grafik pengamatan yang kompleks. Selain memakan waktu, metode tersebut juga membuka kemungkinan terjadinya perbedaan interpretasi antarpeneliti.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Antariksa BRIN, Tiar Dani, sebagaimana siaran pers yang dikeluarkan BRIN di Bandung, Selasa (12/5/26) menjelaskan SWx AI dikembangkan berdasarkan kerangka kerja Space Weather Information and Forecast Services (SWIFtS). Sistem ini memanfaatkan teknologi large language model (LLM) yang bekerja layaknya asisten pintar dalam membantu analisis cuaca antariksa.
“SWx AI dapat secara otomatis mengambil data terbaru dari berbagai sumber, membaca hasil prediksi komputer, hingga menganalisis gambar pengamatan Matahari tanpa harus diperiksa manual oleh manusia,” ujar Tiar.
Dikatakannya, salah satu tantangan terbesar penggunaan AI dalam dunia riset adalah potensi munculnya “halusinasi AI” atau kesalahan analisis akibat model menghasilkan informasi yang tidak sesuai fakta. Karena itu, BRIN merancang SWx AI dengan sistem pengamanan khusus.
“SWx AI dirancang agar lebih aman dari kesalahan informasi dengan membatasi data yang dianalisis hanya pada rentang waktu tertentu, misalnya 24 hingga 72 jam terakhir, serta menggunakan aturan-aturan yang sudah ditentukan secara pasti dalam memprediksi kondisi antariksa di Indonesia,” jelasnya.
Kepala Pusat Riset Antariksa BRIN, Emanuel Sungging Mumpuni, berharap pengembangan SWx AI dapat memperkuat sistem layanan cuaca antariksa nasional agar lebih responsif dan efisien.
Sungging mengatakan, kehadiran SWx AI tidak hanya penting bagi kalangan peneliti, tetapi juga memiliki manfaat luas bagi akademisi, dunia industri, hingga masyarakat umum yang bergantung pada sistem komunikasi dan navigasi berbasis satelit.
“Melalui webinar ini, kami berharap SWx AI yang terhubung pada platform layanan cuaca antariksa SWIFtS dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini secara cepat dan efisien serta bermanfaat bagi berbagai pihak,” katanya.
Langkah BRIN mengembangkan SWx AI menunjukkan bahwa pemanfaatan AI di Indonesia mulai bergerak ke sektor strategis berbasis sains dan mitigasi risiko teknologi. Di tengah meningkatnya aktivitas Matahari dalam siklusnya beberapa tahun terakhir, kebutuhan terhadap sistem deteksi dan prediksi gangguan antariksa menjadi semakin mendesak.
Ke depan, pengembangan teknologi seperti SWx AI bukan hanya soal kecanggihan digital, melainkan bagian dari upaya menjaga ketahanan infrastruktur teknologi nasional di era modern yang semakin bergantung pada ruang angkasa.

Siswi SMA Kritik Juri Cerdas Cermat Tuai Pujian 