catrawarta.com — Hari ini, 16 Maret adalah bertepatan dengan wafatnya seorang tokoh keturunan Arab yang mendapat gelar Pahlawan Nasional, yakni Abdur Rahman Baswedan atau biasa disapa AR Baswedan. Selain pejuang kemerdekaan dan diplomat, kakek Anies Rasyid Baswedan ini, juga dikenal sebagai seorang jurnalis dan sastrawan.
Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2018 atas jasa-jasanya yang luar biasa bagi bangsa dan negara. AR Baswedan adalah tokoh kunci yang menggagas integrasi warga keturunan Arab ke dalam Bangsa Indonesia. Pernah menjadi anggota BPUPK serta diplomat utama yang memperjuangkan pengakuan internasional pertama bagi kemerdekaan Indonesia dari Mesir.
Tokoh kelahiran Surabaya 9 September 1908 ini pernah mencetuskan Sumpah Pemuda keturunan Arab yang menegaskan, bahwa tanah air keturunan Arab adalah Indonesia. Selama menjadi wartawan, ia aktif di surat kabar Sin Tit Po dan Matahari dan memakai nama pena Ibn Hani Al Indonesia.
Ia dikenal memiliki kepribadian yang teguh, nasionalis dan berdedikasi tinggi terhadap persatuan bangsa Indonesia. Anak pasangan Awad Baswedan dan Aliyah binti Abdullah Jarhum ini, kakeknya bernama Umar bin Abubakar bin Muhammad bin Abdullah berasal dari keluarga syekh terpandang dari Syibam, Hadramaut.
Keluarga Pedagang
Keluarga Baswedan merupakan keluarga pedagang yang terkenal sebagai saudagar kaya di Surabaya. Bahkan, ayahnya adalah seorang konglomerat pada masanya. Ia tumbuh sebagai tokoh pergerakan nasional dengan didikan agama Islam yang kuat.
AR Baswedan menikah sebanyak dua kali, yakni dengan Seikhun pada 1925 dikaruniai 9 orang anak, dan Barkah dikaruniai 2 orang anak. Karena tuntutan pekerjaan, ia sempat pindah tempat tinggal ke beberapa daerah dengan mengajak seluruh anggota keluarganya.
Tahun 1980, ia menderita penyakit diabetes sehingga mengharuskannya menyuntikkan insulin ke tubuhnya setiap hari. Dengan keterbatasan tenaga yang dimiliki, ia tidak berhenti berkarya.
Namun, ia harus mengakhiri perjalanannya karena penyakit diabetes membawanya ke RSI Cempaka Putih Jakarta. Pada 16 Maret 1986, ia meninggal dunia dan disemayamkan di TPU Tanah Kusir Jakarta.
AR Baswedan mengawali pendidikannya di Madrasah Al-Khairiyah, yang lokasinya tidak jauh dari Masjid Ampel di Surabaya. Setelah itu, berpindah ke Madrasah Al-Irsyah di Jakarta. Namun, tak berselang lama, ia kembali ke Surabaya. Ketika sang ayah menderita penyakit dan melanjutkan pendidikan di Hadramaut School di Surabaya. Dari situlah ia belajar mengenai sastra Arab.
Mubaligh Muhammadiyah
Menginjak usia 12 tahun, AR Baswedan mengikuti kursus bahasa Belanda Nederlands Verbond untuk mempersiapkan diri menjadi pegawai pemerintah Hindia Belanda. Tahun 1925, ia tercatat sebagai mubaligh Muhammadiyah. Ia juga merupakan anggota Jong Islamieten Bond atau organisasi kaum pemuda Islam Indonesia terpelajar.
Semangatnya dalam menuntut ilmu mendorongnya mengikuti perkuliahan di Fakultas Arab IAIN Yogyakarta, untuk mendalami sastra Arab di usianya yang sudah menginjak 64 tahun. Namun, tidak sampai lulus ia memutuskan berhenti.
Atas ajakan dari temannya yang merupakan seorang keturunan Tionghoa nasionalis bernama Liem Koen Hian, AR Baswedan mengawali karier di dunia jurnalistik dengan bergabung dalam surat kabar Tionghoa berbahasa Melayu, yaitu Sin Tu Po pada tahun 1923. Surat kabar ini seringkali menyerukan kemerdekaan Indonesia.
Rata-rata rekan kerjanya merupakan aktivis Partai Tionghoa Indonesia. Hal ini menginspirasinya mendirikan Persatuan Arab Indonesia (PAI) di Surabaya. Hubungan antarsesama aktivis ini dimanfaatkan untuk menghina pemerintah kolonial di Surabaya.
Ketika Sin Tit Po mengalami kebangkrutan, AR Baswedan bersama rekannya dari PTI bernama Tjoa Tjie Liang berpindah ke surat akbar Soeara Oemoem, yang dipimpin dr. Soetomo. Namun, keduanya seringkali mendapat kecaman dari pemerintah Belanda karena dianggap sebagai bangsa asing.
Karena faktor keluarga, ia memutuskan pindah ke surat kabar Matahari di Semarang yang merupakan surat kabar nasionalis Tionghoa Melayu. Hanya bertahan selama satu tahun, pada 1935 ia mengundurkan diri. Ia memilih fokus mengurus organisasi PAI yang dibentuknya pada tahun 1934.
Itulah sekelumit tentang AR Baswedan yang banyak menginspirasi kalangan muda saat ini. Meski berasal dari keturunan Arab, namun rasa nasionalisme Indonesia begitu kuat dan sangat cinta tanah air Indonesia, yang tak perlu diragukan. (Dari berbagai sumber)

Mudik, Buku, dan Harapan Baru Literasi Anak 