Catra Cendekia

Atap Genteng Bahaya untuk Daerah Rawan Gempa

catrawarta.com — Program gentengisasi perlu mendapat kajian lebih dalam. Pasalnya, genteng yang terbuat dari tanah atau semen sangat berbahaya pada daerah yang...

Ilustrasi rumah adat menggunakan atap seng atau sirap yang ringan.(Foto: istimewa)

catrawarta.comProgram gentengisasi perlu mendapat kajian lebih dalam. Pasalnya, genteng yang terbuat dari tanah atau semen sangat berbahaya pada daerah yang rawan gempa. Struktur bangunan harus kuat menopang beratnya genteng.

Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik UGM, Dr Ashar Saputra mengungkapkan hal itu. Menurutnya ada tiga aspek utama yang harus dipertimbangkan, yakni aspek teknis, sosial budaya, dan keberlanjutan. Ketiga aspek tersebut, kata dia, tidak bisa dipisahkan dalam perencanaan kebijakan pembangunan.

Pada aspek teknis, Ashar menjelaskan genteng dan seng memiliki karakteristik yang berbeda. Seng berbentuk lembaran sehingga dapat digunakan pada atap dengan kemiringan rendah, bahkan hingga sekitar lima persen, tanpa risiko kebocoran.

Genteng membutuhkan kemiringan atap tertentu agar dapat berfungsi dengan aman. Genteng umumnya baru aman digunakan pada kemiringan lebih dari 30 persen. Hal ini sebenarnya sudah menunjukkan adanya perbedaan teknis yang cukup mendasar.

Risiko Genteng dari Tanah

”Perbedaan berat material juga menjadi faktor penting yang harus dikalkulasikan. Genteng tanah liat, keramik, maupun beton pada umumnya memiliki bobot yang lebih berat dibandingkan seng. Konsekuensinya, struktur atap dan bangunan harus dirancang lebih kuat,” papar Ashar.

Ia menjelaskan, ketika bebannya besar, struktur harus mampu menahan. Saat terjadi gempa, massa yang besar juga meningkatkan risiko jika struktur tidak direncanakan dengan baik.

Menurutnya, seng yang relatif ringan juga memiliki risiko tersendiri, terutama ketika terjadi angin kencang. Karena itu, ia menekankan tidak ada material yang sepenuhnya tanpa risiko, karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Aspek teknis lain yang turut disorot yakni kemampuan material dalam merespons panas. Genteng yang berat cenderung lebih baik dalam meredam panas sehingga suhu di dalam bangunan terasa lebih sejuk.

Namun, kondisi tersebut tidak selalu ideal untuk semua wilayah. Di daerah pegunungan yang dingin, justru dibutuhkan rumah yang bisa memanen panas matahari agar bagian dalamnya hangat. Di situ, penggunaan seng bisa menjadi pilihan yang lebih sesuai.

Jangan Abaikan Aspek Budaya

Ia menegaskan, aspek sosial budaya juga tidak bisa diabaikan. Indonesia memiliki keragaman suku, budaya, serta kepercayaan yang memengaruhi bentuk dan material bangunan rumah. Ia mencontohkan di beberapa wilayah di Indonesia, masih terdapat kepercayaan bahwa orang yang masih hidup tidak boleh tinggal di bawah material yang berasal dari tanah.

Kepercayaan tersebut membuat masyarakat setempat memilih material atap selain genteng tanah. Hal itu bukan soal teknis atau estetika, tetapi keyakinan sosial budaya. Hal seperti ini tidak bisa diabaikan atau diseragamkan.

Desain rumah adat juga menjadi pertimbangan penting. Beberapa rumah tradisional, seperti Rumah Gadang di Sumatra Barat, Tongkonan di Toraja, atau rumah adat di Nias dan Papua, memiliki karakteristik tersendiri dalam bentuk atapnya.

Secara historis, bentuk tersebut memungkinkan penggunaan material seperti ijuk atau sirap yang lentur dan mudah dibentuk. Apabila menggunakan genteng yang berat dan kaku, itu akan menjadi tantangan tersendiri dan berpotensi menghilangkan karakter asli bangunan tradisional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *